(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Grey/Apri dalam Olimpiade Tokyo: Gelora Nasionalisme dan Persahabatan

Opini

Saya memang penggemar olah raga badminton atau bulutangkis semenjak lama. Saya sangat menyukai olah raga ini dan sekadar bermain juga bisa. Sekali lagi sekadar bermain. Ketika televisi masih hitam putih, dan TVRI menyiarkan pertandingan bulutangkis saya pasti menontonnya. Makanya, saya ingat betul beberapa pemain, semenjak Rudy Hartono, Svend Prie, Punc Gunalan, lalu Tjun Tjun dan Johan Wahjudi,  Christian Hadinata, Prakash Padukone di masa lalu. Pemain Indonesia lainnya adalah Ricky Subagya,  Candra Wijaya, Tony Gunawan,  Taufiq Hidayat, Markis Kido dan Hendra Setiawan.Kemudian  Liem Swie King, Lius Pongoh, Icuk Sugiharto, Ardi B. Wiranata, Alan Budi Kusuma,  Susi Susanti, Mia Audina, Yuni Kartika, Verawaty Fadjrin, dan Taufiq Hidayat. Saya masih ingat beberapa sebutan, misalnya Alan Budikusuma dan Susi Susanti dengan label Pengantin Olimpiade, Liem Swie King dengan King Smash, dan Lius Pongoh sebagai pemain  ulet seperti karet, dan Taufiq Hidayat yang cool. Saya juga masih ingat gaya serve Christian Hadinata yang khas.

  

Pada masa itu, yang dominan di dalam badminton adalah: Indonesia,  China, Swedia, Malaysia, Denmark dan Inggris. Pemain China yang sangat melegenda adalah Yang Yang si kidal, Han Jian, sedangkan dari Malaysia adalah Misbun Sidek, dari Denmark adalah Morten Frost Hansen, India adalah Prakash Padukone.  Di masa lalu, final badminton, misalnya All England,  selalu para pemain dari negara-negara ini yang terlibat. Saya ingat ketika Rudy Hartono vs Punch Gunalan, maka Rudy Hartono selalu meminta pergantian shuttle cock pada saat akhir skor. Saya juga ingat ketika Rudy Hartono dikalahkan oleh Prakash Padukone untuk kemenangan delapan kali berturut-turut sebagai juara All England. Sayangnya saya tidak ingat tahun-tahun kejuaraan tersebut berlangsung.

  

Pertama kali badminton dipertandingkan di dalam Olimpiade pada tahun 1992, juara tunggal putra adalah Alan Budikusuma, dan juara tunggal putri adalah Susi Susanti, Ricky Subagya/Rexy Mainaly 1996,  Candra Wijaya/Tony Gunawan 2000, lalu berikutnya Taufiq Hidayat  2004, Markis Kido/Hendra Setiawan 2008 dan Greys/Apriyani 2002/2021. Semenjak digelar cabang bulutangkis dalam olimpiade, maka pemain Indonesia selalu menyumbangkan medali emas. 

  

Pada waktu olimpiade  Tokyo 2020/2021, sebenarnya yang menjadi harapan untuk mendulang medali emas adalah ganda putra, sebab ranking pertama dan kedua adalah pemain Indonesia. Tumpuan harapan tersebut berada di pundak ganda putra, sedangkan untuk ganda putri, tunggal putra dan ganda campuran tidak dibebani memperoleh medali emas, sebab persaingan di sektor tersebut datang dari pemain China, China Taipe, Denmark dan juga Malaysia. Namun, ternyata di lapangan sungguh berbeda. Pemain ganda putra Markus Gideon/Kevin Sanjaya justru tumbang di perempat final, sedangkan Greysia/Apri justru melaju ke semi final dan final, mengalahkan jagoan ganda putri Korea dan China. 

