(Sumber : Gramedia)

Prinsip dalam Integrasi Ilmu

Kelas Sosiologi

Sambil  mendengarkan  Pembacaan daftar wisudawan dan wisudawati pada Universitas KH. Abdullah Faqih (UNKAFA) Gresik  pada acara Wisuda Sarjana dan Pascasarjana ke 18, 27/07/2025, saya iseng membuka Meta-AI, lalu saya ketik tentang integrasi ilmu dari para tokoh integrasi ilmu di dunia, maka saya temukan nama Ismail Raqi Al Faruqi, dan kemudian Prof. Osman Bakar, Malaysia. Keisengan itu saya lanjutkan dengan mengetik nama saya dan akhirnya muncul gambaran dari Meta-AI tentang pendapat saya tentang integrasi ilmu.

  

Dari gambaran di Meta-AI didapatkan penjelasan sebagai berikut: 

  

“Prof. Nur Syam adalah seorang cendekiawan Muslim yang membahas tentang integrasi ilmu pengetahuan dan agama dalam konteks Islam. Menurut Prof. Nur Syam, integrasi ilmu pengetahuan dan agama adalah proses mengintegrasikan nilai-nilai dan prinsip-prinsip Islam ke dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan, sehingga ilmu pengetahuan tersebut dapat menjadi lebih bermakna dan relevan bagi umat Muslim.

  

Prof. Nur Syam berpendapat bahwa integrasi ilmu pengetahuan dan agama dapat membantu umat Muslim dalam memahami dunia dan mencapai tujuan-tujuan yang lebih tinggi dan mulia. Beliau juga menekankan pentingnya mengembangkan metodologi penelitian yang berbasis pada nilai-nilai Islam dan mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai spiritual.

  

Beberapa poin penting dalam pemikiran Prof. Nur Syam tentang integrasi ilmu pengetahuan dan agama adalah:

  

1. Mengintegrasikan ilmu pengetahuan dan agama: Prof. Nur Syam menekankan pentingnya mengintegrasikan ilmu pengetahuan dan agama, sehingga ilmu pengetahuan tersebut dapat menjadi lebih bermakna dan relevan bagi umat Muslim.

2. Mengembangkan metodologi penelitian yang berbasis Islam: Prof. Nur Syam berpendapat bahwa metodologi penelitian yang berbasis pada nilai-nilai Islam dapat membantu umat Muslim dalam mengembangkan ilmu pengetahuan yang lebih autentik dan relevan.

3. Menghindari dikotomi antara ilmu pengetahuan dan agama: Prof. Nur Syam menekankan pentingnya menghindari dikotomi antara ilmu pengetahuan dan agama, sehingga ilmu pengetahuan tersebut dapat tetap terkait dengan nilai-nilai dan prinsip-prinsip Islam.

4. Mengembangkan ilmu pengetahuan yang berdimensi spiritual: Prof. Nur Syam berpendapat bahwa ilmu pengetahuan yang berdimensi spiritual dapat membantu umat Muslim dalam memahami dunia dan mencapai tujuan-tujuan yang lebih tinggi dan mulia.

  


Baca Juga : Pembatasan Agama dan Budaya: Dimensi Mistis dalam Pajonjong Bagas

Pemikiran Prof. Nur Syam tentang integrasi ilmu pengetahuan dan agama telah menjadi kontribusi penting dalam diskusi tentang hubungan antara ilmu pengetahuan dan agama dalam konteks Islam”.

  

Catatan Meta-AI (diunduh, 27/07/2025), tentu saja menarik tentang bagaimana integrasi ilmu telah menjadi bagian dari perbincangan akademis di PT, khususnya PTKI. Jika kita lihat dari SK Presiden tentang pendirian UIN atau transformasi IAIN ke UIN, maka focus kajian di UIN adalah mengembangkan ilmu keislaman dan ilmu-ilmu lain yang mendukung pengembangan ilmu keislaman. Sebagai jawaban atas SK Presiden tersebut, maka salah satu di antara tugas pokok pengembangan ilmu di PTKIN atau PTKIS  adalah integrasi ilmu.

