(Sumber : Design4users)

Ibu juga Manusia Biasa

Horizon

Eva Putriya Hasanah 

  

Hari Ibu adalah momen spesial yang dirayakan setiap tahun di Indonesia pada tanggal 22 Desember. Hari itu dipenuhi dengan ucapan terima kasih, hadiah, dan penghormatan kepada sosok ibu yang telah berkontribusi besar dalam kehidupan setiap individu. Namun, di balik semua perayaan itu, terdapat berbagai ironi dan stigma yang sering kali tidak terlihat, mulai dari ibu rumah tangga biasa, ibu pekerja, ibu dengan peran ganda, hingga tanggung jawab mendidik yang sering kali hanya dibebankan kepada ibu. Artikel ini akan mengajak pembaca dari berbagai generasi untuk memahami lebih dalam tentang peran ibu serta tantangan yang mereka hadapi di masyarakat.

  

Ironi dalam Penghormatan

  

Meskipun masyarakat merayakan Hari Ibu dengan penuh perayaan dan penghargaan, ironi muncul ketika kita mempertanyakan sejauh mana penghormatan itu diterapkan dalam praktik sehari-hari. Pada satu sisi, Hari Ibu seharusnya menjadi waktu yang penuh rasa syukur dan pengakuan terhadap segala pengorbanan yang telah dilakukan oleh para ibu. Namun, pada kenyataannya, banyak ibu merasa terbebani dengan ekspektasi yang tinggi, baik dari keluarga maupun masyarakat.

  

Di tengah perayaan, ada harapan yang besar terhadap sosok ibu untuk menjadi “superwoman” yang mampu melakukan segalanya. Mereka diharapkan untuk tidak hanya mengelola rumah tangga dengan baik, tetapi juga mampu merawat anak-anak mereka dengan penuh kasih sayang, dan jika perlu, juga berkarir di luar rumah. Dalam pandangan banyak orang, seorang ibu harus bisa menyeimbangkan semua peran ini secara sempurna. Ekspektasi ini menciptakan tekanan yang tak terhingga bagi banyak ibu, yang sering kali merasa bahwa mereka harus memenuhi standar yang tidak realistis.

  

Ironisnya, ketika seorang ibu gagal memenuhi ekspektasi ini, mereka sering kali dijadikan sasaran kritik, baik dari lingkungan sekitar maupun diri mereka sendiri. Misalnya, jika seorang ibu tidak dapat menjaga rumah tetap rapi sambil bekerja, mereka mungkin akan mendengar komentar negatif dari orang-orang di sekitarnya. Atau, jika seorang ibu yang bekerja tidak memiliki cukup waktu untuk menghabiskan waktu bersama anak-anaknya, mereka mungkin merasa bersalah dan merasa telah gagal sebagai orang tua. Kritikan ini tidak hanya datang dari orang lain, tetapi juga sering kali berasal dari dalam diri mereka sendiri, menciptakan spiral rasa bersalah dan tekanan mental yang berkepanjangan.

  

Lebih jauh lagi, stigma ini juga sering kali diperkuat oleh budaya pop dan media yang menggambarkan ibu sebagai sosok yang sempurna dan tidak pernah membuat kesalahan. Dalam film dan iklan, ibu sering kali digambarkan sebagai pahlawan yang selalu bisa mengatasi segala masalah dengan senyuman. Representasi semacam ini tidak hanya menciptakan harapan yang tidak realistis, tetapi juga membuat ibu merasa terisolasi ketika mereka tidak dapat memenuhi standar tersebut. Akibatnya, banyak ibu yang mengalami stres, kecemasan, dan masalah kesehatan mental lainnya karena merasa mereka tidak cukup baik.

  

Di balik semua harapan dan ekspektasi ini, sering kali terabaikan bahwa setiap ibu adalah manusia yang juga memiliki keterbatasan. Mereka juga mengalami tantangan, kelelahan, dan momen-momen di mana mereka merasa tidak mampu. Namun, dalam banyak kasus, masyarakat cenderung mengabaikan sisi ini dan lebih fokus pada apa yang tidak dilakukan oleh seorang ibu, daripada menghargai semua usaha yang telah mereka lakukan. Hal ini menciptakan ketidakadilan yang mendalam, di mana ibu merasa terus-menerus dinilai dan dievaluasi berdasarkan kriteria yang tidak adil.


Baca Juga : Toleransi Beragama Pada Masa Nabi Muhammad SAW

  

Ironi lainnya adalah meskipun masyarakat merayakan Hari Ibu, banyak ibu yang merasa bahwa perayaan ini tidak disertai dengan dukungan yang nyata. Penghargaan yang diberikan sering kali bersifat sementara dan tidak diikuti dengan tindakan konkret yang dapat meringankan beban mereka. Misalnya, meskipun ada banyak ucapan terima kasih, dukungan praktis untuk membantu ibu dalam mengelola pekerjaan rumah tangga atau pengasuhan anak sering kali kurang tersedia. Sebagian besar ibu harus tetap menjalankan semua tanggung jawab ini sendirian, tanpa mendapatkan bantuan yang sesuai dari anggota keluarga lainnya.

