Asosiasi Dosen Pergerakan: Antara Kemandirian dan Tarikan Kepentingan (Bagian Satu)
OpiniSebagai aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), yang sekarang berkhidmah sebagai dosen, maka saya tentu harus terlibat dalam memperingati Hari lahir (Harlah) Asosiasi Dosen Pergerakan (ADP), meskipun hanya dalam bentuk menulis artikel. ADP merupakan suatu organisasi para dosen yang di masa lalu menjadi aktivis PMII. Secara ideologis, ADP bernaung pada Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Pada hari Jum’at sampai Ahad, 24-26 April 2026, diselenggarakan acara Pra Musyawarah Nasional (Munas) dengan menggelar Seminar Nasional, di UIN Walisongo Semarang.
PMII merupakan organisasi yang di dalamnya banyak aktivis dengan varian pendidikannya, baik dari dalam maupun luar negeri. Semenjak tahun 1980-an, alumni PMII bertebaran di mana-mana. Ada politisi, pejabat dalam dunia pemerintahan, birokrat pada level rendah maupun tinggi, menjadi awak media dan juga banyak yang bergerak di Lembaga Swadaya Masyarakat maupun yang berusaha di sektor kewirausahaan. Bahkan juga ada yang karena factor keberuntungan sehingga belum memiliki akses yang memadai di dalam kehidupan.
Dosen merupakan sebagian kecil dari warga negara yang memiliki status social yang tinggi. Berdasarkan kajian Thomas Murray (1980-an) bahwa status social tertinggi di Jawa Barat adalah ulama, kiai atau ajengan, kemudian guru, dosen atau ustdaz dan baru status social lainnya. Artinya di masa lalu, dua decade yang lalu, guru atau dosen dianggap sebagai status social tertinggi dalam hirarkhi strata social pada Masyarakat Jawa. Memang telah terjadi perubahan social yang tidak terhindarkan. Akan tetapi status social dosen masih dianggap sebagai status social yang berwibawa. Kedalaman ilmu pengatahuan dalam berbagai variannya menjadikan dosen masih dianggap sebagai kelompok yang menjanjikan.
ADP merupakan perkumpulan para dosen. Artinya bahwa di dalamnya terdapat orang-orang dengan kepasitas dan kelebihan mengenai ilmu pengetahuan, baik ilmu agama, humaniora, sains dan teknologi serta applied science dan formal science. Di antara para anggotanya ada yang menjabat sebagai dosen, pimpinan PT, pejabat pada JPT Utama dan JPT Pratama bahkan juga ada yang menjabat sebagai Menteri. Di antara yang lain juga ada yang menjadi pengusaha sukses dalam varian usahanya. Semua menunjukkan pencapaian yang sangat baik atas dedikasi yang di masa lalu menjadi aktivis PMII.
Sebagai dosen tentu memenuhi standart sebagai orang memahami tentang 4C’s, yaitu memiliki creative thinking and innovations, berpikir kreatif untuk menghasilkan inovasi, memiliki ciritical thinking and problem solving, berpikir kritis dalam menyelesaikan problem social, communications competence, kompetensi komunikasi dan collaborations competence atau kemampuan kolaborasi. Dengan bekal kemampuan seperti ini, maka dosen akan dapat menjadi barometer pengembangan akademik bagi mahasiswa dan PT dalam menghasilkan produk akademik maupun produk inovasi lain. Melalui empat kompetensi dimaksud, maka dosen akan dapat menjadi rujukan dalam dunia ilmu pengetahuan dan juga tampilan sosialnya. Apa yang ingin didengar dari ADP adalah apakah para dosen dalam ADP memenuhi standart 4C’s dimaksud.
Kita sudah memiliki sejumlah referensi tentang “keberhasilan” para aktivis PMII dalam berbagai varian status dan kedudukannya. Ada menteri dan gubernur yang berhasil. Ada anggota legislatif yang menonjol, ada birokrat yang andal dan tentu ada dosen yang menjadi rujukan akademik yang unggul. Ada pimpinan PTN dan PTS, ada Pimpinan PTKIN dan PTKIS yang luar biasa dalam mengembangkan PT. Semua ini menandakan bahwa posisi dan kedudukan yang diamanahkan tidak hanya sebagai status dan kedudukan kosong tetapi sebagai status dan kedudukan yang sangat berisi. Berhasil.
