(Sumber : Vice)

Main Character Syndrome: Ketika Hidup Terlalu Terpusat Pada Diri Sendiri

Informasi

 

Eva Putriya Hasanah

  

Coba deh jujur, kamu pernah nggak sih ngebayangin hidupmu kayak film? Lagi naik motor di sore hari terus backsound-nya kayak lagu indie mellow, sambil mikir, “Wah, gue banget nih. Gue tuh tokoh utama banget.” Atau pas patah hati kamu ngerasa kayak karakter utama di drama Korea yang baru aja ditinggal oppa-nya. Duh, relatable banget ya?

  

Nah, kalau kamu pernah merasa seperti itu (dan mungkin agak sering), selamat! Bisa jadi kamu sedang menderita yang namanya Main Character Syndrome.

  

Sebenarnya Apa Itu Sindrom Karakter Utama?

  

Main Character Syndrome (MCS) bukan gangguan mental serius, kok. Ini lebih ke pola pikir atau perasaan bahwa diri kita adalah tokoh utama dalam \"film kehidupan\" kita sendiri. Kita jadi suka membayangkan bahwa semua hal yang terjadi—baik maupun buruk—berputar di sekitar kita. Semua orang adalah karakter pendukung, dan kitalah pusatnya.

  

Fenomena ini jadi makin populer sejak tren di TikTok ramai dengan tagar #maincharacter. Banyak video yang menunjukkan seseorang menjalani hidup dengan \"vibe\" film indie: jalan-jalan sendiri, menikmati kopi di kafe estetik, nulis jurnal di taman, atau sekadar menatap hujan sambil pasang musik sendu. Semuanya tampak melamun dan estetis.

  

Sebenernya, sah-sah aja kok kalau kamu pengen jadi versi terbaik dari dirimu sendiri dan merasa hidupmu bermakna. Tapi, masalahnya muncul saat sindrom ini membuat kamu jadi terlalu fokus sama dirimu sendiri — sampai lupa bahwa dunia ini bukan hanya tentang kamu.


Baca Juga : Terorisme Global: Bukan Hanya Fenomena Indonesia

  

Ketika Hidup Terlalu Fokus Pada Diri Sendiri

  

Masalah dari Main Character Syndrome muncul saat kita mulai merasa bahwa semua hal harus tentang kita. Misalnya:

  

Kalau teman kita lagi cerita, kita malah nyambugin ke pengalaman kita sendiri.

  

Kalau orang sukses lain, kita mikir, “Ah, dia mah cuma hoki. Gue juga bisa kalau mau.”

  

Kita jadi terlalu overthinking karena ngerasa semua orang lagi merhatiin kita — padahal sebenarnya nggak juga.

  

Main Character Syndrome bisa membuat kita kehilangan empati. Kita jadi lupa bahwa setiap orang juga memiliki kisah hidup masing-masing yang sama rumit dan emosionalnya dengan kita. Kita lupa bahwa kadang-kadang, dalam cerita orang lain, kita juga hanya figuran atau bahkan tokoh antagonis.

  

Antara Self-Love dan Narsisme Tipis Banget Batasnya

  


Baca Juga : Politik Memang Tanpa Etika

Di satu sisi, MCS bisa menjadi bentuk self-love. Kita menjadi lebih memperhatikan diri kita sendiri, ingin hidup yang lebih berarti, dan berusaha menjadi versi terbaik dari diri kita. Tapi di sisi lain, kalau tidak dikontrol, bisa jadi bentuk narsisme terselubung.

  

Masalahnya, media sosial sering sangat mendorong kita untuk terus menampilkan “materi karakter utama.” Kita jadi mudah membandingkan diri, ingin tampil sempurna, dan merasa harus punya alur cerita hidup yang dramatis dan menginspirasi. Padahal, realita hidup tidak selalu estetis, dan itu tidak apa-apa.

  

Dunia Nggak Cuma Tentang Kita

  

Kenyataannya, hidup itu bukan film, dan kita bukan satu-satunya tokoh utama. Temanmu yang kamu anggap figuran juga punya cerita yang layak diterima. Barista yang tiap pagi bikinin kopimu juga punya masalah hidup yang nggak kamu tahu. Bahkan orang asing yang kamu tabrak di jalan pun mungkin sedang mengalami hari terburuk dalam hidupnya.

  

Jadi, daripada terus-terusan mikir, “Apa yang dunia ini berikan buat aku?”, kenapa nggak sesekali mikir, “Apa yang bisa aku berikan buat dunia ini?” Karena kadang-kadang jadi tokoh pendukung yang baik jauh lebih berarti daripada sibuk jadi tokoh utama dalam cerita yang penuh dramatisasi.

  

Nggak Salah Ngerasa Spesial, Asal Jangan Lupa Bumi Nggak Muter Buat Kamu Doang

  

Merasa menjadi tokoh utama itu mungkin, bahkan penting untuk membangun kepercayaan diri dan rasa syukur. Tapi jangan sampai kita lupa bahwa setiap orang juga sedang berjuang dalam cerita hidup mereka sendiri. Kita nggak harus selalu jadi pusat perhatian. Kadang jadi pendengar yang baik, teman yang hadir, atau bahkan penonton yang menghargai cerita orang lain justru jauh lebih bermakna.

  

Jadi, kalau kamu lagi ngerasa hidupmu kayak film indie dan kamu tokoh utama, nikmatin aja momen itu. Tapi tetap sadar, di “film” orang lain, kamu mungkin hanya menjadi cameo sebentar. Dan itu tidak apa-apa. Karena dalam kehidupan yang nyata, semua orang punya kesempatan untuk menjadi tokoh utama—dalam cerita mereka sendiri.

  

Akhir kata, jadi tokoh utama boleh, asal jangan lupa jadi manusia juga. Dunia ini luas, ceritanya banyak, dan kamu bukan satu-satunya pemeran penting. Tapi kamu tetap bisa membuat cerita hidupmu sendiri jadi berharga — tanpa harus menutup mata dari cerita orang lain.