(Sumber : Dokumentasi Penulis)

Prof. Achmad Jazidie dalam Diskusi Buku Pendidikan Tinggi Islam

Khazanah

Sungguh sebuah kebanggaan bagi saya  atas kehadiran Prof. Dr. Ir. Achmad Jazidie, M. Eng., dalam diskusi buku saya yang berjudul “Pendidikan Tinggi Islam di Indonesia: Perspektif Sosiologi Pengetahuan.” Saya nyaris tidak percaya, bahwa Prof. Jazidie membaca keseluruhan tulisan saya di buku tersebut. Meskipun yang disorotinya adalah Bab I, Bab III dan Bab IX. Tiga ini yang menurut Prof. Jazidie sebagai kunci penting di dalam pengembangan Pendidikan Tinggi Islam di Indonesia. 

  

Diskusi ini diinisiatifkan oleh Prof. Dr. Suyitno, MAg, Kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia”, suatu nomenklatur baru kelembagaan, yang di masa lalu disebut sebagai Badan Penelitian dan Pengembangan, Pendidikan dan Pelatihan. Prof. Suyitno mencermati buku itu dan kemudian meminta saya untuk membedah buku tersebut di Balai Pendidikan dan Pelatihan (Badiklat) Keagamaan Surabaya. Melalui komunikasi dengan Pak Irhason, maka diskusi tersebut terselenggara. 

  

Hadir pada acara ini adalah Kabag Tata Usaha Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan SDM, Jakarta, Ibu Retno Kencono, Dr. Jafar, Kepala Balai Diklat Keagamaan Surabaya, para Widya Iswara Badiklat, para utusan Perguruan Tinggi Islam Swasta di Surabaya, Gresik dan Sidoarjo serta para peserta pelatihan di Badiklat Surabaya.  Acara ini diantarkan sebagai pembuka acara oleh Bu Retno dan dibuka secara resmi secara daring oleh Prof. Suyitno, Kepala Badan. 

  

Prof. Jazidie adalah Rektor UNUSA yang memiliki banyak pengalaman sebagai birokrat. Pada waktu Prof. Muhammad Nuh sebagai Menteri Pendidikan Nasional, maka Prof. Jazidie adalah orang yang menjabat sebagai Direktur Pengembangan Kelembagaan. Dari tangan Prof. Jazidie dan Prof.  Mohammad Nuh, maka IAIN Sunan Ampel menjadi UIN Sunan Ampel. Meskipun belum tertulis di dalam sejarah UIN Sunan Ampel, akan tetapi peran mereka berdua sungguh patut diapresiasi. 

  

Prof. Jazidie meskipun latar belakang pendidikannya di bidang Sains dan Teknologi, akan tetapi pemahamannya mengenai aspek kepemimpinan ternyata sangat luas.  Ada tiga hal yang saya tulis terkait dengan respon Prof. Jazidie atas buku tersebut. Respon yang sangat menarik. 

  

Pertama, Prof. Jazidie memulainya dari analisis atas judul buku “Pendidikan Tinggi  Islam di Indonesia: Perspektif Sosiologi Pengetahuan.” Jika kehadiran Pendidikan tinggi Islam sudah nyata adanya, maka yang perlu digaris bawahi adalah mengenai perspektif sosiologi pengetahuan. Ilmu ini mengkaji tentang relasi pengetahuan, konteks sosial dan cara memahaminya. Prof. Nur Syam berupaya untuk menggunakan kaitan antara bahasa, pengetahuan dan konteks sosialnya di dalam menulis buku ini. Meskipun bukanlah penelitian yang mendalam, tetapi seluruh gagasan di dalam buku ini memberikan justifikasi tentang adanya relasi antara kontek social pada saat menulis, bahasa dan pengetahuan yang diketahui dan dituliskannya. Setiap ide atau gagasan yang dituangkan dalam bahasa atau karya tentu tidak bisa dilepaskan dari konteks social penulisnya. Dan hal ini yang dilakukan oleh penulis buku. 

  

Kedua, tentang kepemimpinan yang visioner. Prof. Nur Syam menggunakan contoh perkembangan UIN Sayyid Rahmatullah Tulungagung dengan prototipe kepemimpinan visioner, yaitu kepemimpinan yang memiliki visi untuk pengembangan kelembagaannya. Prof. Maftuhin adalah contoh pemimpin yang transformatif dan partisipatif. Kepemimpinan transformatif tidak akan jalan jika tidak dibarengi dengan kepemimpinan partisipatif. Sebab betapa hebatnya gagasan seorang pemimpin jika tidak didukung dengan ide dan tindakan yang sesuai dengan visi kepemimpinan tentu tidak akan berjalan. Makanya, keduanya harus menjadi satu kesatuan agar visi yang diinginkan oleh pemimpin dapat diterjemahkan oleh bawahannya. Dewasa ini sudah bukan lagi masanya, seorang pemimpin hebat sendiri, akan tetapi kehebatan tersebut harus  dipahami sebagai bagian yang bisa diterjemahkan dan dilakukan oleh staff. Pemimpin hebat bukan karena kepintarannya, akan tetapi karena kemampuannya untuk mengajak berubah bagi stafnya dan bekerja bersama dengan stafnya.

  

Ketiga, pada bab 9 buku ini sangat serius. Karena buku ini memasukkan 17 variabel dalam pengembangan PTKI di dalam konsepsi “System Thinking” yang digagas oleh Peter Senge. Seorang ahli dalam menajemen yang menggambarkan tentang bagaimana keterkaitan antara satu variable pengungkit pengembangan organisasi dengan variable lain. Tidak bisa dipisahkan. Disampaikan dengan jelas tentang bagaimana system thinking itu dilakukan dengan memperhatikan empat aspek di dalamnya, yaitu learning organization, yang terdiri dari lima disiplin: 1) shared vision, 2) mental model, 3) team learning, dan 4) personal mastery yang merupakan sebuah system yang berbasis pada system thinking tentang bagaimana konsep itu dapat menggerakkan perubahan. Di dalam visi yang tersebar, maka anggota tim memahami apa dan mengapa harus berubah. Di dalam mental model akan didapatkan berbagai perubahan untuk melakukan inovasi, di dalam tim pembelajaran, maka akan didapatkan kemauan untuk belajar secara terus menerus untuk menemukan yang terbaik bagi organisasi dan melalui personal mastery maka semua anggota tim didorong untuk menjadi yang terbaik dan menghasilkan perubahan terbaik bagi organisasi. 

  

Menurut Prof. Jazidie di dalam buku ini dijelaskan dengan sangat sistemik tentang pengembangan pendidikan tinggi Islam, misalnya tentang out come pendidikan tinggi, maka ada sebanyak 17 variabel yang saling terkait dan kata kuncinya adalah kepemimpinan. Dan di era sekarang kepemimpinan itu harus bercorak partisipatif, transformatik dan humanistic. Ketiganya menjadi kunci untuk system thinking yang bisa menjadi  pengungkit perubahan di dalam institusi.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.