  

Pada putaran final Greys/Apri mengandaskan jagoan  China yang  sudah malang melintang dalam percaturan bulutangkis dunia. Greys/Apri berada di bawahnya dalam peringkat dunia WBF. Final yang sangat menegangkan, sebab mereka menjadi tumpuan bagi  Indonesia di dalam  mempertahankan perolehan medali emas  cabang bulutangkis. Ternyata Greys/Apri sungguh luar biasa. Dari yang semula dianggap sebagai underdog dalam pertarungannya melawan Chen Qing Cheng/Jiya Yifan akhirnya menjadi jawara. Semula masyarakat Indonesia harap-harap cemas, bahwa tipis peluang Greys/Apri untuk memenangkan pertarungan. Tetapi fakta berbicara lain, mereka memperoleh medali emas.

  

Saya menonton permainan bersama putri saya, Shiefti Dyah Elyusi yang ketepatan WFH. Kami berdua mencermati permainan yang disuguhkan oleh jagoan dunia bulutangkis. Mencermati poin demi poin, dan ketika poin direbut pemain China selalu menyatakan “waduh”, dan ketika Greys/Apri memenangkan poin maka mulut secara refleks berteriak  “mantap”, “hebat” dan seterusnya. Nyaris tidak dijumpai kesalahan berarti dalam set pertama, sebaliknya pemain China banyak melakukan kesalahan. Saya tidak tahu bagaimana dan apa yang terjadi dalam diri mereka, tetapi saya kira Greys/Apri bermain lepas, sehingga lebih bisa mengontrol permainan. Set pertama Gryes/Apri menang dengan skore 21-19. Set kedua juga sama, Grace dan Apri selalu leading dalam skor, dan menutup set kedua dengan angka 21-15. Sebuah perjuangan dramatis dan heroik dari putri-putri Indonesaia dalam dunia olahraga internasional, momen Olimpiade.

  

Begitu dinyatakan menang, Greys/Apri menangis sedu-sedan. Saya menyaksikan lewat layar kaca betapa panjang dan mendalam tangisan Greys. Sungguh peristiwa yang sangat spesial karena kemenangan tersebut bukan untuk dirinya saja tetapi untuk negara dan bangsa. Sebuah tangisan yang menggambarkan betapa beban berat yang disangga tentang nasionalisme dapat dilaluinya. Kemenangan ini terasa sungguh membanggakan seluruh masyarakat Indonesia. Momentum yang sangat heroik dan penuh dengan perasaan dan kesadaran sebagai masyarakat Indonesia. 

  

Peristiwa ini memberi makna bahwa nasionalisme itu merupakan kata kunci di dalam momen-momen olahraga. Mereka yang memenangkan pertarungan akan melambungkan negara dan bangsa. Pada saat Greys menangis, maka dua pemain China menghampirinya dan memeluknya. Sebuah bentuk persahabatan dalam relasi antar manusia dan bangsa. Mereka tidak mendendangkan the winner and the loser. Persahabatan menjadi kata kunci di dalam dunia olahraga yang berbalut dengan semangat nasionalisme. 

  

Ketika lagu Indonesia Raya berkumandang, maka rasanya menjadi moment untuk menyatakan: “Kami orang Indonesia”, “Kami juga bisa” dan “Kami adalah bangsa Indonesia”. Saya melihat tangis Apri yang tertahan dengan terus menyanyikan lagu Indonesia Raya. Pasca selesainya penganugerahan medali, saya lihat pemain China juga menangis, dan saya kira tangisannya itu melambangkan kegagalannya dalam memanggul tugas negara. Mereka saling berpelukan pasca pengalungan medali sebagai simbol kemenyatuan di antara bangsa-bangsa. Tiga bangsa: Indonesia, China dan Korea saling menyatu. Alangkah indahnya. 

  

Memang, momentum olimpiade berbeda dengan momentum kejuaraan bulutangkis pada umumnya. Saya sering melihat pemain Denmark, Viktor Axelsen, memenangkan kejuaraan dunia, tetapi sungguh sangat berbeda dengan momentum Olimpiade. Axelsen menangis juga lama sekali, dan itu sebagai symbol betapa dia telah menunaikan tugasnya dan berhasil menyumbangkan kebanggaan bagi negerinya. Olimpiade memang momen yang berbeda.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.