Siwak di Tengah Masyarakat Modern
Riset BudayaArtikel berjudul “Is Siwak (Chewing Stick) an Effective Oral Hygiene Practice in Modern Society?” merupakan karya Tuti Ningseh Mohd Dom, Haslinda Ramli, Shahida Mohd Said, dan Ahmad Munawir Islamil. Tulisan ini terbit di International Journal of Islamic Thought (IJIT) tahun 2023. Di dalam agama Islam menekankan untuk menggunakan siwak sebagai alat pembersih gigi dan mulut sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Saat ini, penggunanya cukup jarang. Selain itu, muncul kekhawatiran bahwa penggunaan siwak tidak sesuai dengan apa yang dipraktikkan oleh Nabi Muhammad SAW, sehingga memunculkan efek dan isu yang buruk mengenai siwak. Bahkan, muncul anggapan bahwa siwak adalah ‘pilihan rendah’ di kalangan masyarakat modern. Terdapat tiga sub bab dalam resume ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, konsepsi dasar siwak. Ketiga, penggunaan siwak.
Pendahuluan
Efektivitas perawatan gigi dan mulut menjadi hal yang fundamental terlepas dari metode dan praktik pembersihannya. Siwak atau ‘stik kunyah’ telah dikenal sebagai alat pembersih mulut sejak pra-Islam. Kemudian, menjadi menonjol ketika Nabi Muhammad SAW mempraktikkannya. Hal ini sekaligus menjadikan penggunaan siwak menjadi salah satu sunnah nabi.
Saat ini, siwak juga digunakan oleh hampir seluruh muslim di berbagai negara, terutama Timur Tengah dan Asia, seperti Pakistan, India, Nepal, Afrika, Indonesia, Vietnam, dan Malaysia. Mayoritas negara-negara ini memiliki populasi muslim yang besar, sehingga berkontribusi pada prefensi penggunaan siwak karena keyakinan beragama. Oleh sebab itu, mereka yang menggunakan siwak menganggap bahwa tindakan tersebut sebagai bagian dari ketaatan beragama karena mengikuti jejak Nabi Muhammad SAW. Berdasarkan survei pengguna siwak, sebagian besar umumnya mengakui manfaat siwak untuk kesehatan mulut mereka. Secara klinis, siwak adalah alat yang efektif dalam menjaga kesehatan mulut, termasuk menghilangkan plak dan mencegah radang gusi. Sayangnya, kesalahan dalam menggunakan metode siwak juga menyebabkan permasalahan pada gusi.
Konsepsi Dasar Siwak
Siwak berasal dari Bahasa Arab dan didefinisikan sebagai tindakan menggosokkan zat pada permukaan gigi. Para pengguna siwak beranggapan bahwa dengan menggunakannya, maka pahala akan mereka dapat, sebab mengamalkan apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Para ahli sepakat bahwa siwak yang paling baik bersumber dari Pohon Arak (Salvadorapersica) seperti yang dianjurkan Nabi Muhammad SAW. Hal ini disebabkan batang kayu Siwak lunak, sehingga cocok digunakan. Baginda biasanya menggunakan siwak sebanyak lima kali dan dibarengi dengan salat wajib lima waktu.
Menggunakan siwak sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW, sebab beliau merasa bersalah dan malu jika memiliki bau mulut saat beribadah kepada Allah SWT. Terutama, ketika beliau mengonsumsi makanan yang menyebabkan bau mulut, seperti bawang. Oleh sebab itu, Rosulullah menganjurkan untuk bersiwak sebelum salat. Hal ini menyiratkan betapa pentingnya kebersihan mulut dalam kehidupan sehari-hari.
Penggunaan Siwak
Baca Juga : Moderasi Beragama dalam Kiprah Islam Indonesia
Umat Islam harus mengetahui bagaimana menggunakan siwak yang tepat, sebab ketika dilakukan dengan tidak benar dapat menimbulkan kesan negatif terhadap perilaku yang diasosiasikan dengan umat Islam. Selain itu, kurangnya pengetahuan tentang siwak dapat menyebabkan ‘teguran’ ketika berhadapan dengan orang lain yang memahaminya, seperti memamerkan penggunaannya di depan umum pada waktu dan situasi tertentu yang mungkin dianggap tidak sesuai oleh orang lain.