  

Berbagai Stigma Ibu di Masyarakat 

  

Pertama, Stigma terhadap Ibu Rumah Tangga. Ibu rumah tangga sering kali mengalami stigma sebagai sosok yang tidak produktif atau kurang berkontribusi. Masyarakat seringkali menganggap bahwa pekerjaan rumah tangga tidak memiliki nilai ekonomi dan tidak sebanding dengan pekerjaan di luar rumah. Padahal, mengasuh anak dan mengatur rumah tangga adalah pekerjaan yang sangat berat dan memerlukan keterampilan tinggi.

  

Stigma ini dapat membuat ibu rumah tangga merasa tidak dihargai, bahkan di dalam keluarga mereka sendiri. Mereka sering kali merasa terjebak dalam peran yang dianggap “tradisional” dan tidak mendapatkan pengakuan atas usaha mereka dalam membesarkan anak-anak dan menjaga rumah.

  

Kedua, Stigma terhadap Ibu Pekerja. Di sisi lain, ibu yang bekerja juga menghadapi stigma yang tidak kalah berat. Masyarakat sering kali memberi label negatif pada ibu yang memilih untuk berkarir, beranggapan bahwa mereka lebih mementingkan pekerjaan daripada keluarga. Hal ini menciptakan tekanan yang besar bagi ibu yang berusaha menyeimbangkan antara pekerjaan dan tanggung jawab sebagai orang tua.

  

Banyak ibu pekerja yang merasa bersalah karena tidak bisa selalu ada untuk anak-anak mereka. Mereka sering kali dihadapkan pada pilihan sulit antara mengejar ambisi karir atau memenuhi harapan sebagai ibu. Ironisnya, meskipun ibu pekerja berkontribusi pada perekonomian keluarga, mereka sering kali dianggap “egois” karena memilih untuk bekerja di luar rumah.

  

Ketiga, Ibu dengan Peran Ganda. Ibu yang memiliki peran ganda, baik sebagai pekerja maupun pengurus rumah tangga, sering kali merasakan beban yang lebih berat. Mereka harus membagi waktu dan energi antara pekerjaan, rumah tangga, dan pengasuhan anak. Stigma yang muncul adalah anggapan bahwa mereka tidak mampu menjalankan kedua peran tersebut dengan baik.

  

Kondisi ini dapat menyebabkan stres dan kelelahan yang berkepanjangan. Masyarakat kadang-kadang tidak memahami betapa sulitnya situasi yang dihadapi oleh ibu dengan peran ganda ini. Mereka sering kali dianggap gagal jika tidak dapat memenuhi ekspektasi dalam kedua peran tersebut, tanpa mempertimbangkan beban yang sebenarnya mereka hadapi.

  

Keempat, Tanggung Jawab Penuh dan Mencari Kambing Hitam. Salah satu stigma yang paling merugikan adalah anggapan bahwa semua tanggung jawab mendidik dan membesarkan anak sepenuhnya berada pada pundak ibu. Jika anak berbuat salah, sering kali ibu yang menjadi pihak yang disalahkan. Padahal, mendidik anak adalah tugas bersama antara kedua orang tua, dan bukan hanya tanggung jawab ibu.

  

Pendidikan dan pengasuhan anak seharusnya menjadi kolaborasi antara ayah dan ibu. Namun, dalam banyak kasus, ibu sering kali merasa tertekan untuk menjadi “ibu yang sempurna” dan bertanggung jawab penuh atas perilaku anak. 

  

Mengubah Persepsi dan Menciptakan Kesadaran

  

Untuk mengatasi stigma-stigma ini, penting bagi masyarakat untuk mengubah cara pandang terhadap peran ibu. Edukasi tentang pentingnya peran kedua orang tua dalam mendidik anak harus ditingkatkan. Masyarakat perlu memahami bahwa mendidik anak adalah tanggung jawab bersama dan tidak seharusnya menjadi beban hanya untuk ibu.

  

Media juga memiliki peran penting dalam membentuk pandangan masyarakat. Dengan menyajikan representasi yang lebih realistis tentang berbagai peran ibu, kita dapat membantu mengurangi stigma dan meningkatkan penghargaan terhadap semua bentuk kontribusi yang dilakukan oleh ibu.

  

Dengan demikian, penting bagi kita untuk menyadari bahwa merayakan Hari Ibu seharusnya tidak hanya berhenti pada ucapan terima kasih, tetapi juga harus diiringi dengan tindakan yang nyata untuk menghargai dan mendukung peran mereka. Kita perlu menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan mendukung, di mana setiap ibu merasa dihargai tidak hanya pada satu hari dalam setahun, tetapi setiap hari. Hanya dengan cara ini, kita dapat mengubah ironi dalam penghormatan menjadi penghargaan yang tulus dan berkelanjutan terhadap perjuangan dan dedikasi seorang ibu. Selamat Hari Ibu!