Dari Jalsah Ilmiyah Pondok Pesantren Salafiyah Pasuruan: Pesantren Sebagai Tempat Berkah
OpiniBagi orang Jawa Timur, Syekh Hamid Pasuruan merupakan nama yang sedemikian melegenda. Seorang kiai yang memiliki kelebihan di luar nalar manusia sesamanya, bahkan sesama ahli ilmu keislaman. Kiai Hamid Pasuruan memiliki kemampuan memahami dunia kegaiban yang manusia pada umumnya tidak mengetahuinya. Beliau adalah seorang kiai yang linuwih atau memiliki kemampuan di atas para kiai lain, karena kemampuannya untuk dapat memahami bahasa makhluk lain, yang hal itu hanya dikuasai oleh Nabi Sulaiman. Bukan maksud saya menyamakannya, akan tetapi Allah SWT itu dapat memberikan pengetahuan yang hanya diberikan kepada orang-orang khusus, sebagaimana Allah memberikan kemampuan terhadap hambanya yang memang berusaha untuk memerolehnya. Allah sedemikian Maha Rahman dan Rahim, Allah itu memiliki pengetahuan dan kekuasaan atau di dalam bahasa sosiologis disebut Tuhan yang Omniscience dan sekaligus juga Omnipotence. Maha Tahu dan Maha Kuasa.
Pada hari Jum’at, 06/03/2026, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA, Menteri Agama, mengunjungi pesantren di Jawa Timur, yaitu Pesantren Salafiyah Pasuruan, Pesantren Sidogiri dan Pesantren Bumi Shalawat Sidoarjo. Selain itu juga di Gereja Katedral Surabaya Hati Kudus Yesus, Institut Teknologi Surabaya (ITS) untuk menyuguhkan materi Nuzulul Qur’an dan menghadiri acara Shubuh Ramadlan Berjamaah di Masjid Nasional Al Akbar. Untuk acara di Masjid Al Akbar Surabaya sudah saya tulis rekaman ceramahnya di nursyamcentre.com dengan tema: “Prof. Nasaruddin Umar: Antara Ahlu Tha’ah dan Ahlu Ibadah”, 06/03/2026.
Perjalanan ke beberapa pesantren ini melibatkan Dr. Basnang Said (Direktur Pontren), Dr. Thobib Asyhar (Kabiro HDI), Dr. Ismail Cawidu dan Prof. Dr. Salman Manggalatung (Staf Khusus), Dr. A. Sruji Bahtiar (Kakanwil Kemenag Jawa Timur), Prof. A. Muzakki, PhD., (Rektor UINSA) dan saya. Selain itu juga ada beberapa pejabat eselon III Kanwil Kemenag Jawa Timur. Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Pasuruan, Kyai Idris Hamid dan Kyai Abdul Qadir menerima dan menemani Menag di acara “Jalsah Ilmiyah” ini. Prof. Dr. Nasarudddin Umar, MA., menyampaikan pokok-pokok pikirannya di dalam acara “Jalsah Ilmiyah” dalam tiga hal, yaitu:
Pertama, di dalam kegiatan apa saja, seperti bekerja, belajar dan menjalani kehidupan hendaknya dengan menghadirkan Allah SWT. Bacaan “Basmalah” itu merupakan bacaan yang luar biasa karena kita akan menghadirkan Asma Allah. Bukan hanya namanya tetapi hakikat nama itu. Di dalam lafadz Basmalah dijumpai sifat utama Allah yang menjadi kata kunci di dalam semua Nama Allah, yaitu Al Rahman dan Al Rahim.
Maka di kala menyebut Asma Allah, maka yang terbayang adalah hakikat sifat Rahman dan Rahim Allah SWT. Sifat kasih sayang, Ar Rahman yang meliputi kasih sayang kepada seluruh manusia dan alam seluruhnya. Sifat yang tidak membedakan antara satu makhluk dengan makhluk lainnya. Tidak membedakan satu manusia atas manusia lainnya. Semua mendapatkan kasih sayang Allah. Manusia dan hewan disediakan makanan dan minuman. Demikian pula tumbuh-tumbuhan untuk hidup.
