Mengembangkan Indeks Literasi Dakwah di Indonesia
Riset SosialArtikel berjudul “Developing A Conceptual Model For a Da’wah Literacy Indeks (DLI)” merupakan karya Muhammad Choirin, Abdul Aziz Yahya Saoqi, Sopa, Fakhrul Adabi bin Abdul Kadir, Ahmad A’toa’ bin Mokhtar, dan Marlon Pontino Guleng. Tulisan tersebut terbit di Ulumuna: Journal oof Islamic Studies tahun 2024. Tujuan penelitian tersebut adalah mengembangkan model indeks literasi dakwah di mana buta aksara dakwah adalah penyebab utama maraknya praktik Islam di Indonesia. Pendekatan yang digunakan adalah analisis konten dan fokus pada diskusi kelompok untuk model kuantitatif. Selain itu, model kuantitatif Pearson dan Cronbach Alfa digunakan untuk menguji validitas dan realibilitas. Pengukuran yang dikembangkan terdiri dari dua dimensi dengan 10 variabel dan diukur dengan 39 indikator. Uji validitas menunjukkan nilai p kurang dari 0,05 dan uji reliabilitas lebih signifikan dari 0,60. Jadi, model tersebut valid dan reliabel. Terdapat empat sub bab dalam resume ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, pemahaman konseptual dakwah. Ketiga, literasi dakwah. Keempat, indeks literasi dakwah.
Pendahuluan
Dakwah berperan penting dalam mendukung pemerintah dalam mencapai peradaban manusia. Di Indonesia, dalam Undang-Undang Dasar 1945 disebutkan bahwa tujuan bersama kehidupan berbangsa dan bernegara adalah melindungi segenap bangsa Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut serta dalam usaha mewujudkan kemerdekaan dunia, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Oleh karena itu, dakwah dianggap fundamental dalam mewujudkan dasar negara Indonesia yang tertuang dalam Undang-Undang Dasar 1945. Pada tahun 2023, jumlah penduduk muslim di Indonesia mencapai 232,84 juta jiwa. Jumlah ini setara dengan 87,2% dari jumlah penduduk nasional yang mencapai 267 juta jiwa.
Namun, meskipun Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar, tingkat pendidikannya masih rendah. Indeks Pendidikan yang dirilis oleh Human Development Report 2017 menunjukkan bahwa Indonesia berada di peringkat ke-7 di ASEAN dengan nilai 0,622,7. Peringkat ini jauh di bawah Brunei, Thailand, dan Filipina. Sumber daya manusia Indonesia masih relatif rendah, bahkan masih kalah dibandingkan dengan negara-negara lain di ASEAN dalam hal pendidikan. Sebagai kewajiban yang mulia, maka dakwah hendaknya diarahkan sesuai dengan petunjuk Al-Quran dengan pemahaman yang mendasar. Dakwah dimaksudkan agar senantiasa berjalan sesuai dengan tuntunan yang dirumuskan dalam Al-Quran. Sudah sepantasnya pemeluk agama Islam menjadi umat yang memiliki tradisi gemar membaca. Budaya ilmu pengetahuan yang baik terbentuk dalam masyarakat Indonesia. Dakwah yang berhasil akan memenangkan inspirasi ketakwaan atas kejujuran, menuntun manusia kepada jati dirinya, dan mendorong terciptanya manusia yang sempurna.
Pemahaman Konseptual Dakwah
Dakwah sering dipahami sebagai seruan atau ajakan kepada individu untuk memeluk agama Islam. Selama seratus lima puluh tahun terakhir, dakwah muncul sebagai konsep yang menonjol dan berpengaruh dalam wacana sekaligus aktivisme Islam modern. Dakwah adalah hal yang fundamental dalam akidah Islam. Keberadaan dakwah akan menentukan terjaminnya nilai-nilai kemanusiaan, serta menghapuskan kediktatoran dan tirani dalam masyarakat. Dakwah tidak hanya terbatas pada upaya misionaris yang ditujukan kepada non-Muslim, tetapi juga mencakup upaya aktif untuk membujuk atau melibatkan sesama Muslim dalam ranah keagamaan dan terkadang ranah politik.
