(Sumber : Dokumentasi Penulis)

Kolaborasi untuk Kesuksesan: Pesan Khusus Untuk Mahasiswa Prodi KPI UINSA

Opini

Saya berkesempatan untuk menutup program perkuliahan pada Mahasiswa Khusus KPI yang terdiri dari para polisi dari Kepolisian Daerah Jawa Timur yang sedang menempuh kuliah berkat kerja sama antara Rektor UINSA dengan Kapolda Jawa Timur untuk kerja sama pembelajaran. Ada sebanyak 19 orang yang menempuh program Sarjana Strata I pada Prodi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) pada Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Ampel Surabaya, tahun pembelajaran 2025/2026. Kuliah diselenggarakan pada hari Rabu, 21/05/2025 di ruang kuliah FDK UINSA. Saya ditemani oleh Mevy Eka Nurhalizah, S.Sos., M.Sos. 

  

Saya tentu bersyukur bertemu dengan para mahasiswa yang terdiri dari para polisi tersebut. Pembelajaran ini menjadi penting, khususnya untuk membekali para polisi dalam studi untuk pendampingan masyarakat. Polisi sekarang merupakan aparat negara  yang tugasnya adalah menjadi sahabat masyarakat dalam program pembangunan nasional. Kehadiran mereka dalam program pembelajaran adalah untuk mengembangkan program “new Policeman” yang memiliki kebijakan dan kebajikan dalam mengembangkan  masyarakat dalam kerangka penguatan masyarakat untuk  pembangunan bangsa. Ada tiga hal yang saya sampaikan, yaitu: 

  

Pertama, bangunlah relasi sosial yang baik. Saya ajak para mahasiswa untuk membaca beberapa tulisan saya di  Web nursyam.uinsa.ac.id  yang bercerita tentang bagaimana pengaruh relasi sosial yang baik atas diri manusia. Relasi sosial yang baik akan memberikan kebahagiaan dan relasi sosial yang jelek akan membuat penderitaan. Saya menceritakan tentang pengalaman Pak Harun dan Mas  Haryadi yang keduanya memiliki pengalaman beragama  yang menarik untuk menjadi bahan renungan. Diceritakan bahwa selama 11 hari dalam posisi koma, maka diputar kembali berbagai peristiwa yang terkait dengan relasi sosial. Jika relasi sosial itu baik,  maka akan muncul kesenangan dan jika hubungan sosial itu jelek, maka terdapat kesakitan yang tak tertahankan. Ada kebisingan, ada suara keras seperti benda yang dipukul dan itu sangat sakit pada seluruh badan. Tidak kalah pentingnya adalah pengalaman religius yang dikemukakan oleh Mas Hariyadi, kala selama 10 hari tidak sadarkan diri atau koma pasca operasi kepalanya karena ada gumpalan darah di kepala akibat kecelakaan. Mas Har, demikian biasa saya memanggilnya, merupakan orang yang melazimkan baca Al-Qur’an satu juz bada Salat Shubuh lalu bersepeda, dan melazimkan membaca Surah Al Ikhlas. Selama tidak sadarkan diri tersebut dari mulutnya selalu dilafalkan bacaan Surah Al Ikhlas. Dia sadar karena mendengarkan azan Shubuh “Ash-shalatu khoirum munan naum.” Jadi pengalaman ini sebagai ibrah bahwa pengalaman beragama itu ada di dalam kehidupan manusia.

  

Polisi adalah pelayan masyarakat, makanya mengembangkan relasi sosial yang baik tentu sangat penting. Seorang polisi, sebagai penolong masyarakat di dalam keadaan yang tidak menguntungkan dirinya, di sini polisi harus tampil dengan relasi social yang sangat baik sehingga orang yang tidak beruntung tersebut akan merasakan kesenangan dan bahkan kebahagiaan. Perkataan, sikap  dan perilaku yang ditampilkan adalah yang baik agar orang lain menghargai atas perilaku dimaksud. Seorang sahabat tentu tidak akan pernah menciderai sahabatnya. Menjadi polisi yang baik adalah lahan ibadah yang luar biasa.