Ar Rahim adalah sifat khusus yang diberikan kepada umat yang meyakini keberadaannya, meyakini eksistensi Tuhan sebagai Maha Pencipta dan Maha Pemelihara, dan juga menjalankan perintah-perintahnya dan menjauhi larangannya. Inilah umat yang disebut sebagai kaum Muslimin, yang bersyahadat atas keberadaan Allah dan Muhammad sebagai utusannya dan menjalankan amalan-amalan yang diwajibkan kepadanya.
Kedua, Di dalam kehidupannya, manusia memiliki dan memerlukan kebutuhan, yaitu kebutuhan jasmani dan kebutuhan Rohani. Manusia memerlukan makanan jasmani dan makanan Rohani. Keduanya harus dipenuhi. Tubuh atau jasad perlu makanannya, misalnya makanan dan minuman. Makanan dan minuman dan hal-hal lain yang terkait dengan kebutuhan biologis. Di sisi lain, manusia memerlukan asupan atau makanan Rohani, yaitu yang berupa asupan pemahaman, pengamalan dan pengalaman beragama. Rohani manusia perlu diajak untuk memahami siapa dirinya, dari mana datangnya dan akan ke mana kehidupannya. Jika jasad itu bersifat sementara atau fana, maka jiwa itu abadi. Bukan selalu kekal, karena kekekalan hanya milik Allah SWT. Sebagai tiupan Tuhan, maka Roh membutuhkan asupan untuk diingatkan agar selalu membimbing manusia untuk selalu di dalam jalan Tuhan. Roh sudah pernah berjanji kepada Allah SWT di Alam Roh, di kala ditanya Tuhan: “alastu birabbikum, qalu bala syahidna.” Dakwah dan belajar agama hakikatnya adalah untuk mengingatkan roh agar kembali mengingat kejadiannya dan fungsinya di dalam kehidupan.
Ketiga, semua tempat di bumi ini mengandung kemuliaan. Akan tetapi ada tempat yang sangat mulia di sisi Allah adalah Ka’baitullah atau rumah yang didirikan pertama kali di dunia. Rumah Allah, Masjidil Haram, tanah Mekkah disebut sebagai tanah haram. Sama halnya dengan Madinah dengan Masjid Nabawi juga disebut sebagai tanah haram. Keduanya disebut sebagai Haramain. Selain itu ada tempat yang berkah, yaitu semua masjid di seluruh dunia dan institusi pendidikan, seperti pesantren. Oleh karena itu tidak salah jika para santri menjadikan pesantren sebagai tempat belajar ilmu pengetahuan, sebab pesantren merupakan tempat yang diberkahi oleh Allah SWT.
Di pesantren kita belajar ilmu pengetahuan agama, ilmu pengetahuan lainnya, dan belajar beribadah kepada Allah serta belajar berakhlakul karimah. Pesantren menjadi tempat yang sempurna untuk belajar tentang kehidupan yang lengkap. Setiap hari kita mendengarkan bacaan Al-Qur’an, setiap waktu shalat berkumandang adzan, kita belajar shalat berjamaah dan bahkan juga belajar Shalat Qiyamul Lail. Pesantren itu ibaratnya adalah sebuah tempat yang menyajikan banyak hal untuk kepentingan kehidupan manusia.
Oleh karena itu tidak salah para santri dan orang tua memberikan kesempatan belajar di pondok pesantren, khususnya pesantren Salafiyah Pasuruan. Pesantren yang sudah berusia 247 tahun atau berdiri pada tahun 1779 M., dan terus berkembang hingga saat ini. Di sini ada seorang Kiai yang sangat kharismatis, Kiai Hamid, yang ilmunya sangat mumpuni dan kemampuan keilmuan irfaninya sangat luar biasa. Dengan belajar di Pesantren ini, maka para santri akan memperoleh berkah pesantren dan juga keberkahan dari para kiai yang mengajar di sini. Dan itu semua sangat penting di dalam kehidupan sekarang yang memerlukan pedoman nilai Islam yang luhur.
Wallahu a’lam bi al shawab.

