(Sumber : Viva)

Ahmad Albar: Rocker Nasionalis-Religious

Opini

Saya kira tidak sengaja kala saya menghidupkan Televisi di rumah. Biasanya saya mencari `olah raga: badminton, bola volley atau sepakbola. Bulutangkis merupakan olah raga yang saya senangi. Meskipun bukan penggemar “keranjingan,” akan tetapi jika ada momen penting dalam olah raga tentu saya menonton, misalnya pertandingan sepakbola, bola volley atau badminton yang melibatkan para pemain Indonesia. Lewat siaran langsung di televisi. 

  

Pada 27/08/2024, saya menonton pagelaran di  Metro TV dalam acara penutupan Kongres III  Partai Nasional Demokrat  (Nasdem), yang bertepatan menghadirkan Rocker Gaek, Ahmad Albar, yang selama ini tergabung sebagai pelantun lagu-lagu rock. Bahkan bisa dinyatakan bahwa Ahmad Albar adalah dedengkot music rock di Indonesia. Namanya tidak dapat dipisahkan dengan music rock di Indonesia. Sebagai seorang rocker, maka penampilannya juga menggambarkan bagaimana penyanyi rock harus tampil di muka publik pada waktu menyanyi. Rambut kribo, sepatu,  baju dan celana yang berasesori unik dan hiasan-hiasan yang variatif.  Tidak jauh-jauh dari para penyanyi rock dari manca negara. 

  

Kongres III Partai Nasdem diselenggarakan pada 25-27/08/2024. Acara ini dihadiri oleh Presiden RI, Joko Widodo, dan juga Presiden Terpilih Prabowo Subiyanto. Dibuka oleh Presiden Jokowi dan ditutup oleh Presiden Terpilih Prabowo Subiyanto. Bahkan Prabowo ikut serta di dalam acara hiburan yang disajikan oleh Ahmad Albar  dan grup musik Cadas, God Bless. Acara kongres berhasil menetapkan Surya Paloh sebagai Ketua Umum Partai Nasdem untuk lima tahun berikutnya, 2024-2029. 

  

Grup Musik God Bless, merupakan kelompok musik dengan ciri khasnya. Hentakan drum, piano dan gitar yang menderu-deru sebagai ciri khas music rock. Ahmad Albar merupakan rocker yang sangat kharismatis di masa lalu. Kakak Camelia Malik ini telah malang melintang dalam dunia musik cadas di Indonesia. Ada banyak album yang dihasilkannya dan menjadi hit pada masanya. Bahkan banyak mengilhami musisi rock pada fase berikutnya.

  

Ahmad Syekh Albar lahir pada 16 Juli 1946 (usia 76 tahun) di Surabaya. Putra dari Syekh Albar dan Farida Al Hasni. Genre musiknya adalah hard Rock, pop rock, heavy metal dan power pop. Pernah juga menyanyikan lagu dangdut. Albar mulai terlibat di dalam dunia music rock semenjak tahun 1958. Personilnya adalah  Ian Antono (gitar), Donny Fatah (bass)  dan Fajar Satri Tama (drummer).  Band Good Bless berdiri semenjak tahun 1973. God Bless masih eksis hingga sekarang meskipun personalnya sudah berumur. Di dalam pagelaran yang disiarkan oleh Metro TV tersebut, masih kelihatan begitu energiknya mereka ini. Sebagai vokalis, Ahmad Albar masih kelihatan prima meskipun harus menyanyi dengan nada-nada tinggi, sebagaimana ciri khas music cadas.

