(Sumber : Rovindo)

Meneguhkan Komitmen Kemajuan: Rapat Kerja IAI Uluwiyah Mojokerto

Opini

Perguruan Tinggi didirikan di atas lima pilar penting, yaitu Kerja Keras, Kerja Cerdas, Kerja Solid, Kerja Sama dan Kerja Ikhlas (5K) atau KCSSI. Hal ini harus disadari sebab tanpa 5K tidak mungkin PTKI akan maju. Tanpa 5K tidak akan ada arah pengembangan ke depan. Tanpa 5K tidak akan dapat mengembangkan PTKI visioner. Tanpa 5K tidak mungkin akan terjadi perubahan. Tanpa 5K tidak akan terjadi lompatan bukan sekedar perubahan. 5K merupakan instrumen untuk mengembangkan PTKI yang berdampak.

  

Selain itu juga sangat penting memahami variabel-variabel pengembangan PTKI, yaitu: kualitas outcome, kualitas kepemimpinan, kualitas program studi, kualitas manajemen kelembagaan, tingkat kinerja tenaga kependidikan, kualitas sarana dan prasarana, profesionalitas dosen, kualitas akreditasi program studi/institusi, kualitas proses belajar mengajar, kualitas pengakuan internasional, kelengkapan perpustakaan, laboratorium, tingkat kedisiplinan tenaga kependidikan, kualitas gelar akademik, kualitas karya akademik dosen, kualitas kinerja tenaga kependidikan, kepemimpinan pancasilais, pembelajaran berbasis it, kualitas lingkungan akademik dan  budaya kerja. 

  

PTKI harus merumuskan visi. Visi adalah mimpi atau cita-cita yang diinginkan di masa depan. Mimpi adalah setengah cita-cita, setengah cita-cita adalah setelah harapan, setengah harapan adalah setengah usaha dan  setengah usaha  adalah setengah keberhasilan. Visi harus memenuhi syarat secara konseptual atau teoretik, yaitu: SMART atau specific, measurable, achieveble, Relevance and time bond.  Ada keunggulan, terukur, dapat dicapai, relevan dengan kebutuhan stake holder dan waktu pencapaian. Contoh “Mewujudkan IAI Uluwiyah Mojokerto sebagai perguruan tinggi unggul dalam Islamic Studies berbasis nilai-nilai entrepreneurship kepesantrenan yang berdampak  bagi masyarakat pada level Indonesia tahun 2045.  

  

Oleh karena itu visinya adalah: Mengembangkan program pendidikan, riset dan pengabdian masyarakat yang berbasis konvergensi atau integratif. Pengajaran menghasilkan masalah untuk diteliti dan hasil penelitian akan menghasilkan laporan atau buku, artikel ilmiah dan modul sebagai bahan pelatihan dan pendidikan untuk masyarakat. Mengembangkan program integrasi ilmu berbasis pada relasi antara ilmu agama dan ilmu-ilmu lainnya, misalnya ilmu humaniora dan ilmu sosial. Mengembangkan program pendidikan berdampak pada mahasiswa, alumni, komunitas pesantren dan masyarakat pada umumnya. Mengembangkan kerja sama kelembagaan, program pendidikan dengan berbagai institusi sosial, ekonomi dan keagamaan, organisasi pemerintah dan organisasi non pemerintah. 

  

Mengembangkan pendidikan pro-lingkungan berbasis ekosistem teologi, yang berimpilkasi pada hablum minallah, hablum minan nas dan hablum minal alam. Mengembangkan tata kelola Good University Governance dengan indikator  transparansi, akuntabilitas, efektif dan effisien serta partisipatif.

  

Tata kelola PTKI itu disebut Good University Governance  (GUG). Tata kelola yang diharapkan adalah World Class Bureaucracy (WCB) dengan indikator: high quality of public services, accountabity, efficiency, and effectiveness in good operations plus free from corruption. Meskipun IAI Uluwiyah merupakan  perguruan tinggi swasta berbasis pesantren, akan tetapi tetap bahwa persyaratan GUG itu harus dipenuhi. Hal ini untuk membangun trust civitas akademika. Semakin dipercaya tata kelolanya semakin diminati PTKI-nya. 

  

Cek atas apa variabel yang perlu dikembangkan dari 18 variabel untuk pengembangan PT di Indonesia.  Lalu, Dialogkan dengan kebutuhan pengembangan dan kebutuhan stake holder baik di sekitar home base PTKI atau pada area lain yang dapat diraih. Di era Teknologi Informasi, maka diperlukan program penguatan ICT untuk pembelajaran, misalnya dengan program daring dan luring. Perdalam mengenai regulasinya, misalnya dengan prosentase 50% luring dan 50% daring.  Upaya ini untuk bisa mendatangkan dosen dari luar institusi dan juga mahasiswa dari luar area 60 KM bagi ASN. Semua program kerja harus memiliki relevansi dengan visi dan misi institusi.

   

Berbeda dengan PTN atau PTKIN yang memperoleh penganggaran dari pemerintah, maka PTKIS adalah lembaga pendidikan yang memiliki kemandirian dalam penganggaran. Pimpinan PTKIS harus memiliki kelincahan dalam rekruitmen calon mahasiswa, sebab dari sinilah sesungguhnya pendanaan terbesar akan didapatkan. Selain itu juga harus lincah di dalam menemukan sumber daya usaha yang variatif. Sebagaimana contoh di PTKIS Nurul Iman di Parung Bogor, maka didapati sebanyak ratusan unit usaha, mulai dari foto copi sampai usaha-usaha berbasis jasa. 

  

Sekarang ini tantangan sumber daya mahasiswa juga sangat tinggi. Hal ini disebabkan oleh semakin banyaknya  PTKIS yang berdiri  bagaikan jamur di musim penghujan. Di Mojokerto terdapat delapan belas PTS dan PTKIS, dan hanya berebut satu wilayah di Kota dan Kabupaten Mojokerto. Oleh karena itu persaingan untuk memperebutkan SDM mahasiswa juga sangat tinggi. Saling berebut dan  saling berkompetisi untuk institusi pendidikannya. 

  

Oleh karena itu, diperlukan upaya yang optimal untuk mengembangkan institusi pendidikan tinggi agar tetap eksis di tengah persaingan usaha pendidikan yang semakin berat. Tetapi saya yakin bahwa pendidikan yang berbasis pesantren akan dapat melalui dengan baik.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.