(Sumber : Dokumentasi Penulis )

Kiai Ibad: Cita-Cita Mengembangkan IAI Uluwiyah Mojokerto

Khazanah

Sungguh suatu kebahagiaan bisa bertemu dengan Kiai Zainul Ibad, pendiri Pondok Pesantren Uluwiyah Mojosari Mojokerto, yang terbiasa saya panggil dengan sebutan Kiai Ibad, kala saya diundang oleh Rektor IAI Uluwiyah Mojokerto, Dr. Nining Qurratu A’yun, MPdI, ST, SAg., dalam acara Rapat Kerja, yang diselenggarakan di Hotel Arayanna, Trawas Mojokerto, 19/07/2025. Saya memberikan gambaran tentang pengembangan IAI Uluwiyah Mojokerto ke depan, dan kemudian Kiai Ibad memberikan asupan gizi tentang semangat untuk mengembangkan Islam dan yang lebih khusus tentang Pendidikan Islam.

  

Kiai Ibad adalah guru saya dalam arti yang sebenarnya. Tentu saja saya sering bertemu, baik kala di Surabaya, sebagai dosen dan pimpinan di IAIN Sunan Ampel  maupun di Jakarta, saat saya mengabdikan diri di Kementerian Agama Pusat. Sekarang tentu juga lebih sering bertemu. Bagi saya Kiai Ibad merupakan kiai yang hebat, sebab tidak hanya menguasai ilmu keislaman,  akan tetapi juga olah spiritualitas yang sangat tinggi. Untuk mencapai maqam seperti itu tentu bukan dengan cara yang mudah. Ada riyadhanya. Dijalaninya pendidikan batin semenjak masih muda. Pernah berjalan kaki dari Banyuwangi ke Banten untuk mengambil ilmu hakikat sambil menghafal Al-Qur’an. Saya tidak mampu melakukannya. Apalagi sekarang di usia yang merambat senior, bukan tua. 

  

Di usianya yang sudah di atas kepala delapan, Kiai Ibad masih sangat trengginas. Hal ini saya lihat dengan mata kepala saya sendiri  pada waktu saya diajaknya untuk melakukan umrah selama 11 hari pulang pergi, maka saya ketahui Kiai Ibad memang luar biasa. Memimpin jamaah Umrah dengan kekuatan fisik yang prima. Memimpin thawaf dengan kekuatan jiwa dan raganya. Kala saya tanya, apa yang menjadi kekuatan Kyai seperti itu, maka dijawabnya dengan sederhana: “pasrah kepada Allah.” 

  

Pada waktu acara Rapat Kerja di Trawas, Kiai Ibad memberikan pengarahan, sekaligus juga berdoa dan menutup acara. Ada tiga hal yang saya pahami dari pengarahannya, yaitu: Pertama, kita perlu belajar dari Nabi Muhammad SAW dalam mengembangkan Islam. Ada peristiwa yang penting di dalam Islam, yaitu peristiwa hijrah ke Madinah. Kanjeng Nabi Muhammada SAW tidak terus berjalan tetapi berhenti dulu di Goa Tsur. Sebuah goa yang berada di atas gunung. Ditemani oleh Sayyidina Abu Bakar, maka Nabi masuk ke goa itu. Nabi Muhammad SAW dikejar oleh orang-orang Quraisy, dan mereka sudah sampai di depan goa. Tetapi orang Quraisy ini ragu, mau masuk ke dalam goa. Selain lobangnya yang sempit juga terdapat sarang laba-laba. Artinya jika ada orang masuk tentu sarang laba-laba itu akan rusak. Tetapi sarang laba-laba itu menunjukkan bahwa tidak ada orang yang masuk ke dalamnya. 

