(Sumber : Gemini AI)

Tak Seperti Generasi Sebelumnya, Pilihan Gen Z Mengguncang Industri Alkohol Global

Informasi

Eva Putriya Hasanah

   

Kalau ngomongin Gen Z, entah kenapa narasinya sering ke arah yang itu-itu aja. Dibilang mudah ngeluh, nggak tahan banting, maunya fleksibel terus, sampai dianggap “nggak niat kerja.” Padahal kalau mau dipandang lebih jujur, generasi ini justru lebih pelan-pelan menggeser cara kita memahami hidup—termasuk soal kesehatan, hubungan sosial, sampai gaya bersenang-senang.

   

Salah satu perubahan paling terasa pada cara mereka memandang alkohol.

   

Di tengah budaya lama yang sering menganggap minum itu bagian dari “bersenang-senang,” Gen Z justru mulai mengambil jarak. Laporan dari Forbes menyebutkan sekitar 21% Gen Z tidak mengonsumsi alkohol sama sekali, sementara 39% lainnya hanya minum sesekali. Artinya, sebagian besar generasi ini tidak menjadikan alkohol sebagai bagian rutin dalam hidup mereka.

   

Di Indonesia, trennya bahkan lebih jelas. Data Badan Pusat Statistik tahun 2025 mencatat konsumsi alkohol penduduk usia 15 tahun ke atas hanya 0,30 liter per kapita, dan angka ini terus menurun sejak tahun 2023. Ini bukan sekadar kebetulan, tetapi menunjukkan bahwa ada perubahan pola konsumsi yang cukup konsisten.

   

Dari “biar seru” ke “biar sadar”

   

Kalau dulu alkohol sering dilekatkan dengan relaksasi atau pelepasan dari stres, Gen Z justru lebih sadar akan efek jangka panjangnya. Mereka tahu soal gangguan tidur, penurunan fokus, sampai fenomena hangxiety—rasa cemas setelah mabuk yang makin sering dibicarakan.


Baca Juga : Berbeda yang Bersahabat : NU dan Muhammadiyah

   

Alih-alih mencari pelarian, mereka lebih memilih menjaga kestabilan. Kesehatan mental dan fisik bukan lagi sekedar bonus, tapi prioritas. Dan ini menarik, karena seringkali generasi ini justru dikritik terlalu sensitif. Padahal bisa jadi, mereka hanya lebih sadar.

   

Nongkrong versi baru: kopi, matcha, dan ruang yang lebih tenang.

   

Perubahan ini juga terlihat jelas dari cara Gen Z bersosialisasi. Bar dan klub malam bukan lagi menjadi pusat. Saat ini, kafe dan coffee shop justru menjadi ruang utama untuk berkumpul.

   

Data dari Jakpat menunjukkan sekitar 66% Gen Z di Indonesia mengonsumsi kopi secara rutin. Ngopi bukan lagi sekadar kebutuhan kafein, tapi sudah jadi bagian dari gaya hidup—mulai dari diskusi santai, tugas kerja, hingga sekadar menikmati waktu sendiri.

   

Di sisi lain, matcha juga ikut naik daun. Laporan dari Restaurant Business mencatat sekitar 40% Gen Z memesan matcha dalam enam bulan terakhir. Minuman ini sering dipilih karena dianggap lebih “tenang”—memberi energi tanpa efek gelisah berlebihan seperti kopi yang terlalu kuat.

   

Menariknya, baik kopi maupun matcha punya citra yang berbeda dari alkohol. Kalau alkohol identik dengan kehilangan kontrol, dua minuman ini justru dekat dengan kesadaran. Nongkrong bukan lagi soal “lepas,” tapi soal hadir.

   

Minuman non-alkohol semakin mengambil panggung

   


Baca Juga : Merawat Pemahaman Islam Moderat (Bagian Satu)

Pergeseran preferensi ini ternyata tidak hanya berdampak pada level individu, tapi juga industri global.

   

Laporan Bloomberg menunjukkan saham perusahaan minuman beralkohol global turun hingga 830 miliar dolar AS dalam lebih dari empat tahun terakhir, atau sekitar 46% dari puncaknya pada Juni 2021. Angka ini mencerminkan perubahan besar dalam perilaku konsumen, terutama generasi muda.

   

Sebaliknya, kategori minuman non-alkohol justru tumbuh. Data dari International Wine and Spirit Record menunjukkan pertumbuhan sekitar 7% per tahun, dan diperkirakan akan menguasai 4% pasar minuman global pada tahun 2027.

    

Artinya, pilihan Gen Z bukan sekadar tren kecil, tapi mulai bergeser ke arah industri.

   

Sober Curious: sadar, bukan kaku

   

Fenomena ini sering disebut sebagai sober curious. Bukan berarti anti alkohol sepenuhnya, tapi lebih ke kesadaran dalam memilih. Minum bukan lagi kewajiban sosial, tapi keputusan pribadi.

  

Dan yang menarik, dalam budaya Gen Z sekarang, mabuk justru mulai kehilangan “nilai keren”-nya. Kalau dulu dianggap bagian dari gaya hidup bebas, sekarang malah bisa dipandang biasa saja, bahkan terkadang kurang menarik.

 

Ada redefinisi tentang apa itu “seru.”

   

Jadi, siapa sebenarnya yang salah memahami?

   

Melihat ini semua, jadi agak ironis ketika Gen Z masih sering dianggap negatif. Dibilang malas, padahal mereka sedang mengatur hidup agar lebih seimbang. Dibilang lemah, padahal mereka berani mengakui batas diri. Dibilang nggak serius, padahal justru mereka lebih sadar akan konsekuensi pilihannya.

   

Dari alkohol ke kopi dan matcha, dari mabuk hingga kesadaran—semuanya menunjukkan satu hal: ada cara baru dalam menjalani hidup.

   

Mungkin yang perlu diubah bukan generasinya. Tapi cara kita memandang mereka.\r\n