(Sumber : detikcom)

Hal yang Terlewatkan pada Debat Capres 2024 Tema Pendidikan

Opini

Oleh: Dr. Gigih Saputra, S.Kom.I, M.Ag

  

Pengantar

  

Debat capres terakhir menyuguhkan salah satu tema menarik yaitu pendidikan. Dalam debat terakhir itu, tiga capres memaparkan berbagai program dan menjawab pertanyaan dari panelis. Jujur saja, saya sangat antusias menyaksikan dan menganalisis perdebatan yang berlangsung pada tanggal 4 Februari 2024. Sayangnya, saya agak kecewa pada debat terakhir dan saya pikir kurang memenuhi ekspektasi saya selain ada juga hal-hal yang perlu diapresiasi.

  

Pembahasan 

  

Saya menangkap ada beberapa sub tema yang jadi kajian utama dalam tema pendidikan. Kesejahteraan dalam dunia pendidikan dan sebagian capres membahas tentang masalah kesejateraan dalam pendidikan dan administrasi yang menumpuk dalam karir dosen. Ada berbagai kebijakan yang disampaikan oleh tiga capres. Mulai dari percepatan sertifikat guru, beasiswa untuk guru, peningjkatan gaji, peningkatan kesejahteraan pendidik, memastikan status pendidik, penanggulangan praktek suap-menyuap, dan yang terbaru tentang pinjaman online untuk membayar biaya kuliah. Hal selain sub tema kesejahteraan pendidikan adalah penyederhanaan beban administrasi dosen. Tema-tema tersebut memang perlu dikaji dan ditingkatkan kualitasnya, namun ada beberapa isu fundamental yang terlewatkan.

  

Kajian pendidikan Indonesia teramat kompleks untuk dibahas hanya dalam waktu beberapa menit pada debat capres. Isu masih marakhnya perjokian karya ilmiah, meningkatkan kualitas riset dan daya saing riset, bahkan mengembangkan riset dasar untuk level kebaruan tertinggi yaitu teori baru masih sangat minim dikaji. 

  

Saya berharap isu pendidikan pada debat capres tak hanya membahas isu kebutuhan dasar seperti infrstruktur, status kepegawaian, dan kesejahteraan. Arah untuk  mencapai lompatan besar untuk meningkatkan daya saing riset nasional di kancah internasional begitu mendesak. Pendidikan Tinggi Indonesia wajib memiliki impian sebagai pusat ilmu di masa depan. Berabad-abad peradaban Barat cenderung menjadi kiblat ilmu pengetahuan. Berbagai konsep, paradigma, teori, dan lain sebagainya berasal dari Barat. 

  

Saya memimpikan kelak pendidikan Indonesia tidak sekedar menjadi konsumen atau pihak yang mengaplikasikan paradigma, konsep, teori, pendekatan. Indonesia perlu menjadi produsen ilmu pengetahuan itu sendiri. Riset-riset dasar perlu digiatkan mengingat riset dasar masih belum banyak ditemui di Indonesia. Hal itu telah diungkap oleh Inaya Rakhmani dan Fajri Siregar dalam riset yang berjudul Mereformasi Penelitian di Indonesia: Kebijakan dan Praktik.

  

Siapapun yang menjadi Presiden dan Wakil Presiden, saya berharap beberapa aspirasi saya dapat terpenuhi. Saya memili beberapa aspirasi untuk pendidikan ke depan:

1. Mengatasi perjokian tersistematis;

2. Penekanan, pengeksplisitan, pembentukan sistem terpadu riset dengan capaian dari konsep hingga teori baru untuk meningkatkan daya saing riset     nasional dan internasional;

3. Sistem karir dosen dan peneliti yang dapat memacu pencapaian teori baru setidaknya secara kolaboratif. 

  

Tiga poin aspirasi tersebut tak hanya saya suarakan, namun saya amaliahkan. Saya aktif mengisi webinar di berbagai kampus dan komunitas dan salah satu tema favorit saya adalah tentang novelty riset. Salah satu contohnya pada 30 November 2023 saya mengisi webinar berjudul Novelty Sebagai Kunci Hindari Plagiasi yang diadakan oleh Dunia Dosen yang berkolaborasi dengan Penerbit Deepublish. Saya bersyukur saat itu ada sekitar 560 peserta yang hadir. Di webinar itu saya menyampaikan tentang tips dan langkah menghasilkan kebaruan riset termasuk bagaimana mengembangkan dan menghasilkan teori baru. Tak lupa saya juga memberikan contoh temuan teori baru dalam disertasi. Hal yang tak kalah penting adalah motivasi besar untuk berkontribusi besar dan kepercayaan diri untuk meraih level kebaruan tertinggi. Hasil temuan teoritik dalam disertasi saya juga jadikan landasan pengenbangan peta jalan riset saya ke depan. Hal yang masih saya ingin kembangkan adalah bagaimana memberikan rekomendasi tentang sistem pendidikan yang dapat memberikan luaran berupa teori baru. Semoga saya dapat menyelesaikan tulisan itu!

  

Refleksi Singkat       

    

Pendidikan kita semestinya tidak sekedar memikirkan bagaimana agar sukses di dunia kerja. Janji-janji politik juga semestinya tidak hanya menekankan tentang aspek dasar yang berkaitan dengan kesejahteraan dan infrastruktur. Ada narasi yang lebih besar yang perlu digiatkan agar Indonesia bisa bersaing di kancah internasional. Akhir kata, saya berharap pesta demokrasi kali ini dapat mengantarkan pendidikan Indonesia untuk berproses menjadi pusat ilmu pengetahuan di masa depan dengan temuan-temuan teori baru.