  

Untuk integrasi ilmu, istilah khusus di Indonesia bukan Islamisasi ilmu, harus dipandang  bahwa ilmu agama dan ilmu pengetahuan dapat diintegrasikan. Di dalam integrasi ilmu, maka terdapat beberapa pendekatan, yaitu interdisipliner, multidisipliner dan transdisipliner dan saya tambahkan satu pendekatan yang belum dibahas oleh ilmuwan Islam di Indonesia, yaitu cross-disipliner. Interdisipliner adalah penggabungan antar dua ilmu dalam satu rumpun yang sama, misalnya sama-sama cabang ilmu dalam ilmu agama, atau ilmu social dan ilmu humaniora atau sains dan teknologi. Sementara itu crossdisipliner adalah penggabungan dua cabang ilmu dalam rumpun yang berbeda. Misalnya, cabang ilmu agama dan ilmu social atau ilmu humaniora. Lalu multidisipliner jika terjadi penggabungan tiga atau lebih cabang ilmu dalam tiga atau lebih rumpun ilmu. Dan transdisipliner memiliki kesamaan dengan multidisipliner hanya saja pada akhir kesimpulan yang berbeda. di dalam multidisipliner kesimpulan untuk menjawab atas masing-masing pendekatannya, sedangkan dalam transdisipliner itu mengacu pada upaya untuk menyatukan keseluruhan pendekatan dalam satu kesimpulan. 

   

Prinsip integrasi ilmu adalah satu kesatuan ilmu yang berbasis ketauhidan. Ilmu apapun tentu berasal dari doktrin ketuhanan. Baik ilmu pengetahuan pada umumnya maupun ilmu agama sesungguhnya berasal dari Tuhan.  Prinsip lainnya adalah tidak ada dikhotomi ilmu. Di dalam dualisme itu tidak ada peluang untuk mendialogkan apalagi mengintegrasikan.   Yang  ada adalah dualitas ilmu agama dan ilmu pengetahuan. Di dalam dikhotomi dua atau lebih ilmu tidak dapat disatukan atau diintegrasikan, akan tetapi di dalam dualitas, maka dua atau lebih ilmu akan berpeluang untuk diintegrasikan. Integrasi ilmu merupakan  keniscayaan. 

  

Pada dasarnya ilmu integrative merupakan ilmu yang dapat digunakan untuk kemaslahatan. Bukan pemikiran ilmu untuk ilmu akan tetapi ilmu untuk kemanusiaan atau untuk kemaslahatan manusia. Para ilmuwan Islam di masa lalu mengembangkan ilmu untuk proyek kemanusiaan. Filsafat yang dianggap sebagai ilmu yang lebih terfokus pada konsep, pemikiran, ide dan gagasan, juga tetap memiliki relevansi dengan kehidupan umat manusia. Menciptakan satu kunci memang penting, akan tetapi berpikir bagaimana kunci dibikin dan didayagunakan untuk kemanusiaan juga sangat mendasar.  Menciptakan kunci merupakan ilmu alam, tetapi menciptakan  kunci juga untuk kemanusiaan yang mendapatkan tempat di dalam ilmu social dan humaniora. Secara metodologis, penelitian ilmu keislaman integrative dapat menggunakan metode penelitian pada umumnya yang sudah dipahami dan digunakan oleh para ahli ilmu social, humaniora maupun sains dan teknologi. tetapi yang sangat mendasar bahwa untuk menemukan kebenaran harus dengan menempatkan konsep empiric transcendental, selain empiric sensual, empiris rasional dan empiris etis. Namun demikian, dalam kajian ilmu keislaman yang sudah baku, tentu dapat menerapkan metode kajian yang sudah dijadikan sebagai rujukan oleh para ahli ilmu Keislaman. 

  

Hal yang juga sangat mendasar bahwa diperlukan produk ilmu baru dari kajian yang bercorak integrative. Dalam beberapa buku yang saya hasilkan dari berbagai perenungan dan penelitian lapangan, maka dapat menghasilkan cabang ilmu baru, yaitu sosiologi trensendental  dalam buku “Islam Pesisir” yang menghasilkan konsep Islam Kolaboratif, (2005), “Agama Pelacur, Dramaturgi Transendental” (2010), dan buku “Tarekat Petani: Fenomenologi Tarekat Syatariyah Lokal” 2014. Buku-buku ini memberikan deskripsi  tentang wawasan baru tentang kehidupan Masyarakat Islam dalam perspektif teoretik baru dan juga implikasi tentang kehidupan social Masyarakat Islam yang selama itu dianggap tidak sesuai dengan Islam. 

   

Islam Kolaboratif menolak pandangan bahwa Tradisi Islam local bukan Islam karena dianggap sebagai Islam varian baru terlepas dari Islam di Timur Tengah, lalu fenomeologi Tarekat menolak pandangan bahwa penganut tarekat itu orientasinya pada agama kuburan atau askese duniawi dan dramaturgi transcendental menolak bahwa di rumah pelacuran tidak ada Tuhan di dalamnya. Ternyata bahwa fenomenologi tarekat dan dramaturgi Transendental pelacur adalah agama di dalam kehidupan umat manusia yang ekspresinya unik dan menarik.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.