  

Kedua, berkomunikasi sebagaimana  prinsip di dalam Islam. Sesungguhnya Islam itu adalah agama yang mengajarkan kita semua untuk berprinsip dengan prinsip kehidupan yang baik. Jika berkata dengan perkataan yang baik. Jika bersikap dengan sikap yang baik. Jika berperilaku dengan perilaku yang baik. Serba baik. Islam memiliki prinsip komunikasi yang sangat menyejukkan, yaitu qaulan layyinan atau berkata dan berperilaku yang lemah lembut, penuh kesopanan, qaulan kariman atau bertutur kata dan berperilaku yang memuliakan orang. Jangan membuli, jangan berkata yang merendahkan derajadnya, jangan berkata yang membuat malu dan sebagainya. Qaulan balighan atau berkata yang jelas dan tegas. Katakan yang benar itu benar dan yang salah adalah salah. Katakan yang benar walaupun pahit. Jangan membolak-balik yang salah menjadi benar dan yang benar menjadi salah. Qaulan sadidan atau perkataan dan perlaku yang benar, penuh kejujuran, perkataan yang membuat percaya karena sesuai dengan fakta dan realitas.

  

Kita sedang hidup di era media sosial yang sedemikian digdaya. Banyak orang yang terpengaruh oleh konten media sosial. Jika di masa lalu dinyatakan “mulutmu harimaumu, maka sekarang tanganmu harimaumu.” Oleh karena itu kita harus menjaga mulut dan tangan kita agar tidak jatuh kepada pernyataan yang membuat orang lain menderita. Kita banyak mendengar ujaran kebencian padahal yang disampaikan itu ajaran Islam. Misalnya pernyataan yang mengkafir-kafirkan, membidh’ah-bidh’ah, mendhalim-dhalimkan dan ucapan hate speech atau membulli atas sikap dan perilaku agama sesama umat Islam. Ini yang membuat masalah dalam kaitannya dengan harmoni social. Jika Islam disebarkan dengan kebencian dan kekerasan, maka akan semakin banyak orang yang tidak simpati dengan Islam. Maka, bacalah buku saya: “Islam itu Indah” dan “Islam, Etika dan Kekuasaan” yang diterbitkan oleh Nur Syam Centre Publishing, 2024. Buku ini mengajak kita untuk membaca dan memahami Islam dengan kearifan.

  

Ketiga, kita juga hidup di era Milenium ke dua, yang mengharuskan seseorang terutama generasi muda, termasuk Gen-Z agar menguasai Four C atau empat kompetensi, yaitu: creative thinking and innovation atau berpikir kreatif dan menghasilkan inovasi. Agar berhasil dan sukses di dalam kehidupan, maka kita harus kreatif dan menghasilkan inovasi sekecil apapun inovasi tersebut. Lalu, Critical Thinking and problem solving atau berpikir kritis dan dapat menyelesaikan masalah. Bukan berpikir kritis yang destruktif tetapi berpikir kritis yang konstruktif, yang menghasilkan kebaikan. Kemudian, communications atau berkemampuan untuk berkomunikasi yang baik. Berbahasa, berkomunikasi dan berbuat yang baik yang membuat orang bisa bekerja sama. Terakhir adalah Collaborations atau kemampuan bekerjasama. Era sekarang adalah saatnya bekerja sama, siapa yang bisa membangun kerja sama adalah mereka yang berhasil. Jika kita memiliki 4C’s tersebut, maka kitalah yang akan memiliki masa depan.

  

Contoh orang sukses seperti Nadiem Makarim, adalah orang yang memiliki 4C’s tersebut. Melalui perusahaannya “GoJek” maka dia menjungkir balikkan teori perusahaan taksi. Di masa lalu perusahaan taksi harus memiliki taksi, tetapi oleh Nadiem diguncang bahwa pengusaha taksi hanya perlu aplikasi. Siapa yang ingin masuk perusahaan cukup mengisi aplikasi dan usaha jalan. Dia tidak sendirian tetapi dibantu oleh ahli teknologi informasi, ahli managemen, ahli komunikasi, ahli ekonomi mikro, ahli computer dan AI dan sebagainya. 

  

Jadi kerja sama ternyata mampu menjadi jalan untuk menuju kesuksesan. Jadilah kalian semua polisi yang sukses untuk Indonesia ke depan. Indonesia berada di tangan kaum muda. Generasi muda yang akan mensukseskan Indonesia Emas, 2045.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.