(Sumber : Kantor hukum Migunani )

Jumlah Pernikahan Menurun, Apakah Bahagia Juga Berkurang?

Informasi

Eva Putriya Hasanah 

  

Selama puluhan tahun, masyarakat Indonesia menganut satu keyakinan yang nyaris tak pernah ditanyakan: menikah adalah pintu menuju kebahagiaan. Ia diposisikan sebagai tonggak kedewasaan, penanda stabilitas hidup, sekaligus kondisi sosial untuk dianggap “lengkap”.

  

Namun, data terbaru menunjukkan sesuatu yang menggelitik asumsi lama itu. Dalam sepuluh tahun terakhir, jumlah pernikahan di Indonesia terus menurun. Dari lebih dari 2,1 juta pernikahan pada tahun 2014, angkanya menyusut menjadi sekitar 1,48 juta pada tahun 2024. Pertanyaannya: jika pernikahan menurun, apakah kebahagiaan masyarakat ikut berkurang?  Atau justru sebaliknya—kita sedang mendefinisikan ulang makna bahagia?

  

Narasi Lama: Menikah = Bahagia

  

Dalam konstruksi sosial tradisional, pernikahan dipandang sebagai tujuan akhir kehidupan orang dewasa. Seseorang yang belum menikah pada usia tertentu sering dianggap “belum mapan”, “belum tenang”, atau bahkan “belum bahagia”.

  

Narasi ini diperkuat oleh banyak hal: norma agama, tekanan keluarga, hingga representasi budaya populer. Menikah bukan sekadar pilihan pribadi, melainkan standar kebahagiaan sosial.


Baca Juga : Pertahankan Pancasila Sebagai Common Platform

  

Masalahnya, standar ini jarang mempertimbangkan kualitas hubungan dalam pernikahan itu sendiri.

  

Realita Baru: Single tapi Stabil

  

Di tengah turunnya angka pernikahan, muncul kenyataan yang dulu jarang dibicarakan: orang lajang yang hidup stabil dan puas secara psikologis.  Banyak individu—terutama di perkotaan—menunda atau bahkan tidak memilih menikah karena berbagai alasan:

  

kestabilan finansial yang belum tercapai,

  

keinginan mengenal diri lebih dalam,

  

prioritas pada kesehatan mental dan karier,

  

atau kesadaran bahwa pernikahan bukanlah solusi semua masalah hidup.

  


Baca Juga : Siwak di Tengah Masyarakat Modern

Bagi kelompok ini, kebahagiaan tidak lagi dikaitkan dengan status pernikahan, melainkan dengan rasa aman, otonomi, dan hubungan yang sehat, baik romantis maupun non-romantis.

  

Single tidak selalu berarti kesepian. Dalam banyak kasus, justru lebih jujur ​​​​terhadap kondisi diri.

  

Menikah tapi Rentan Konflik

  

Di sisi lain, penurunan angka pernikahan berjalan beriringan dengan fakta lain yang tak kalah penting: tingginya angka perceraian.

  

Meski pernikahan kerap diasosiasikan dengan kebahagiaan, kenyataan menunjukkan bahwa tidak sedikit pasangan yang masuk ke dalam pernikahan tanpa kesiapan emosional, komunikasi yang matang, atau ekspektasi yang realistis. Tekanan ekonomi, beban peran gender, hingga minimnya literasi kesehatan mental membuat pernikahan rentan konflik.

  

Dalam konteks ini, menikah tidak otomatis berarti bahagia. Apalagi bagi sebagian orang, pernikahan justru menjadi sumber stres, kecemasan, dan kelelahan emosional.

  

Data Tidak Bicara Soal Bahagia—Tapi Memberi Petunjuk

  

Data pernikahan dan perceraian memang tidak bisa mengukur kebahagiaan secara langsung. Namun, ia memberi sinyal penting: status menikah tidak lagi menjadi satu-satunya jalan hidup yang dianggap sah.


Baca Juga : Prinsip dalam Integrasi Ilmu

  

Penurunan pernikahan bisa dibaca bukan sebagai krisis moral atau kemerosotan nilai, melainkan sebagai tanda meningkatnya kesadaran. Kesadaran bahwa:

  

kebahagiaan tidak bisa dipaksakan melalui institusi,

  

hubungan perlu kualitas, bukan sekadar legalitas,

  

dan tidak semua orang harus mengikuti lintasan hidup yang sama.

  

Yang Menurun Mungkin Pernikahan, Bukan Kebahagiaan

  

Mungkin yang sebenarnya sedang menurun bukanlah kebahagiaan, melainkan ilusi lama tentang kebahagiaan.  Masyarakat perlahan bergerak dari pertanyaan “kapan menikah?” menuju “apakah aku baik-baik saja?”. Dari mengejar status, hingga mencari makna.

  

Jika demikian, penurunan angka pernikahan bukanlah tanda kegagalan sosial, melainkan tanda bahwa orang mulai lebih jujur ​​​​terhadap dirinya sendiri.  Dan mungkin, justru di situlah kebahagiaan menemukan bentuk yang baru.