(Sumber : East Ventures)

Para Pengguna Artificial Intelligent

Opini

Meskipun Indonesia itu negara berkembang, tidak sebagaimana negara-negara Barat yang sudah menjadi negara maju, akan tetapi keterlibatan penduduknya untuk menggunakan internet dan media social tergolong sangat tinggi. Media sosial sudah tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat. 

   

Berdasarkan pengguna internet di Indonesia didapatkan angka sebesar 185 juta pada bulan Januari 2024. (Databoks, 27/02/2024).  Dan  berdasarkan data lain disebutkan bahwa pada bulan Oktober sebesar 221 juta, padahal pada tahun 2014 baru sebesar 88,1 juta. Menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa  Internet Indonesia (APJII) bahwa kenaikan rata-rata pengguna internet di Indonesia sebesar 2,67%. Dari survey tentang penetrasi internet Indonesia tahun 2014-2024, pertumbuhan pengguna internet dengan  tingkat penetrasinya sebesar 79,5%. Sedangkan jumlah pengguna internet juga nyaris berimbang antara lelaki dan perempuan, 50,7% dan 49,1%. Sementara itu generasi Z menyumbang sebagai pengguna internet sebesar 34,40%. (RRI.co.id, 01/10/2024). 

  

Membaca  data di atas memberikan pemahaman bahwa masyarakat Indonesia sudah sangat akrab di dalam relasinya dengan internet, dan secara lebih lanjut dapat dinyatakan bahwa masyarakat Indonesia juga sudah terlibat dengan dunia media social, meskipun tentu saja terbatas tentang pemanfaatan media social dimaksud. Misalnya yang paling banyak adalah pengguna WhatsApp, Facebook, twitter, dan Instagram. Meskipun demikian, data di atas memberikan gambaran bahwa meskipun negara Indonesia tergolong negara berkembang tetapi penggunaan jaringan internet relative sudah maju.

  

Berdasarkan survey yang dilakukan oleh Alvara Research Center terhadap sebesar 1.800 responden didapatkan gambaran mengenai tujuan menggunakan ArtificiaI Inteligent (AI) adalah sebagai berikut: 

  

Survei yang dilakukan Alvara Research Center menemukan ada tiga tipologi pengguna AI di Indonesia, yaitu: sebagai asisten untuk menulis, terjemah atau koteksi teks 38,8%, mempelajari hal-hal baru 35,8%, menyelesaikan tugas pekerjaan 28,8%, menjawab pertanyaan tentang berbagai topik 28,5%, membuat konten untuk dibagikan  di media social 19,3%, Meminta saran tentang produk, jasa, atau merek sebelum memilih 17,8%, membantu dalam pencarian kerja 13,0%, mempelajari bahasa baru dan atau melatih kemampuan 9,4%, memulai percakapan untuk menghibur diri 9,3% dan meminta saran tentang situasi pribadi (secara psikhologis) 5,5%. 

  

Berdasarkan riset Alvara juga diketahui bahwa di antara para pengguna AI dapat ditipologikan sebagai berikut: 

  

1. AI Enthusiast, mereka memiliki pemahaman yang baik terhadap AI dan percaya bahwa AI bermanfaat untuk manusia, mereka juga pioner dalam menggunakan AI

2. AI Adopter, mereka sedikit terlambat dalam menggunakan AI, tapi masih percaya kebermanfaatan AI.

3. AI Skeptisism, mereka menilai AI lebih banyak negatifnya dibanding sisi positifnya.

  

Berdasarkan tipologi di atas juga dipaparkan tentang penggunakan aplikasi pada masing-masing tipologi sebagai berikut: Tipologi AI Enthusiast menggunakan ChatGPT 63,3%, Luminar.ai 5,2%, Gemini 14,3%, Copilot 3,9%, lainnya 16,9% dan tidak satupun 26,0%. Pada tipologi AI Adopter menggunakan ChatGPT 35,6%, Gemini 9,0%, Luminar.ai 2,5%, Copy.ai 8,6%, lainnya 9,0% dan tidak satupun 46,2%. AI skepticism menggunakan ChatGPT 10,1%, Gemini 5,4%, Copy.ai 2,0%, Luminar.ai 2,0%, tidak satupun 1,3% dan Copilot 1,3%. 

  

Di dalam data yang dikemukakan oleh Alvara Research Center didapati pada semua tipologi mayoritas menggunakan ChatGPT. Hal ini tentu dapat dibaca bahwa yang banyak menggunakannya adalah para mahasiswa atau generasi Z. Kenyatannya, banyak mahasiswa yang mengerjakan tugas perkuliahan, misalnya menulis makalah, artikel, bahkan menulis tesis dan disertasi yang menggunakan ChatGPT. Bukankah ChatGPT akan dengan cepat dapat menelusuri berbagai macam permintaan penggunanya. Misalnya untuk kepentingan menemukan judul makalah, tugas artikel, bahkan penelitian terdahulu. Betapa cepatnya ChatGPT dapat memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang dikemukakan. Bahkan permintaan untuk membuat latar belakang masalah. Semuanya bisa diselesaikan dengan sekali klik. Google Search yang selama ini menjadi tempat bertanya sudah “dikalahkan” oleh aplikasi lainnya. 

  

Para dosen atau guru tentu tidak bisa menolak kehadiran aplikasi ini. Melalui ChatGPT misalnya, maka seseorang akan dapat dengan mudah menemukan apa yang diinginkannya, dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan. Maka yang sungguh diperlukan adalah menggunakan aplikasi yang bervariasi dengan kecerdasan yang dimiliki. Bolehlah karena zaman, akan digunakan chatGPT untuk membuat latar belakang masalah,  tetapi jangan lupa bahwa seseorang  memiliki kemampuan rasional dan etikal yang bisa membantu menemukan apa yang diinginkan dengan kecerdasan kemanusiaan. 

  

Saya banyak menyampaikan di kalangan akademisi, bahwa akademisi boleh salah tetapi jangan bohong. Artinya, bahwa temuan kita dapat  difalsifikasi atau diverifikasi, makanya jangan takut salah,  asalkan kesalahan tersebut tidak berasal dari kebohongan. Yang sungguh merupakan dosa besar menurut ilmu pengetahuan adalah kebohongan. 

  

Itulah sebabnya di tengah gelegak AI, maka tetap harus dikedepankan etika dan semangat akademis berbasis pada kebenaran sesuai dengan level kebenaran yang kita inginkan. Bisa melewati empiris sensual, empiris rasional, empiris etis dan bahkan empiris transcendental. Hal yang penting jangan pernah berbohong.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.