Mereka yang menggunakan siwak merujuk pada hadis sahih yang menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW rutin menggunakan siwak, sekaligus menganjurkan. Apalagi, ada riwayat yang menyebutkan bahwa Rosulullah pernah mengusir jemaah yang memiliki bau mulut dari masjid. Tindakan Baginda Rosul kemudian adalah menegaskan kembali pentingnya mempraktikkan kebersihan yang benar sebagai simbol kesucian di kalangan umat Islam.
Rongga mulut terdiri dari beberapa komponen antara lain gigi, sulkus, gingiva, lidah, pipi, bibir, dan palatum baik lunak maupun keras yang membentuk ekosistem eterogen. Lingkungan mulut yang hangat dan lembab juga mengandung protein saliva, glikoprotein dan cairan krevikular ival gun memberikan nutrisi pertumbuhan mikroorganisme. Menjaga kesehatan mulut yang baik akan membangun hubungan baik di antara komponen didalamnya.
Hal yang perlu diketahui adalah siwak juga memiliki dampak negatif. Misalnya, resesi gingiva jika siwak digunakan secara berlebihan. Selain itu, jika siwak yang digunakan bertekstur keras atau kering, dan implikasinya dengan teknik menyikat gigi vertikal juga menyebabkan resesi gingiva.
Di era ini, penggunaan siwak dianggap tidak relevan bagi mereka yang tidak memiliki pengetahuan mengenai hal tersebut. Selain itu, masyarakat terkadang merasa jijik ketika bertemu orang-orang pengguna siwak karena suaranya yang dianggap mengganggu. Nabi Muhammad SAW merekomendasikan menggunakan siwak ketika berwudhu. Selain itu, beliau juga menggunakannya sebelum datang ke acara khusus seperti pertemuan.
Bertentangan dengan praktik nabi, muslim saat ini sering kali menyimpan siwak di saku mereka. Tujuannya adalah memudahkan jika ingin menggunakannya kembali. Cara penyimpanan yang salah semacam itu akan membuat siwak berdebu atau berpotensi menimbulkan efek lain yang merugikan.
Cara menyimpan siwak yang tepat dapat dilakukan dengan tig acara yakni 1) mencuci, membersihkan dan mengeringkan siwak sebelum meletakkan secara vertikal pada wadah tertutup; 2) merendam batang siwak dalam campuran garam dan air sebelum menyimpan; 3) simpan siwak sesuai dengan perawatan sikat gigi yang dianjurkan. Selain itu, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait penggunaan siwak, seperti 1) siwak tidak boleh dilakukan di depan umum, pertemuan sosial, berdiri, berbaring atau tidur, di kamar mandi, tengah jalan, dan saat berbicara; 2) siwak tidak boleh digunakan pada gigi yang ‘lemah’; 3) batang siwak harus disimpan dalam wadah yang higienis; 4) membaca doa ketika menggunakan.
Kesimpulan
Artikel ini berusaha menggali secara mendalam bagaimana Nabi Muhammad SAW menggunakan siwak ditinjau dari perspektif muslim kontemporer. Hasil penelitian ini telah dituliskan dengan cukup baik, hanya saja akan lebih sempurna jika menjelaskan secara detail konsepsi dasar mengenai siwak, bunyi hadis yang berkaitan dengan penggunaan siwak, serta dampak positif dan negatif dari segi medis maupun sosial. Namun, inti dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW menekankan dan mempromosikan kebersihan mulut, serta bagaimana dan kapan siwak digunakan. Penelitian ini juga akan lebih lengkap ketika ditambahkan jumlah muslim yang menggunakan siwak. Apakah semakin modern era, siwak juga semakin ditinggalkan oleh muslim, atau justru sebaliknya seiring dengan meningkatnya tingkat religiositas masyarakat?

