(Sumber : Rakyat Sulsel)

Memaknai Debat Capres dan Cawapres Pemilu 2024

Opini

Masyarakat Indonesia yang well educated, rasanya tidak melepas begitu saja acara debat calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) dalam pemilihan umum (Pemilu) 2024. Mereka yang paling getol untuk menonton dan memperhatikan adalah para pendukung atau tim sukses (timses) pada masing-masing capres dan cawapres. Merekalah yang bisa terlibat dalam haru biru pemilu di dalam setiap perhelatan pemilu sebagai wujud pelaksanaan demokrasi.

  

Perdebatan melalui televisi atau ruang publik dalam durasi waktu yang sangat terbatas tentu bukanlah medan untuk menilai siapa sesungguhnya capres atau cawapres dalam kapasitas yang sesungguhnya. Perdebatan dalam acara televisi sesungguhnya hanyalah merupakan acara ceremonial untuk memenuhi standar penilaian umum tentang capres atau cawapres. Perdebatan hanyalah untuk memberikan indikasi umum tentang pandangan capres dan cawapres dalam kapasitas sebagai calon pemimpin bangsa. Perdebatan hanyalah sebagai ritual liminal untuk memenuhi standar demokrasi yang telah ditetapkan regulasinya.

  

Setiap capres dan cawapres tentu memiliki tim ahli yang menggodok visi dan misi yang akan diemban sebagai capres dan cawapres. Kita bisa melihat kerja tim ahli di dalam pengungkapan visi dan misi capres dan cawapres. Sebagai pengamat tentu saya mengapresiasi atas kerja tim ahli di dalam menyusun visi dan misi capres dan cawapres dan juga bagaimana visi dan misi tersebut diungkapkan di dalam acara debat capres dan cawapres. Terlepas dari bagaimana mereka mengungkapkannya, akan tetapi sungguh sangat kentara persiapan yang dilakukan di dalam menyongsong debat capres dan cawapres, khususnya cawapres yang berdebat di acara televisi, beberapa saat yang lalu, 22/12/2023. 

  

Saya memperhatikan bukan pada siapa yang berdebat, sebab semuanya tentu sudah tahu baik secara khusus maupun umum tentang cawapres dalam pilpres 2024. Semua tentu mengenal siapa A. Muhaimin yang akrab dikenal sebagai Gus Imin, lalu siapa Gibran Rakabuming Raka dan juga Prof. Mahfud MD. Mereka semua memiliki pengalaman yang cukup memadai, misalnya Cak Imin yang selama ini berkiprah di DPR, lalu Gibran yang juga pengalaman menjadi walikota, dan Mahfud yang berkali-kali menjadi Menteri dan pejabat tinggi lainnya. Artinya, bahwa jika menggunakan ungkapan “pengalaman adalah guru yang terbaik” maka ketiganya telah memiliki sejumlah pengalaman yang terakumulasi di dalam dirinya. 

  

Sudah sangat banyak ulasan,  baik melalui media televisi maupun media tercetak dan media social. Semuanya melihat dari sudut pandang kepentingan para pengulas dan sesuai dengan pilihan politik hati nuraninya. Saya justru akan melihat dari perspektif because motives atas presentasi cawapres dalam perdebatan yang disiarkan oleh seluruh televisi nasional. Ada tiga hal yang saya anggap terkait dengan motif penyebabnya. Motif tersebut yaitu: pertama,  kekuatan tim pendamping capres atau cawapres. Debat yang dipresentasikan oleh masing-masing calon itu sungguh merupakan presentasi dari tim ahli atau tim pendamping. Saya melihat bahwa cawapres Gibran didampingi oleh tim yang sangat berpengalaman dalam bidangnya. Tidak hanya tim materi visi dan misi, akan tetapi juga gesture dan diksi-diksi yang menjadi pilihan kata dalam perdebatan dimaksud. Terus terang banyak orang yang “kaget” dengan tampilan Gibran, sebab banyak yang selama ini menganggap remeh atas kemampuan walikota Solo yang masuk menjadi cawapres karena factor-faktor politik regulative. Melalui otoritas Presiden Jokowi, maka bisa melakukan pilihan atas siapa yang mendampinginya berbasis pada keahlian yang dimilikinya. Saya membayangkan berapa kali training terukur yang dilakukan untuk menyiapkan Gibran agar tampil optimal. Anggapan minir atas Gibran membuat tim pendampingnya bekerja keras untuk menyiapkannya. 

  

Kedua, persoalannya bukan terletak pada membaca atau hafal, akan tetapi adalah bagaimana seseorang menyiapkan secara matang atas bahan visi, misi, tampilan, ekspresi dan gaya bicara. Mahfud dan Muhaimin adalah orang panggung yang terbiasa untuk melakukan orasi, diskusi, debat dan kegiatan tukar pikiran meskipun demikian  harus hati-hati dalam membuat kesimpulan sebab yang disampaikan bukan hanya pandangan pribadi tetapi pandangan partai yang mengusungnya. Jika kemudian Gibran tidak menggunakan catatan untuk penarikan kesimpulan karena memang sudah dihafalkannya. Oleh karena itu perdebatan bukan pada level hafal atau tidak hafal, membaca catatan atau tidak, akan tetapi pada kualitas pernyataan yang diungkapkannya. 

  

Ketiga, kapasitas dalam perdebatan tentu tidak menggambarkan secara keseluruhan atas bagaimana visi dan misi tersebut diimplementasikan. Perdebatan capres dan cawapres merupakan keharusan secara administrative dan regulative, artinya bahwa perdebatan merupakan bagian tidak terpisahkan atas pencalonan sebagai presiden dan wakil presiden. 

  

Seluruh visi dan misi yang sudah dishare secara terbatas tentu sudah diupayakan sebagai kerangka solutif atas problem masyarakat dan bangsa. Visi tersebut diletakkan di dalam kerangka tujuan nasional dalam bernegara dan berbangsa yaitu untuk mencerdaskan bangsa, menyejahterakan rakyat, melindungi rakyat dan membangun perdamaian dunia berdasar atas keadilan dan pemerataan. 

  

Visi tersebut kemudian diterjemahkan di dalam misi dan program, yang saya yakin masih tetap akan menggunakan RPJMN 2019-2024, yaitu pembangunan berkelanjutan dengan memperhatikan keberhasilan di masa lalu, dan bagaimana menyusun program dan upaya pencapaian atas program yang baru yang inovatif. Di dalam debat tersebut memang belum optimal diungkapkan tentang visi dan misi ekonomi ke depan secara substantif dan juga program apa yang secara substantif akan mengembangkan kesejahteraan masyarakat.

  

Islam tentu mengajarkan agar kita tetap menjaga pencapaian yang baik dan membuat yang baru yang berpotensi untuk lebih baik. Al muhafadhatu ‘alal qadimish shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah

  

Wallahu a’lam bi al shawab.