  

Lalu orang Quraisy mundur dan kembali ke kudanya masing-masing. Hanya tinggal seorang yang mendengarkan bahwa ada suara cecak yang terus menerus berbunyi. Orang ini lalu datang ke kawan-kawannya untuk memberitahukan bahwa kemungkinan ada orang di dalam goa. Maka akhirnya mereka datang lagi lalu ada yang masuk dengan merusak sarang laba-laba. Tetapi keanehan juga terjadi sebab  di dalamnya  ada burung merpati yang bersarang di situ. Lagi-lagi orang Quraisy ragu-ragu. Sebab pasti tidak ada burung bersarang,  jika ada orang masuk.  Pasti  burung akan terbang. Akhirnya mereka kembali keluar dan pergi. Selamatlah Nabi Muhammad SAW dari serangan kaum Quraisy. Para petinggi Quraisy bahkan pasang sayembara bagi yang dapat memotong kepala Nabi Muhammad SAW akan diberi 1000 dirham. Harga  yang sangat tinggi. Nabi Muhammad SAW akhirnya pindah ke goa lainnya di sekitar goa Tsur. Goa ini sangat kecil lobangnya, sehingga dalam ukuran akal manusia,  tentu tidak akan bisa memasukinya. Tidak cukup seseorang yang kecil badannya sekalipun untuk memasukinya. 

  

Kedua, apa hikmah dari hijrah ini? Yaitu terkait dengan mengembangkan Islam termasuk mengembangkan pendidikan itu tentu ada hambatannya. Nabi Muhammad SAW harus hijrah dengan jalan kaki dari Mekkah ke Madinah dengan naik turun gunung,  masuk goa  dikejar musuh dan semuanya bisa diatasinya dengan kekuatan yang diberikan oleh Allah SWT. Ada saja yang menyelamatkan Nabi Muhammad SAW. Sarang laba-laba yang menggambarkan bahwa Allah SWT memberikan pertolongan atas hambanya yang akan berbuat baik. Lalu burung dara sedang bersarang, memberikan makna bahwa perjuangan itu akan menghasilkan keturunan yang baik. Sarang itu berada di ketinggian memberikan makna bahwa mengembangkan pendidikan juga untuk menemukan ketinggian derajad kepada orang yang berjuang. Orang yang mencari ilmu akan ditinggikan derajadnya oleh Allah SWT. 

  

Oleh karena itu jangan pernah ragu untuk berjuang untuk mengembangkan pendidikan Islam. Pendidikan tinggi ini dahulu dinamai Universitas NU, tetapi karena peraturan, maka harus berubah menjadi Sekolah Tinggi dan kemudian menjadi Institut, maka target kita adalah mengembangkannya menjadi universitas. Saya menggaris bawahi apa yang dinyatakan oleh Prof. Nur Syam, agar kita bersatu dalam visi, dalam misi dan dalam merumuskan program agar kita mencapai tujuan mendirikan universitas. 

  

Ketiga,  saya memiliki pengalaman mendaki Gunung Tsur dengan beberapa kawan. Untuk melihat bagaimana bentuk goa Tsur. Kita sampai di sana. Satu-satu mereka saya minta untuk masuk ke dalam goa. Ternyata tidak ada yang bisa memasukinya. Yang terakhir saya yang  memasukinya. Tetapi terhalang karena di saat kaki dan badan saya sudah masuk ternyata badan yang atas tidak bisa masuk. Oleh kawan-kawan diteriaki agar saya kembali naik tidak melanjutkan masuk ke dalamnya. Tetapi saya lalu pasrah kepada Allah dengan kata La haula wala  quwwata illa billah, akhirnya saya bisa masuk. Kira-kira luas goa itu 50 M. 

  

Apa yang kita pahami maknanya dari peristiwa ini, bahwa untuk mengembangkan lembaga pendidikan kita harus berusaha secara dhahir dan batin dengan membuat perencanaan yang baik dan melaksanakannya dengan sebaik-baiknya, dan kemudian berdoa secara sangat serius agar do akita  didengar oleh Allah. Bismillah kita bisa.

   

Wallahu a’lam bi al shawab.