(Sumber : Nusyamcentre.com)

Dari Social Distance Ke Symbolic Violence

Opini

Oleh: Prof. Dr. Nur Syam, Msi

(Guru Besar Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi Sunan Ampel Surabaya)

   

Pemberitaan tentang pandemi COVID-19 memang dilakukan nyaris setiap hari baik melalui media cetak, maupun media televisi. Hal ini sebagai konsekuensi dari dibentuknya Gugus Tugas Nasional, hingga daerah yang memiliki fungsi untuk menginformasikan kepada publik berdasarkan atas laporan-laporan yang dilakukan oleh masing-masing Gugus Tugas di daerah.

  

Gencarnya pemberitaan tentang pandemi COVID-19 tentu membawa dampak sosial  dan psikologis yang sangat signifikan bagi masyarakat, terutama tindakan terhadap orang yang terinfeksi COVID-19. Sebagaimana diketahui bahwa pandemi COVID-19 memang luar biasa, bahkan hingga hari ini juga belum terdapat penurunan yang signifikan dan terus membentuk cluster-cluster baru, seirama dengan mulai dibukanya keran new normal sebagai tuntutan untuk terus berlangsungnya kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.

  

Melalui suasana new normal, maka kehidupan mulai menggeliat. Pasar swalayan, pertokoan, dunia hiburan, café dan pasar semakin ramai pengunjung. Hanya sayangnya, bahwa protokoler kesehatan banyak yang tidak diindahkan. Banyak di antara masyarakat yang tidak menggunakan masker dan juga menjaga jarak. Akibatnya penularan baru kemudian terjadi dan penurunan signifikan terhadap penderita COVID-19 tidak kunjung sesuai dengan harapan.

  

Pemerintah memang tidak mengurangi pemberitaan pandemi COVID-19. Justru di era new normal ini pemerintah menggencarkan pemberitaan pandemi COVID-19 dengan harapan agar masyarakat memiliki kesadaran akan bahaya COVID-19 dan kemudian memunculkan kesadaran dari dalam dirinya sendiri untuk melakukan hubungan sosial berbasis pada protokol kesehatan.

  

Sebagai akibat dari gencarnya pemberitaan tentang pandemi COVID-19, maka juga memunculkan trauma baru di kalangan masyarakat, yang bisa disebut sebagai psychological trauma bahkan berkecenderungan psychological paranoid. Nampaknya, yang terjadi bukan munculnya kesadaran untuk melakukan relasi sosial berbasis protokol kesehatan, yang ditandai dengan penggunaan masker dan menjaga jarak sosial, akan tetapi justru terjadinya pengucilan terhadap semua orang yang memiliki hubungan sosial atau hubungan darah yang bertetangga dengan orang yang terinfeksi COVID-19.

  

Jika ada keluarga orang yang terinfeksi COVID-19, maka semua orang yang berada di sekitarnya akan menghindarkan diri. Bahkan tidak hanya keluarga satu rumah yang dihukum secara sosial, bahkan keluarga yang bertepatan di dekat rumahnya, dan nyata-nyata tidak terpapar COVID-19 juga dihindari. Misalnya, ketika belanja, maka semua orang yang bergerombol di tempat belajaan lalu pulang dan menghindar.

  

Tidak hanya itu, bahkan hasil panen dari keluarga yang diindikasikan terpapar COVID-19 juga tidak laku dijual di masyarakat. Semua menjauhi dan semua menganggap bahwa apapun yang terdapat di dalam relasi dengan orang yang terinfeksi COVID-19 harus dijauhi dan dianggap sangat berbahaya. Inilah yang terjadi di masyarakat kita dewasa ini. Covid-19 memang bisa merenggangkan ikatan kekerabatan, ikatan persaudaraan dan bahkan juga ikatan bertetanggaan.

  

Masyarakat memang hanya menyerap informasi setengahnya saja, bahwa COVID-19 sebagai penyakit menular yang harus dihindari dengan semua upaya. Hanya sayangnya bahwa yang dihindari adalah subyeknya dan bukan bagaimana melakukan physical and social distancing. Masyarakat secara membabi buta menghindari semua hal yang terkait dengan indikator-indikator yang menyebabkan penularan.

  

Bagi masyarakat, bahwa menjaga jarak tidak penting, menggunakan masker juga tidak urgent, sebab baginya adalah menghindari seluruh orang yang dianggap berhubungan dengan orang yang terpapar COVID-19. Relasi itu tidak hanya fisikal, akan tetapi juga siapa saja yang masih melakukan komunikasi dengan penderita. Jadi terdapat perluasan makna terpapar COVID-19 di kalangan masyarakat.

  

Inilah deviasi berita yang kita lihat akhir-akhir ini terkait dengan pandemi COVID-19. Bukannya masyarakat mengasihani terhadap orang yang keluarganya terpapar COVID-19, akan tetapi justru menganggapnya sebagai sebuah dosa sosial, sehingga keluarganya patut dikucilkan. Iklan layanan masyarakat di telivisi yang biasa kita lihat, bagaimana merajut kesetiakawanan sosial ternyata tidak membawa pengaruh signifikan bagi masyarakat, sebab yang lebih dominan adalah ketakutan yang berakibat terjadinya pengucilan terhadap keluarga orang yang terinfeksi COVID-19.

  

Jadi, pandemi COVID-19 ternyata berdampak terhadap munculnya kekerasan simbolik, yang berupa pengucilan keluarga orang yang terinfeksi COVID-19. Jangankan memberi motivasi untuk sembuh, berbicara dengan mereka dalam jarak yang aman juga dianggap sebagai sebuah pelanggaran. Jika ada keluarga yang melakukan isolasi diri di dalam rumah, maka masyarakat harus mendukungnya dengan bekerja sama menyediakan bahan-bahan yang diperlukan untuk keperluan keidupannya. Jadi, diperlukan upaya lanjutan agar masyarakat menjadi semakin arif, bahwa pengucilan terhadap keluarga terpapar COVID-19 bukanlah tindakan yang mulya, sebab yang diperlukan justru kebersamaan untuk membawa kepada kesembuhan.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.