(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Politik Memang Tanpa Etika

Opini

Kalau ingin memasuki dunia “kegaduhan”, maka masuklah dalam arena politik. Dunia politik itu identic dengan kegaduhan, rivalitas dan bahkan konflik. Kegaduhan di dalam politik merupakan ciri khas sebab di dalam politik dipastikan akan terdapat sekurang-kurangnya rivalitas di antara sesama politisi. Nyaris tidak terdapat di dalam dunia politik tersebut nuansa “kedamaian” yang hakiki, sebab di dalam hati masing-masing selalu terdapat keinginan untuk melakukan penguasaan atas lainnya. Jika orang memiliki ambisi berkuasa yang kuat, maka sebaiknya menjadi politisi, sebab di situlah hakikat pemenuhan ambisi yang paling nyata bagi yang menang, dan kegalauan bagi yang kalah dalam pertarungan politik.

  

Dunia politik dan kekuasaan adalah dunia realitas yang paling gaduh dan penuh dengan intrik dan bahkan kekerasan. Sejarah manusia dengan politik dan kekuasaannya selalu mengandung bercak-bercak darah dan jerit kematian yang terkadang memilukan. Itulah sebabnya ada novelis yang menyatakan bahwa manusia adalah serigala bagi lainnya. Sejarah manusia dengan politik dan kekuasaan menyisakan catatan pahit dan pilu tentang bagaimana perang menjadi bagian penting untuk melakukan penguasaan. Ladang-ladang “pembantaian” selalu penuh dengan sisa darah dan tulang-tulang yang menggambarkan tentang bagaimana serigala tersebut melakukan tindakan yang di saat tertentu dianggap sebagai kajahatan atau bahkan extra ordinary crime, tetapi hal ini dilakukan yang terkadang memiliki pembenarannya masing-masing. 

  

Sejarah pemerintahan, baik kerajaan atau bentuk lainnya kebanyakan berisi noda-noda keinginan untuk saling mengalahkan dan menguasai. Baik pemerintahan di Eropa, Amerika, Afrika dan Asia juga dalam banyak hal berisi perebutan kekuasaan. Sejarah kejatuhan Kerajaan Islam di Eropa dan Turki Utsmani juga diwarnai oleh perang, yang tentu saja memiliki basis rasionalitas dan bahkan agama untuk saling mengalahkan. Bahkan juga perebutan kekuasaan antar keluarga, antar agama, dan antar etnis terus melanda dunia atas nama politik kekuasaan. Di Nusantara misalnya dikenal Perang Paregrek yang melibatkan sesama keturunan raja Majapahit. Lalu perebutan kekuasaan antara Demak dan Pajang, lalu Pajang dan Mataram juga diwarnai oleh pertarungan antar keluarga. Kemudian Perang Jawa atau perang Diponegoro yang melibatkan Pribumi dan Belanda merupakan perang untuk memperebutkan penguasaan antara dua kelompok besar yang berbeda jalan,  lalu pertempuran antara Giri dengan Amangkurat Mataram juga melibatkan dua kelompok yang sama Orang Jawa. Di dalam cerita pewayangan,  antara Duryudana dan saudaranya dengan para pandawa juga melakukan peperangan di Padang Kurusetra. Mereka  adalah saudara sepupu,    tetapi mereka saling menihilkan dalam Perang Baratayuda. 

  

Begitulah watak dunia politik dan kekuasaan tergambar dalam cerita maupun dalam realita. Dunia politik dan kekuasaan itu saling memeluk dan menampar tetapi yang jelas merupakan mimbar untuk saling berkontestasi untuk kalah dan menang. Yang menang biasanya “The Winner takes all” dan yang kalah “Go to hell”. Tetapi di dunia ini ternyata  ada orang-orang yang memang diberi bakat untuk bermain politik. Bahkan seluruh pemikiran dan tindakannya menggambarkan bagaimana politik dan kekuasaan tersebut ada di dalam genggamannya. Alasannya tentu klise “semuanya untuk kepentingan orang banyak”. Dan, yang bersangkutan adalah representasi orang banyak itu.

  

Dalam seminggu ini, drama politik di Indonesia juga diwarnai oleh drama “pertarungan” dalam Partai Demokrat (PD). Partai politik yang didirikan oleh Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini sedang dalam arus kontestasi yang tajam. Semula banyak orang yang menganggap bahwa apa yang disampaikan oleh Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) di dalam konferensi pers adalah upaya untuk mengangkat pamor PD dalam percaturan politik di Indonesia. Dinyatakan bahwa ada rekayasa untuk menggulingkan kepemimpinan PD dan dilakukan oleh orang dekat Presiden. Bahkan kemudian ditindaklanjuti dengan mengirim surat kepada Presiden Jokowi tentang tindakan orang dekatnya itu. Tujuannya adalah agar tidak terjadi kekisruhan di dalam tubuh demokrat. Bahkan tidak kalah seru, Pak SBY juga kemudian menanggapi bahwa “Partai Demokrat not for sale”.  

  

Tiba-tiba saja terjadi Kongres  Luar Biasa (KLB) yang dilakukan di The Hill Hotel and Resort Sibolangit Deli Serdang, Sumatera utara, dan dilakukan oleh sejumlah tokoh PD yang merasa sudah tidak berada dalam satu barisan dengan SBY maupun AHY. Konon KLB dihadiri oleh para DPC, DPD, organisasi sayap dan tamu undangan. KLB berlangsung pada hari Jum’at, 5/3/21. Sebagaimana biasanya, maka ada dua pandangan dari mereka yang saling berseteru, kubu AHY dan jajaran pengikutnya menyatakan bahwa KLB tersebut abal-abal dan tidak sah atau inconsitutional, sementara itu kubu KLB tetap menyatakan sebagai kongres yang sah karena dihadiri oleh jajaran DPD, DPC dan lain-lain. Bahkan setelah melengserkan AHY, kemudian para peserta kongres memilih Moeldoko, sebagai ketua umum baru PD menggantikan AHY. 

  

Sebagai pemerhati tentu saya tidak ingin terjebak kepada dua kubu ini, sebab masing-masing tentu memiliki logika dan dasar rasio yang dianggapnya penting dan relevan. Tetapi dengan kekisruhan PD ini sekali lagi memberikan gambaran bahwa di dalam partai politik itu yang ada adalah mental menerabas, dan siapa yang berani melakukan terabasan tersebut adalah yang akan memiliki dua potensi sekaligus: diterima atau ditolak.  Tentu saja kalkulasi sudah dilakukan sedemikian rupa dengan berkaca pada peristiwa-peristiwa sebelumnya. Kekisruhan ini memberikan sekali lagi bukti bahwa bagi orang yang di dalam hidupnya memiliki nafsu etis yang lebih besar,  maka jangan masuk ke dalam lingkaran unpredictable ini. Bahkan  secara seloroh ada aktivis partai politik yang membuat statemen “di dalam partai politik itu membunuh atau dibunuh”. Tentu bukan dibunuh secara fisikal,  tetapi dibunuh secara karir dan jabatan. Caranya, merekalah yang tahu. 

  

Wallahu a’lam bi al shawab.