(Sumber : Viva )

Palestina Sebagai Kuburan Anak-Anak: Kekejaman Israel

Opini

Perang Palestina melawan Israel belum diketahui kapan akan berakhir. Keduanya masih terlibat di dalam baku tembak sebagai upaya untuk saling mengalahkan. Keduanya juga mengklaim sebagai pemenang dalam pertempuran darat yang dilakukannya. Perang ini tentu dipicu oleh berbagai aksi militer Israel di dalam keinginan untuk menguasai wilayah Gaza di dalam rengkuhan kekuasaannya.

  

Semenjak serangan Hamas atas Israel pada Sabtu, 07/10/2023, maka perang antara keduanya tidak kunjung selesai. Israel kemudian membalas atas serangan Palestina dengan melakukan tindakan bumi hangus yang dahsyat. Tidak hanya merusak dan membombardir perumahan penduduk di wilayah Gaza tetapi juga tempat ibadah, rumah sakit dan apa saja yang bisa dihancurkan. Bahkan Rumah Sakit Indonesia di Wilayah Gaza juga dibombardir dengan roket-roket Israel. 

  

Perang ini juga tidak akan segera berakhir. Hamas sebagai anak ideologis Ikhwanul Muslimin memang hanya mensyaratkan perang sebagai upaya untuk memerdekakan Palestina. Tidak ada kata perdamaian. Yang ada hanya perang dan perang. Hamas memiliki militansi yang sangat luar biasa di dalam melakukan tindakan melawan atas arogansi Israel yang didukung oleh kekuatan besar, Amerika, Inggris dan lain-lain. Berbeda dengan al Fatah yang masih menyisakan ruang untuk berdamai dengan persyaratan yang tidak merugikan salah satu pihak. Selama ini yang melakukan negosiasi adalah organisasi Al Fattah yang memang bisa memberikan peluang untuk bernegosiasi. 

  

Namun demikian, Israel juga melakukan tindakan menangkap dan melakukan penjarahan atas wilayah yang selama ini diklaim sebagai wilayah Palestina. Bahkan mereka mengabsahkan pemukiman Israel di wilayah Gaza. Meskipun terdapat reaksi dunia yang menolak tindakan Israel, akan tetapi karena merasa mendapat dukungan kuat dari Amerika dan negara-negara  Eropa, maka Israel selalu nekad melakukan tindakan anti-humanisme. Misalnya berkali-kali melakukan serangan atas umat Islam yang beribadah di Masjidil Aqsha. 

  

Dalam sebulan, tentara Israel telah membunuh sebanyak 4.237 anak-anak. Itulah sebabnya Sekjen PBB Guiterrez menyatakan bahwa Palestina adalah kuburan anak-anak. Anak-anak melarikan diri dari serangan membabi buta Israel atas wilayah Rafa atau wilayah Selatan Gaza. Israel melakukannya dengan kekerasan melalui roket-roket canggih. Anak-anak berlarian pontang panting saat tentara Israel, Israel Defence Force (IDF) memborbardir wilayah Rafa tersebut. Israel sudah tidak peduli lagi, bahwa Rumah Sakit tidak boleh diserang. Karena serangan tersebut, maka terdapat sebanyak 10.328 warga Pelestina yang wafat semenjak perang 7 Oktober 2023. (JP, 08/11/23).

  

Israel melakukan tindakan kekerasan terhadap warga Palestina dengan dukungan Amerika Serikat dan Inggris. Selain juga negara-negara Barat yang senada dengan dua negara ini dalam memandang relasi Palestina dan Israel. Amerika Serikat dikenal sebagai negara dengan kebijakan double standart  dalam melihat relasi antara Palestina dan Israel. Definisi yang digunakan dalam pemaknaan terorisme, sungguh sangat berbeda. Jika yang melakukan  tindakan kekerasan tersebut tantara Israel, maka tidak dianggap sebagai gerakan teroris, akan tetapi jika yang melakukannya itu adalah orang Palestina mesti dianggapnya sebagai gerakan terorisme. Melihat gerakan terorisme dengan kacamata yang berbeda. 

  

Perang adalah tragedi kemanusiaan. Setiap perang yang dilakukan tidak akan pernah menguntungkan siapapun. Baik yang menang maupun yang kalah. Yang kalah tentu hancur lebur dan yang menang juga harus melakukan rekonstruksi atas bangunan fisik atau psikhologis akibat perang. Demikian pula yang kalah juga akan merasakan penderitan yang luar biasa. Ada yang menyatakan bahwa untuk memulihkan bangunan fisik yang rusak akibat perang dibutuhkan satu generasi. Bahkan untuk memulihkan psikhologisnya, membutuhkan  dua generasi. Dalam satu generasi, maka sisa kekejaman perang masih akan dirasakan sebagai penderitaan yang luar biasa. 

  

Israel kelihatannya juga sudah ogah untuk melakukan negosiasi. Bagi Israel dan sekutunya, maka Hamas harus menyerah. Tidak ada kata damai sebelum Hamas melakukannya. Ini yang dinyatakan oleh para petinggi Israel dalam berbagai kesempatan. Amerika Serikat juga tetap berada di dalam pendapatnya bahwa Hamas adalah kaum teroris yang tentunya harus dienyahkan dari dunia. Bagi mereka itu, Hamas sebagai organisasi teroris tentu tidak ada tempat di dalam politik Palestina. Sementara itu, Hamas juga tidak kalah garang. Tidak ada kata mundur dalam perang dengan Israel. Militansinya sangat membara luar biasa. Tidak ada kata penyerah. Mereka akan terus melawan dan menyerang pada saat yang tepat.  

  

Perang juga akan menghasilkan spiral kekerasan. Bisa dibayangkan bagaimana kenekadan anak-anak Palestina yang hanya bersenjata ketapel melawan tentara Israel dengan baju dan persenjataan lengkap. Semua dilakukan karena spiral kekerasan. Kekerasan ternyata akan membawa kekerasan baru. Dalam kasus perang di manapun maka akan meninggalkan bekas luka social yang dalam. Dan yang paling menyedihkan bahwa perang dapat merusak peradaban manusia. Selain itu juga menyebabkan kebencian yang tak tertandingi, sehingga tidak ada kata lain kecuali melakukan pembalasan. Entah kapan.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.