Perjalanan umrah: Jamaah Umrah Terasa Jamaah Haji (Bagian Kelima)
OpiniMungkin ada di antara orang Sekularis atau atheis yang menyatakan bahwa umat Islam itu mengejar sesuatu yang tidak jelas, yang tidak rasional, yang tidak menguntungkan, yang berorientasi ke dunia gaib yang tidak bisa dijelaskan dengan akal yang paling hebat sekalipun. Pertanyaan ini sangat pantas diungkapkan oleh mereka yang tidak meyakini tentang keberadaan Tuhan dan segala atribut yang melekat pada-Nya. Agama memang penuh dengan dunia keyakinan yang terkadang tidak bisa dijelaskan dengan kemampuan rasional manusia.
Sedangkan bagi umat beragama, bahwa kegaiban adalah titik tertinggi di dalam keyakinan beragama. Kepercayaan kepada Allah, keberadaan Malaikat, eksistensi Surga dan Neraka, alam barzakh, alam akhirat dan segala keyakinan yang berkaitan dengan agama. Dan agama menjadi agama jika di dalamnya terdapat ajaran tentang keyakinan tentang kegaiban-kegaiban yang hanya bisa dipercaya tetapi tidak bisa. dinalar. Itulah sebabnya, sudah semenjak 4.000 atau 5.000 SM, manusia sudah mencari Tuhan, dan ada yang bertemu melalui ajaran agama dan ada yang tidak menemukannya karena tidak mempercayainya.
Islam adalah agama yang mempercayai adanya dunia kenabian di dalam semua agama. Nabi yang diturunkan oleh Allah SWT mulai dari Nabi Adam AS sampai Nabi Muhammad SAW. Agama-agama Semitis, Yahudi, Nasrani dan Islam, mempercayai adanya Nabi Adam sebagai manusia pertama yang membawa risalah Ketuhanan. Umat Islam wajib mempercayai kenabian nabi-nabi dimaksud. Hanya kaum Yahudi Dan Nasrani yang tidak meyakini keberadaan Nabi Muhammad SAW. Umat Islam mempercayai bahwa Isa AS sebagaimana nabi-nabi lainnya. Demikian pula meyakini akan keberadaan Nabi Musa dan seluruh keturunan yang menjadi Nabi-Nabi Allah. Namun berdasarkan kajian antar teks, bahwa Nabi-Nabi sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qur’an adalah tokoh historis dan bukan tokoh rekayasa atau tokoh fiktif.
Syariat Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW di dalam banyak hal adalah untuk memperkuat dan merekonstruksi atas syariat Nabi-Nabi sebelumnya. Misalnya risalah tentang haji, yang di masa lalu dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS, sebagai Bapak monotheisme, yang melahirkan agama Yahudi, Nasrani dan Islam. Ibadah Haji diwahyukan dan diamalkan oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Ibadah haji juga tetap dilakukan oleh Kaum Quraisy dan lainnya. Hanya saja sudah tidak lagi semurni sebagaimana norma ajaran yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim. Ada tambahan dan pengurangan sebagai akibat atas tafsir agama yang dilakukan oleh mereka. Jarak waktu yang sangat panjang menyebabkan terjadinya perubahan demi perubahan di dalam upacara haji.
Nabi Muhammad kemudian merekonstruksi tentang ibadah Haji sebagaimana yang dilakukan di zaman Nabi Ibrahim. Nabi Muhammad SAW melakukan ortodoksi atas heterodoksi di dalam upacara haji. Dan yang dilakukan umat Islam sekarang adalah melakukan haji sebagaimana dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Di sana sini memang ada perubahan tetapi bukan yang mendasar, cabangnya saja, misalnya perluasan wilayah Mina karena untuk menampung jamaah haji yang mencapai angka empat juta sampai lima juta.
Jamaah umrah juga membeludak luar biasa. Hal ini sungguh berbeda dengan jamaah umrah pada tahun-tahun sebelumnya. Jika mengamati terhadap jamaah shalat rawatib, maka bisa dibayangkan betapa banyaknya jamaah umrah kali ini, khusus bulan Rajab, sebab nyaris tidak ada tempat yang kosong dari jamaah shalat rawatib. Halaman masjid sampai di hotel-hotel di sekitar Masjidil Haram semua terisi penuh dengan jamaah umrah. Sebagaimana yang disampaikan oleh perwakilan Aza Tour and Travel, bahwa betapa sulitnya untuk menemukan akomodasi bagi jamaah umrah. Hotel-hotel yang ring satu semuanya terisi penuh.
Sebelumnya sudah saya tuliskan bahwa salah satu factor penyebab semakin meningkatnya jamaah umrah disebabkan lamanya masa tunggu. Ada orang yang sudah sangat berkeinginan untuk datang bercengkerama dengan rumah Allah maka kemudian melampiaskannya dengan melakukan umrah. Tetapi juga terdapat variable lain yang sungguh berpengaruh signifikan, yaitu semakin meningkatnya kesejahteraan masyarakat Islam. Asumsi kita bahwa semakin sejahtera masyarakat Islam maka semakin besar peluang untuk melakukan ritual umrah di Tanah Suci. Banyaknya jamaah umrah juga berpengaruh terhadap hunian hotel-hotel di Makkah Al Mukarramah. Tidak hanya hotel ring satu, tetapi juga ring dua dan tiga. Salah seorang jamaah dari Makasar yang ditempatkan di hotel ring tiga akhirnya pindah sendiri untuk bisa masuk di hotel ring satu. Dinyatakannya bahwa tujuannya ke Makkah adalah untuk ibadah. Jika tempatnya jauh, maka akan mendapati kesulitan.
Rasionalitas transcendental semacam ini yang tidak akan bisa dipahami oleh kaum rasional atau kaum secular. Bagi mereka itu, uang sebesar 36 juta sampai 40 juta akan bisa bermanfaat untuk kepentingan duniawi dan bukan digunakan untuk kepentingan yang tidak jelas secara akal.
Mereka hanya menggunakan pilihan rasional, sementara kaum agamawan menggunakan pilihan supra rasional. Orang bisa berkali-kali datang ke Masjidil Haram didasari oleh in order to motives atau tindakan rasional bertujuan yang berupa menginginkan keridlaan Allah SWT. Dan mereka merasakannya tempat ini yang menjawabnya.
Wallahu a’lam bi al shawab.

