(Sumber : farmalkes.kemkes.go.id)

Mewaspadai Covid-19 Pada Anak Sekolahan

Opini

Banyak orang yang beranggapan bahwa pandemic Covid-19 sudah selesai. Di banyak tempat kita bisa melihat ada orang-orang yang sudah melepas masker dan juga berkerumun. Dianggapnya bahwa Pandemi Covid-19 sudah usai. Di pasar, di mall, di café, di tempat hiburan bahkan di masjid juga sudah dijumpai orang-orang yang sudah tidak merasa bahwa pandemic Covid-19 masih berada di sekitarnya. Sebagai virus, maka Covid-19 tentu akan bisa datang lagi jika masih terdapat perantara atau medium untuk penularannya. 

  

Masyarakat tampaknya sedang beruforia dengan kebebasan pasca Pelaksanaan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang cukup lama dialaminya. Makanya, ketika dilakukan pelonggaran, masyarakat seperti memendam rasa untuk menjadi bebas dalam melakukan aktivitas dalam banyak hal. Di bidang ekonomi, memang pasca PPKM terjadi lonjakan aktivitas ekonomi yang luar biasa dalam banyak sektor. Hingga hari ini  tetap dilakukan pembatasan-pembatasan, misalnya yang bisa memasuki mall atau restoran, café dan tempat umum adalah mereka yang sudah vaksin dan dapat menunjukkannya melalui aplikasi Peduli Lindungi.  Bagi yang sudah memiliki, dapat  melakukan scan atas aplikasi tersebut, namun tetap diperiksa suhu tubuhnya oleh petugas dan harus cuci tangan. Jika dapat memenuhi standar ini, maka mereka akan diperkenankan untuk memasuki ruang publik. Bagi yang tidak memenuhi persyaratan ini, maka tidak ada peluang untuk memasuki ruang-ruang publik yang sudah dibuka. 

  

Kita memang  melihat pada banyak ruang publik yang sudah dipenuhi oleh masyarakat. Mall sudah mulai ramai, pusat perdagangan, pasar, hotel, café, restaurant, tempat hiburan dan lainnya juga sudah membuka diri. Namun demikian tetap ada pembatasan, misalnya kalau kita ke Starbuck, maka hanya dibatasi selama satu jam dengan protokol kesehatan yang ketat. Tetapi hotel-hotel sudah membuka diri sepenuhnya. Artinya, orang yang datang untuk menginap atau mengikuti acara-acara meeting dan sebagainya sudah cukup ramai. Di Hotel Whindam Surabaya,  Hotel Arya Duta Bandung atau Hotel Lumire Atrium Jakarta sudah kelihatan ramai karena kegiatan-kegiatan meeting yang terdapat di dalamnya.

  

Secara psikologis, masyarakat Indonesia semakin yakin bahwa Covid-19 sudah mulai hilang dari Indonesia. Makanya, mereka mulai berani untuk melakukan berbagai kegiatan luring yang cukup signifikan dalam jumlah dan kualitasnya. Masyarakat mulai merasa nyaman untuk bepergian meskipun dengan tetap menjaga prokes yang lumayan ketat. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan di hotel tetap harus menjaga prokes yang ketat. Tidak ada yang secara sembrono melakukan kegiatan dengan tanpa memperhatikan dimensi prokes tersebut. 

  

Secara sosiologis, masyarakat juga sudah melakukan relasi sosial individual maupun kelompok. Mereka sudah memastikan bahwa keadaan sudah aman dan nyaman. Meskipun demikian, penjagaan prokes juga tetap dilakukan. Hal yang juga sudah melakukan berbagai kegiatan luring adalah sekolah, madrasah dan pesantren. Ketiga lembaga ini  sudah menyelenggarakan Pertemuan Tatap Muka (PTM). Banyak lembaga pendidikan terutama yang zona PPKM I sudah melakukan luring dalam progam pembelajaran. Baik sekolah/madrasah dalam berbagai jenjang Pendidikan sudah melakukan program luring. Hal ini tentu menandai bahwa suasana kesehatan yang terkait dengan Pandemi Covid-19 sudah reda bahkan sudah nyaris hilang. Orang tua sudah rela mengirimkan putra-putrinya untuk belajar sistem luring. Hal ini tentu terkait dengan betapa rumitnya program daring dan keharusan keterliban orang tua. Sistem daring mengharuskan keterlibatan orang tua terutama pada anak-anak dalam jenjang pendidikan dasar. Betapa ribetnya bagi orang tua, apalagi jika kedua orang tuanya sama-sama bekerja. Makanya, sambutan atas kembalinya system luring tentu disambut dengan suka cita.

  

Namun demikian suasana tersebut bisa berubah dalam sekejap. Di Bandung terdapat sebanyak 224 siswa dan 19 guru positif Covid-19. Sebanyak 50 sekolah di Bandung kembali Pendidikan Jarak Jauh (PJJ). Berdasarkan pemeriksaan terhadap sebanyak 7.515 siswa dari 190 sekolah dinyatakan bahwa terdapat sebanyak 243 siswa (3,2 persen) positif Covid-19, dan negatif sebanyak 7.272 (96, 8%). Makanya, Bandung kembali menetapkan agar diberlakukan program PJJ untuk menghindari semakin banyak penularan terhadap Covid-19. 

  

Di lembaga-lembaga Pendidikan, baik di bawah Kemendikbud maupun Kemenag, sekarang banyak yang sudah menerapkan PTM meskipun terbatas. Artinya bahwa institusi Pendidikan sudah melakukan upaya agar luring bisa dilakukan. Misalnya terdapat lembaga Pendidikan yang meminta kepada orang tua/wali murid untuk memberikan persetujuan bagi terselenggaranya PTM. Melalui strategi semacam ini, maka terjadi proses kesepahaman tentang penerapan PTM.

  

Secara umum, banyak orang tua/wali murid yang senang dengan sekolah system luring. Melalui system ini, maka orang tua/wali murid bisa konsentrasi bekerja, apalagi sekarang juga sudah diberlakukan kerja luring. Melalui perubahan status aman dari Pandemi Covid-19, maka perkantoran juga sudah membuka diri untuk kerja di kantor, tidak lagi WFH. 

  

Namun demikian, di tengah semakin terbukanya akses publik, maka sebenarnya juga masih menyisakan persoalan, yaitu masih tetap adanya peluang orang tertular Covid-19. Termasuk juga para siswa sebagaimana terjadi di Bandung. Oleh karena itu dirasakan harus tetap waspada terhadap Covid-19 dengan tetap menerapkan protocol Kesehatan secara optimal. Lebih baik mencegah dari pada mengobati.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.