Genosida: Zionis Membumihanguskan Warga Gaza
OpiniSaya termasuk orang yang jarang nonton TV, saya lebih banyak mengandalkan informasi di Youtube untuk mengetahui berita atau informasi tentang peristiwa luar dan dalam negeri. Tetapi saya akhir-akhir ini harus menonton TV terutama terkait dengan konflik atau peperangan di Timur Tengah, khususnya Iran vs Israel. Dialog-dialog di TV saya perhatikan dan cermati, khususnya terkait dengan Warga Gaza.
Sungguh ironis warga Gaza di dalam pertarungan berbasis kekerasan yang terjadi akhir-akhir ini. Perang Iran vs Israel mulai mereda semenjak ada upaya gencatan senjata. Tidak didapatkan berita tentang pengeboman dengan pengeboman yang dilakukan oleh kedua pihak. Iran atau Israel. Kala Israel terdesak karena serangan roket dan drone Iran, maka lewat Amerika Serikat kemudian mengajukan usulan tentang gencatan senjata. Meskipun tidak ada penandatangan gencatan senjata secara formal, akan tetapi Iran dan Israel “memahami” hal tersebut. Gencatan senjata setengah hati. Artinya suatu ketika jika Israel sudah siap dengan strategi dan senjata baru, maka bisa saja Israel menyerang kembali Iran. Bukankah selama ini sudah dikenal Israel di bawah Netanyahu selalu melakukan pelanggaran atas gencatan senjata.
Sesungguhnya antara Israel dan Hamas juga ada perjanjian gencatan senjata, akan tetapi sekali lagi hal itu tidak dipedulikan oleh Israel maupun Hamas. Keduanya tetap saling menyerang. Baik dengan rudal maupun drone. Keduanya tidak pernah berhenti saling menyerang untuk saling mengalahkan. Akan tetapi sesungguhnya kekuatan Hamas tentu tidak seberapa dibandingkan dengan kekuatan Israel dalam persenjataan. Bahkan dengan Yaman yang di dalamnya ada kelompok Houthi, juga tidak sebanding. Israel lebih digdaya dibandingkan ketiganya, Hamas, Houthi dan Yaman.
Pada saat jeda pertempuran antara Iran dan Israel, maka kita lihat pemandangan yang menyedihkan di luar batas kemanusiaan. Sedang terjadi penghancuran warga Gaza oleh tantara Israel. Gaza Selatan, Tengah dan Utara dibombardir secara membabi buta untuk menghasilkan kehancuran kemanusiaan atas warga Gaza. Tidak hanya fasilitas militer Hamas yang dihancurkan tetapi juga tempat tinggal penduduk Gaza, fasilitas Rumah Sakit, fasilitas air bersih dan juga bahan makanan. Semuanya dihancurkan rata dengan tanah. Yang tertinggal hanya puing-puing kehancuran. Sepanjang mata memandang, sebagaimana tayangan di TV, hanyalah gundukan tanah dengan bangunan yang sudah tidak lagi ada bentuknya.
Yang juga menyayat hati, di kala warga Gaza mengantri bahan makanan dari bantuan luar negeri, lembaga philantropi, maka mereka ditembaki oleh tentara Israel. Berkumpulnya warga Gaza justru dimanfaatkan untuk melenyapkan nyawanya. Dalam waktu 24 jam, tidak ada hentinya suara blasting dan kemudian diikuti dengan raungan mobil ambulan, yang menandakan ada yang wafat atau terluka. Di dalam rumah sakit yang tersisa hanyalah hiruk pikuk dengan raungan mobil ambulan yang keluar masuk.
Semua fasilitas dikendalikan oleh Israel. Jika ada bantuan luar negeri, dokter, perawat, air bersih, dan bahan makanan, maka semuanya harus mendapatkan legalitas dari Israel. Gaza memang sudah berada di dalam kekuasan Israel. Semua fasilitas dikuasainya. Penduduk Gaza sedang berjuang mempertahankan hidup yang tidak pasti. Tidak ada makanan, air minum dan obat-obatan. Semua yang akan memasuki Gaza harus melalui checking pemerintahan Netanyahu. Gaza sudah berada di dalam controlnya.
Inilah kebiadaban Israel. Negara Zionis yang tidak berperikemanusiaan. Mereka tidak mengenal makna kemanusiaan. Mereka datang ke Israel secara individu atau kelompok, lalu membeli tanah-tanah warga Arab di Gaza, dan kala sudah meluas, maka mereka mengusirnya. Mereka melakukannya dengan kekerasan. Setelah terbentuk negara Zionis Yahudi, maka mereka dengan semena-mena melakukan pengusiran dan membunuhnya bagi yang tidak mau keluar dari Gaza. Wilayah ini benar-benar sudah menjadi kuburan massal. Sekarang sudah sulit dijumpai anak-anak muda, bahkan anak-anak juga sudah banyak, ratusan ribu, yang wafat karena serangan tentara Israel. Orang tua, anak-anak, lelaki dan perempuan semua menjadi target drone Israel.
Drone Israel juga sangat canggih. Bisa memilih target dengan tepat. Drone itu memiliki tiga kapasitas. Ada yang berkapasitas untuk melakukan pemetaan musuh, ada yang bertugas untuk memastikan bahwa yang bersangkutan musuh atau pengintai dan ada yang berkapasitas meledakkan tempat yang diindikasikan lawan. Dalam kasus dokter yang terbunuh, kebanyakan dilakukan di tempat tinggalnya. Makanya dalam kasus kematian Dr. Marwan Al Sultan, Kepala RS Indonesia di Gaza, serta anggota keluarganya justru terjadi di rumahnya. Drone yang digunakan oleh Israel adalah drone pengintai dan bermuatan bahan peledak. Drone ini dapat melakukan peledakan di kamar yang dituju dan tidak merusak kamar lain yang bukan tujuannya.
Israel benar-benar ingin menghapus Gaza sebagai pemukiman orang Palestina. Inilah yang disebut genosida, yaitu penihilan atas semua warga yang dilakukan dengan kekejaman nir-kemanusiaan. Dan yang menjadi pertanyaan, negara-negara pendukung Israel, seperti Amerika, Inggris, Perancis dan negara barat lainnya tidak sama sekali bersuara. Bahkan seandainya tentang genosida ini dibicarakan di Dewan Keamanan PBB, maka dipastikan Amerika akan memvetonya.
Mata dunia semuanya terarah ke Gaza. Banyak masyarakat di dunia yang menyuarakan anti perang termasuk unjuk rasa di Amerika, Inggris, Perancis, Jerman dan negara Asia termasuk Indonesia, akan tetapi semua sedang berhadapan dengan pemimpin yang bebal dan tidak berperikemanusiaan. Sungguh ini adalah ironi dunia.
Wallahul a’lam bi al shawab.