  

Meskipun tidak segarang masa mudanya, akan tetapi Ahmad Albar masih mampu untuk beraksi di panggung dengan gerakan yang cukup lincah. Masih seperti dulu, hanya gerakannya memang tidak segesit tahun 80-an. Suaranya masih terjaga, berkat nafasnya yang mampu di manage dengan baik. Usia ternyata tidak menghalangi seseorang untuk mengekspresikan talentanya dengan memadai. Hentakan kaki dan gerakan tangannya masih bertenaga. Luar biasa. Coba dengarkan lagi tayangan Youtube tentang lagu-lagunya yang viral. Misalnya: “Syair Kehidupan, Menanti Kejujuran, Sudahlah Aku Pergi, Semut Hitam, Bus Kota, Anak kehidupan, Panggung Sandiwara, Rumah Kita, Kehidupan dan Huma Di atas Bukit”. 

  

Saya hanya sempat mendengarkan dua lagu secara utuh sebagaimana yang dilantunkan oleh Ahmad Albar malam itu. Lagu “Semut Hitam” dan “Rumah Kita.”  Mari kita pahami teks lagu “Rumah Kita”. liriknya adalah: “Hanya bilik bambu tempat tinggal kita/Tanpa Hiasan tanpa Lukisan/Beratap Jerami beralaskan tanah/Namun semua ini punya kita/Memang semua itu milik kita. Haruskah kita beranjak  ke kota/Yang penuh dengan Tanya. Lebih  baik di sini/rumah kita sendiri/segala nikmat dan anugerah Yang Kuasa/semuanya ada di sini/rumah kita. Lebih baik di sini/rumah kita sendiri/segala  nikmat dan anugerah Yang Kuasa/semuanya ada disini/rumah kita. Lebih baik di sini/rumah kita sendiri/segala nikmat dan anugerah Yang Kuasa/semuanya ada disini/rumah kita. Lebih baik di sini/rumah kita sendiri/segala nikmat dan anguerah Yang Kuasa/semuanya ada di sini. Lebih baik di sini/rumah kita sendiri/ segala nikmat dan anugrah Yang Kuasa/semuanya ada di sini/rumah kita. Rumah kita.”

  

Ada tiga hal  yang mendasar dari lirik lagu ini. Pertama, rumah kita. Di dalam konteks keindonesiaan, maka rumah kita adalah Indonesia. Rumah yang dimaksud di dalam lirik lagu bukan dalam konteks rumah yang sesungguhnya tetapi rumah keIndonesiaan. Rumah itu ditandai dengan kesederhanaan warganya dan bukan kemewahan warganya, rumah yang dilambangkan dengan beratap Jerami, tanpa lukisan dan beralaskan tanah. Jika kita baca teksnya secara lateral, maka itu adalah rumah yang sederhana, namun jika dibaca dalam konteks yang lebih luas,  maka bermakna negara atau bangsa. Di sinilah rumah kita bangsa Indonesia.

  

Kedua, semua adalah kekuasaan Yang Maha Kuasa. Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan adalah Maha Rahman dan Rahim, yang telah memberikan kenikmatan dan anugerah yang berupa negara dan bangsa yang merdeka, yang rukun, harmoni dan selamat. Rumah kita, Indonesia, adalah milik kita bersama. Semua warganya  memiliki sikap dan prilaku yang sesuai dengan Pancasila, NKRI, UUD 1945 dan kebinekaan.  Semua akan  merasakan nyaman berada di rumah keindonesiaan. Lirik lagu ini sesuai dengan Pembukaan UUD 1945, yang menyatakan berkat Rahmat Allah Yang Kuasa, maka bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaannya. Dalam keadaan apapun di rumah Keindonesaan akan terasa lebih baik.

  

Ketiga, di dalam rumah keindonesiaan tersebut maka semua orang merasa memiliki kesederajadan, kesamaan, dan tanpa diskriminasi. Di  dalam rumah keindonesiaan, maka terdapat di dalamnya kebinekaan, pluralitas dan multikulturalitas. Pesan Bhinneka Tunggal Ika digambarkan sebagai “semua ada di sini”. Ada berbagai suku, agama, ras dan antar golongan yang karena rahmat Tuhan maka harus dipelihara dengan sungguh-sungguh.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.