(Sumber : Dokumentasi Penulis)

Asosiasi Dosen Pergerakan: Kemandirian dan Tantangan Kepentingan (Bagian Dua)

Opini

Pada artikel pertama saya lebih menekankan pada dimensi sosiologis Asosiasi Dosen Pergerakan (ADP) dewasa ini. Artinya ada tarikan kepentingan dan posisi akademis PMII di dalam menghadapi kehidupan terutama dunia Pendidikan tinggi, di mana aktivis PMII berkhidmah melalui ADP. Pada tulisan kedua ini, saya fokus pada tantangan ADP di tengah semarak kehidupan yang semakin terdigitalisasikan. 

  

Kebanyakan anggota ADP adalah para dosen yang berkhidmah pada PTKIN dan PTKIS. Kalau diprosentasekan maka dapat dinyatakan mayoritas optimal berada di PT tersebut. Di PTKIN dan PTKIS banyak sekali dosen yang secara institusional di masa lalu adalah aktivis PMII. Hal  itu tentu terkait bahwa yang sekarang menjadi pimpinan atau dosen adalah yang berlatar belakang Pendidikan Strata satu, meskipun untuk strata dua dan tiga berada di PTU, baik di dalam maupun di luar negeri. 

  

Sementara itu, yang berada di PTU, PTN dan PTS, adalah dosen yang tidak berlatar belakang PMII, bisa yang mereka di masa lalu menjadi aktivis HMI, GMNI, PMKRI atau GMKI, yang di masa lalu bergabung di Kelompok Cipayung. Yang paling banyak adalah HMI dan GMNI. Saya nyatakan sebagai mayoritas optimal. Semantara aktivis PMII di PTU adalah kelompok minoritas optimal. Secara historis, memang kehadiran dosen di PTU dari kalangan PMII sangat terbatas, bisa karena factor pendidikan atau kebijakan.  Oleh karena itu, kebanyakan alumni PMII lalu berkhidmah di PTKIN dan PTKIS. Banyak yang kemudian menjadi pimpinan dalam berbagai levelnya. Selain itu juga ada yang berkarir di luar negeri, baik menjadi dosen, peneliti dan memasuki dunia usaha dunia industry yang berhasil.

  

Alumni PMII tentu harus keluar kandang. Jika selama ini kadangnya di PTKIN, PTKIS atau pesantren, maka tentunya harus bertarung di PTU atau dunia pengabdian lainnya di institusi social, politik dan ekonomi yang menjanjikan keberhasilan. Oleh karena itu, maka PMII harus menyiapkan SDM-SDM yang talented untuk meraih kesuksesan di luar Pendidikan Agama atau berkhidmah di luar Lembaga keagamaan. Sukses di situ. PMII dengan ADP harus menyiapkan talenta-talenta yang baik untuk menyongsong era PMII untuk bangsa dan negara serta untuk peradaban dunia.

  

Di dalam konteks itu, maka ada tantangan yang dihadapi oleh PMII wa bil khusus ADP, yaitu:

  

Pertama,  era sekarang keterbukaan, artinya para dosen tidak hanya mengejar linearitas, tetapi linearitas plus. Artinya, menemukan pengembangan ilmu berbasis pendekatan pada basis ranting bahkan rantingnya ranting dari cabang dan rumpun ilmu yang penting dikembangkan. Mereka harus semakin banyak yang mengembangkan  ilmu yang berpeluang kehadirannya di masa depan. Sebenarnya peluang ini sangat besar karena semakin banyak generasi muda PMII yang bisa belajar di luar negeri, misalnya di Eropa, Amerika, China, Jepang, Korea Selatan dan sebagainya. Di China atau Taipei sekarang banyak menawarkan program studi di bidang teknologi informasi, maka inilah peluang kita untuk memasuki tantangan era modernitas yang sesungguhnya. 

  

Kedua, tantangan digitalisasi sungguh sangat powerfull. Sudah banyak analisis dan tulisan yang menemukan kaitan antara masa depan dengan program digital. Kehidupan Masyarakat di masa depan sangat tergantung pada kemampuan digital. Harus menguasai dunia digital. ADP harus mengarah ke sini. Jika sekarang lebih banyak ahli agamanya, maka ke depan harus mengarahkan talenta mudanya untuk belajar secara serius tentang relasi agama, ilmu, filsafat dan teknologi digital. Sekarang isunya masih di seputar relasi antara agama, sains dan filsafat, maka ke depan harus dikembangkan dan diperkuat mengenai berbagai varian teknologi digital. Di negara lain sudah sangat kuat pendekatan pembelajaran dengan subyek kajian STEM atau Science, Technology, Engineering and Mathematics. Ke depan harus dikembangkan para talenta muda PMII untuk belajar mengenai teknik informatika, seperti digital business technology, atau ilmu computer seperti computer systems engineering, Statistika atau business mathematics, atau program desain misalnya design engineering, atau ilmu forensic, astronomi, teknik kedirgantaraan, rekayasa energi dan sebagainya.

  

Namun demikian, mereka tentu harus memiliki kemampuan ilmu agama yang baik, sehingga agama akan dapat menjadi “mitra kritis” dalam pengembangan keilmuannya. Bukan pengekang tetapi dapat memberikan arahan atas pikiran kreatif yang dikembangkannya.

  

Ketiga, kita banyak berharap pada dunia pesantren yang menjadi basis pengembangan ilmu keislaman yang berdamai dengan ilmu-ilmu berbasis STEM. Para alumni pesantren yang memiliki ilmu agama yang memadai kemudian dapat bernegosiasi dengan program STEM yang andal, sehingga akan menghasilkan orang yang hebat dalam dunia sains dan teknologi akan tetapi juga bermoral sebagai ahli agama. Jangan sampai alumni PMII menjadi ahli STEM tetapi menolak kebenaran agama. Harus tetap meyakini bahwa ada kebenaran dunia empiris tetapi juga ada kebenaran  metaempiris, harus belajar pada dunia fisik tetapi jangan melupakan dunia metafisik.

  

Di antara yang bisa menjadi contoh adalah Bapak Nuklir Iran, Hasan Tehrani Mughaddam, yang ditolak oleh ahli nuklir Uni Soviet kala bertanya tentang rumus-rumus membuat nuklir, akan tetapi menemukan rumus itu melalui uzlah di Makam Imam Ali Ridha dan di situ menemukan ilham tentang bagaimana rumus membuat rudal. Sebagaimana penuturan Dr. Haidar Bagir, bahwa banyak temuan monumental dari saintis yang diperoleh melalui mimpi.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.