(Sumber : RRI)

Riuh Rendah Pilihan Presiden 2024 dalam Media Sosial

Opini

Salah satu yang membuat kita relative merasakan kedamaian di dalam pilpres 2024 adalah karena rendahnya persoalan kekerasan social dan politik identitas. Selama ini yang meramaikan berbagai pilihan umum, baik pada level presiden/wakil presiden, gubernur/wakil gubernur atau bupati/wakil bupati dan walikota/wawali kota adalah mengenai politik identitas. Masih terngiang di telinga kita tentang pilgub DKI dan juga kekerasan politik di masa lalu di dalam pilkada, dan sebagainya. 

  

Tidak demikian halnya di media social. Media social rupanya telah menjadi “medan pertarungan” antar pendukung, tim sukses dan juga komunitas-komunitas pendukung pasangan calon (paslon) calon presiden (capres) yang akan bertarung nanti pada tanggal 14 Pebruai 2024. Waktunya memang sudah semakin dekat. Tinggal menghitung hari. Makanya, keramaian pilpres juga menunjukkan terjadinya peningkatan. 

  

Tidak bisa dipungkiri bahwa keramaian tersebut terjadi pasca kampanye melalui media televisi yang lalu, khususnya debat cawapres, antara Prof. Mahfud, MD, Cak Imin dan Mas Gibran. Ketiga cawapres yang melakukan debat tersebut memantik respon bervariasi dari netizen, tim sukses, pendukung dan komunitas-komunitas yang terlibat di dalam pencalonan capres dan cawapres. Ramai sekali di media social. Bagi yang suka melihat atau mendengarkan media social, maka kegerahan dalam menghadapi pilpres itu sangat terasa. 

  

Terjadi gelombang serangan yang luar biasa dahsyat di media social. Terutama antara pendukung Mas Gibran dan Pak Mahfud terkait dengan debat cawapres dimaksud. Di media social betapa riuh rendah perdebatan yang menyajikan perilaku Mas Gibran atas cawapres lain, tidak hanya Pak Mahfud tetapi juga ke Cak Imin. Ungkapan dan gimmick yang dilakukan Mas Gibran dianggap sebagai sesuatu yang baru dalam dunia debat di dalam pilpres. Pertanyaan Mas Gibran yang mengandung “teka-teki” seperti greenflation dan lithium ferro-phosphate, yang mengundang banyak pro-kontra. Pertanyaan-pertanyaan ini dianggap sebagai pertanyaan yang “recehan” oleh Pak Mahfud dan dianggap sebagai pertanyaan yang seharusnya mengedepankan etika. 

  

Terlepas dari bagaimana pengaruh debat cawapres, apakah mendongkrak atau justru mendown-grade keterpilihan capres dan cawapres, akan tetapi yang jelas bahwa ada beberapa tipologi yang bisa dungkapkan. Catatan ini bukan untuk mengarahkan pada pasangan tertentu, akan tetapi mencoba untuk mengedepankan bagaimana seharusnya dialog atau debat yang disajikan di dalam acara resmi, apalagi debat calon pemimpin bangsa di masa depan, sekurang-kurangnya lima tahun ke depan.

  

Pertama, pandangan kaum netralis. Di dalam pandangan kelompok ini, maka di dalam berbagai acara baik itu dialog atau perdebatan dalam level apapun, politik atau bukan, maka yang diperlukan adalah kematangan jiwa. Tidak hanya kematangan pemikiran akan tetapi yang juga penting adalah bagaimana seseorang menampilkan diri di dalam situasi yang paling krusial sekalipun. Di dalam keadaan terdesak atau mungkin tidak dapat menjawab atas pertanyaan yang menyudutkan dan bahkan berkeinginan mendowngrade lawannya, maka  harus tetap dengan jiwa yang agung dan menunjukkan kematangan. 

  

Seharusnya tidak dilakukan upaya untuk menjatuhkan lawan politik, dengan pertanyaan yang terkesan sebagai teka-teki dengan membuat istilah yang secara sengaja dipilih untuk kepentingan itu. Seharusnya pertanyaan tersebut dirumuskan di dalam ungkapan visioner yang terkait dengan problem bangsa. Pertanyaan greenflation pun boleh diungkapkan tetapi rumuskan dalam pertanyaan yang terkait dengan visi atas masalah tersebut.  Yang paling baik tentu saja jika pertanyaan tersebut dikaitkan dengan visi dan misi yang sudah diungkapkan oleh lawan debatnya.

  

Kedua,  pandangan kaum loyalis. Bagi kaum loyalis maka   tidak ada sedikitpun yang salah di dalam perdebatan. Jika ada pertanyaan yang menyerang atas lawan debatnya juga tidak menjadi masalah. Dan bahkan dianggap itulah kekuatannya. Bagi kalangan ini, biasanya para politisi, akan menjadi kebanggaan jika di dalam perdebatan itu seseorang bisa mengalahkan lawannya. Dan ukuran kekalahan adalah kala lawan debatnya itu tidak mampu menjawabnya. Di dalam dunia politik ada sebuah ungkapan “membunuh atau dibunuh”. Tentu bukan membunuh secara fisikal tetapi membunuh ide atau gagasan, membunuh karakter. Ungkapan membunuh atau dibunuh adalah ungkapan simbolis untuk menggambarkan perlawanan yang berdarah-darah dengan berbagai cara. Yang penting tujuan tercapai. Mungkin tidak sampai sebagaimana pikiran Machiavelli, akan tetapi realitas pembunuhan karakter di dalam dunia politik bukan sesuatu yang baru. Di dalam semua paslon terdapat kelompok ini. Mereka yang dengan sekuat tenaga berupaya untuk memenangkan calonnya. 

  

Ketiga,  pandangan kaum moralis. Bagi kaum moralis, maka dibalik tindakan apapun harus bersubstansi moral atau etika. Etika menyangkut hubungan antar sesama manusia yang mempertimbangkan aspek senioritas, pengalaman kehidupan, dan relasi sosialnya. Di dalam peristiwa apapun, termasuk dalam perdebatan untuk menuju kursi No. 1 atau No. 2 di Indonesia, maka etika itu harus menjadi pertimbangan utama. Etika selalu mengambil dua posisi, baik dan buruk, beretika atau tidak beretika. 

  

Melalui konsep etika, maka segalanya menjadi terukur berbasis pada etika social atau etika agama. Masyarakat Indonesia tentu merupakan masyarakat yang religious, sehingga segalanya dikembalikan pada aspek keagamaan. Jadi pantas atau tidak pantas, baik atau buruk, beretika atau tidak, sopan atau tidak lalu  akan diukur bagaimana tindakan seseorang di dalam menghadapi orang lain. Mereka yang muda menghormati yang tua, yang sedikit pengalaman menghormati yang lebih banyak pengalamannya, dan seterusnya. 

  

Tentu saja, pandangan ini bisa plus minus, artinya bahwa tidaklah menjadi ukuran yang berharga mati, karena tentu masih ada ruang lain yang tetap bisa memberikan nilai lebih pada paslon,  baik presiden atau wakil presiden. Selalu ada ruang yang bisa memberikan nilai minus dan plus, bisa jadi ada yang plus-plus, dan ada yang plus minus. Dan semua ini sangat tergantung pada posisi mana seseorang berada.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.