Berbeda yang Bersahabat : NU dan Muhammadiyah
InformasiOleh: Eva Putriya Hasanah
Nahdlatul Ulama melalui Wakil Ketua Umum PBNU Zulfa Mustafa mengumumkan bahwa setelah melakukan rukyatul hilal, Idul Adha 1444 Hijriah jatuh pada 29 Juni 2023. Sementara sebelumnya, Muhammadiyah dengan metode hisab telah menetapkan Idul Adha 1444 Hijriah pada 28 Juni 2023. Ini artinya dua hari besar, Idul Fitri dan Idul Adha di tahun 2023 antara NU dan Muhammadiyah jatuh di hari yang berbeda.
Perbedaan hari besar dari dua organisasi masyarakat ini tidak hanya terjadi tahun ini saja. Di tahun-tahun sebelumnya perbedaan ini juga kerap ada. Tahun lalu misalnya, idul adha jatuh di hari yang berbeda. NU merayakan idul adha di hari Minggu 10 Juli 2022. Sedangkan Muhammadiyah pada Sabtu, 9 Juli 2022. Penyebab perbedaan ini tidak terlepas dari metode yang digunakan oleh kedua ormas dalam menentukan hari raya yang berbeda. Muhammadiyah menggunakan metode hisab sedangkan NU menggunakan metode rukyatul hilal. Dengan itu harusnya perbedaan hari besar yang terjadi merupakan hal yang sudah biasa.
Berbeda yang Bersahabat
NU dan Muhammadiyah merupakan ormas Islam yang memiliki karakter yang berbeda. Tidak hanya berbeda dalam metode penentuan hari raya namun juga berbeda dalam persoalan tradisi dan kebiasaan. Misalnya acara peringatan kematian, ziarah kubur, acara tahlilan atau yasinan merupakan hal yang biasa dalam masyarakat NU. Sedangkan di Muhammadiyah kebiasaan-kebiasaan itu tidak ada. Lantas apakah Muhammadiyah tidak membaca tahlil dan yasin? tentu saja tidak seperti itu, namun dalam tradisinya tidak mengenal acara yang di buat khusus untuk membaca tahlil maupun yasin bersama-sama.
Uniknya, meski berbeda ada banyak sumber yang menceritakan hubungan yang terjalin oleh KH. Hasyim Asy\'ari pendiri NU dan KH. Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah. Dikisahkan bahwa kedua tokoh besar Islam ini merupakan teman semajelis dalam pengajian-pengajian KH Ahmad Khatib Al-Minangkabawi di Mekkah. Saat mondok di KH Saleh Darat Semarang, Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy’ari bukan hanya semajelis, keduanya tinggal di kamar yang sama selama dua tahun. Usia mereka terpaut dua tahun, Ahmad Dahlan lebih tua. Maka, KH Ahmad Dahlan memanggil KH Hasyim Asy’ari dengan sebutan Dimas. Sebaliknya, KH Hasyim Asy’ari memanggil Kangmas kepada KH Ahmad Dahlan. Di keseharian, mereka saling menyiapkan makanan untuk mereka berdua. Kadang yang menyiapkan KH Ahmad Dahlan dan kadang KH Hasyim Asy’ari. Juga dikatakan jika mereka makan dari piring yang sama.
Bahkan mengutip dari kisah yang dibagikan oleh NU online, pada suatu ketika saat KH Hasyim Asy’ari menerima sebuah kabar dari santrinya tentang berdirinya Muhammadiyah, ia menjawab dengan santai dan mendukung, \"Kiai, ada gerakan yang ingin memurnikan agama, dan membuat badan amal perserikatan di Yogyakarta” konon begitulah ucap santrinya, lalu di jawab dengan singkat dan santai \"Oh, itu Mas Darwis. Ayo kita dukung.\"
Ini artinya meskipun memiliki pandangan yang berbeda, Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy\'ari tetap memiliki hubungan yang erat dan menghormati satu sama lain. Keduanya saling membantu dalam menyebarkan nilai-nilai Islam dan mempersatukan umat Islam di Indonesia.
Disamping itu, terlepas dari perbedaan yang dimiliki oleh kedua ormas, baik NU dan Muhammadiyah memiliki peran besar dalam hidup bermasyarakat dan bernegara. Dalam penelitian kolektif UIN Sunan Ampel, dosen dan mahasiswa tahun 2018, karya Abid Rahman dan ketiga mahasiswanya memaparkan bahwa ormas Muhammadiyah dan NU memiliki peran hampir dalam segala bidang. Diantaranya pendidikan, kesehatan, ekonomi dan politik. Bahkan dalam penelitian ini juga menjelaskan bahwa kedua ormas ini mampu menjadi sumber soft power bagi Indonesia dalam dunia internasional. Ini menunjukkan bagaimana kedua ormas ini sama-sama memiliki kontribusi besar bagi perkembangan agama dan bangsa.
Maka, adanya hal ini harusnya mampu menjadi pijakan untuk umat Islam di tengah perbedaan yang ada. Hubungan antara Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy\'ari menunjukkan pentingnya persatuan dalam ajaran Islam. Di tengah perbedaan pandangan, keduanya tetap menghormati dan mendukung satu sama lain dalam gerakan Islam di Indonesia. Perbedaan tidak harus memecah belah persatuan dan solidaritas umat Islam. Semua harus memahami bahwa persatuan adalah kunci dalam meraih tujuan bersama, khususnya dalam memperjuangkan hak-hak umat Islam dan memajukan Islam secara moderat dan toleran di Indonesia yang mampu menghadapi segala tantangan dan ancaman. Dengan begitu, umat Islam dapat mencapai tujuan bersama untuk membawa kemajuan dan kesejahteraan bagi umat Islam di Indonesia.