Selain itu juga dapat dilihat dari standart yang paling mudah adalah berapa jumlah sitasi dari karya akademiknya, berapa banyak artikel yang ditulisnya, berapa banyak buku, berapa banyak artikel opini atau refleksi lainnya, dan berapa banyak temuan atau novelty akademik yang dihasilkannya. Dalam bidang penelitian tentu terkait dengan berapa banyak penelitiannya yang menonjol dan bagaimana pengabdiannya yang dapat berpengaruh terhadap kehidupan social. Dan yang paling penting bahwa dosen ADP dapat melakukan konvergensi tri darma perburuan tinggi, yaitu keterkaitan sistemik antara pendidikan, riset dan pengabdian Masyarakat.
Era sekarang menuntut kemampuan plus, maka sejauh mana program pembelajarannya dapat mempengaruhi para mahasiswa dan dunia akademik tentang pemikiran kritis-konstruktif yang menonjol. Di zaman sekarang, melalui dunia teknologi informasi, maka bagaimana tampilan akademiknya dapat memberikan masukan berharga bagi dunia social di sekitarnya.
Baca Juga : Jumlah Pernikahan Menurun, Apakah Bahagia Juga Berkurang?
Di era, kekuatan social politik sebagai panglima, maka tidak ada satupun organisasi social yang tidak terkooptasi atau semi terkooptasi oleh kekuatan social politik. Memang tidak secara langsung pengaruh tersebut didapatkan, akan tetapi dengan cara menjadikan organisasi social dimaksud sebagai “kepanjangan tangan” atau korporatisme social politik dengan cara mendudukkan atau keterpilihan person yang memiliki keterikatan langsung atau tidak langsung pada kepentingan social politik. Itulah sebabnya banyak dijumpai tokoh-tokoh nasional dari dunia social politik yang menjadi pimpinan pada organisasi social dan bahkan institusi keagamaan.
Namun demikian, secara tipologis, dapat dikategorikan keterlibatan aktivis PMII ke dalam ADP dalam tiga hal, yaitu:
Pertama, tipologi akademis, yaitu para dosen yang mengedepankan dunia akademik dibandingkn dengan kepentingan ideologis. Jika terjadi benturan di antara akademis dan ideologis, maka yang bersangkutan masih mengedepankan akademisnya. Serba akademik.
Kedua, tipologi ideologis, merupakan aktivis PMII yang menjadi dosen dengan lebih mengedepankan ideologisnya dibanding akademisnya. Yang penting PMII. Pertimbangan utamanya adalah ikatan ideologisnya. Andaikan terdapat akademisi lain yang sangat baik, dan terdapat anggota ADP yang baik, maka akan dipilih yang ADP. Pertimbangan idologis menjadi sangat mendasar. Bisa dinyatakan serba PMII.
Ketiga, pragmatis, ada juga aktivis PMII yang menjadi dosen dengan basis pemikiran bahwa dalam dunia akademik, ideologi merupakan pilihan pragmatis. Kalau seandainya kualitas anggota ADP tidak bagus tentu belum bisa masuk dalam pilihan rasional yang bisa dipilih untuk kepentingan tertentu.
Tentu sangat wajar jika ada pilihan-pilihan di dalam menentukan tindakan rasional. Tetapi yang jelas bahwa sebagai keluarga besar PMII, maka kita harus tetap pada pilihan bahwa yang dipilih tentu bukanlah orang yang dapat merugikan secara ideologis. Artinya, bahwa mereka yang dipilih adalah orang yang berada di dalam konteks secara umum adalah bagian dari Islam ala ahli sunnah wal jamaah. Dan itu pasti.
Wallahu a’lam bi al shawab.