Literasi Dakwah
Literasi Dakwah merupakan konsep yang memiliki banyak sisi yang mencakup kapasitas holistik individu atau masyarakat untuk memahami, menafsirkan, dan terlibat secara efektif dengan prinsip, metode, dan tujuan Dakwah. Pada intinya, literasi dakwah mencakup beberapa komponen yang saling terkait, yang masing-masing memainkan peran penting dalam membentuk kecakapan individu dalam menyebarkan ajaran dan nilai-nilai Islam. Misalnya, pengetahuan tentang ajaran Islam merupakan pilar dasar, yang mencakup pemahaman yang mendalam tentang keyakinan, praktik, dan nilai-nilai fundamental yang bersumber dari Al-Quran dan Hadits. Selain itu, kecakapan dalam keterampilan komunikasi sangat penting, yang mencakup kemampuan untuk mengartikulasikan konsep-konsep Islam secara jelas, persuasif, dan dengan cara yang sesuai dengan konteks.
Perilaku etis menjadi dasar semua aspek literasi dakwah yang menekankan kepatuhan pada nilai-nilai normal, rasa hormat terhadap keyakinan orang lain, dan prinsip etika dalam semua aktivitas dakwah. Komponen literasi dakwah dibentuk dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk latar belakang pendidikan, lingkungan sosial, akses ke sumber daya, kemajuan teknologi, dan konteks budaya.
Indeks Literasi Dakwah
Komponen dan bobot indeks literasi dakwah pertama kali dikembangkan dari telaah karya-karya relevan dan diskusi intensif melalui FGD dengan tujuh pakar di bidang dakwah. Pendekatan tersebut berhasil membangun model indikator indeks literasi dakwah yang terdiri dari dua dimensi dan sepuluh variabel. Kedua dimensi indeks literasi dakwah tersebut direpresentasikan oleh pengetahuan dasar dan pengetahuan tingkat lanjut tentang dakwah. Pengetahuan dasar dakwah diukur dengan empat variabel, yaitu pengetahuan umum tentang dakwah, pengetahuan tentang kewajiban dakwah, pengetahuan tentang jenis-jenis mad\'u, dan pengetahuan tentang pendekatan dakwah secara umum. Selanjutnya, pengetahuan dakwah tingkat lanjut dijelaskan melalui enam variabel, yaitu lembaga dakwah, regulasi dakwah, dampak dakwah terhadap masyarakat, program dakwah, dan pemberdayaan di lembaga dakwah, serta pengetahuan tentang dakwah secara digital. Jumlah 39 indikator tersebut mengukur seluruh variabel indeks literasi dakwah.
Total skor indeks literasi dakwah yang dihasilkan selanjutnya diklasifikasikan guna mengetahui tingkat literasi ilmu dakwah. Klasifikasi tingkat literasi dakwah disajikan pada Tabel 5. Klasifikasi tingkat literasi dakwah terdiri dari tiga jenis. Skor yang diperoleh pada klasifikasi pertama (0% - <60%) akan dianggap sebagai tingkat literasi rendah. Skor yang diperoleh pada rentang 60% - <80% ditetapkan sebagai tingkat literasi sedang, dan skor lebih dari 80% termasuk dalam kategori tingkat literasi tinggi.
Kesimpulan
Penelitian tersebut mengisi kesenjangan yang signifikan dalam literatur akademis dengan membahas masalah buta aksara dakwah yang terabaikan dan menyediakan model yang komprehensif untuk pengukurannya. Pengembangan indeks literasi dakwah menyediakan alat yang berharga untuk menilai dan mengatasi masalah buta aksara dakwah di Indonesia. Secara keseluruhan temuan penelitian tersebut menggarisbawahi kebutuhan kritis untuk mengatasi buta aksara dakwah dan implikasinya terhadap praktik dan wacana Islam di Indonesia. Validitas dan reliabilitas model yang signifikan menunjukkan potensi efektivitasnya dalam meningkatkan pemahaman dan mempromosikan literasi dakwah dalam masyarakat Muslim. Selain itu, penelitian ini membuka jalan untuk eksplorasi dan intervensi lebih lanjut dalam literasi dakwah, yang menyoroti pentingnya upaya berkelanjutan untuk memperkuat pemahaman dan keterlibatan agama di antara berbagai populasi dalam masyarakat Muslim.

