(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Ternyata Pak Jokowi Pilih Dua Periode

Opini

Hiruk pikuk media sosial akhirnya usai sudah dalam kaitannya dengan masa jabatan presiden, sebab Pak Jokowi dengan tegas menolak tambahan masa jabatan presiden, baik tambahan jabatan yang diakibatkan oleh penundaan pemilu maupun perpanjangan jabatan dari dua periode ke tiga periode. Pernyataan tegas Pak Jokowi langsung menghentikan postingan yang dipublish media sosial, baik Twitter, Instagram, Facebook, dan WhatsApp. Semua berhenti membicarakan peluang dan tantangan penambahan masa jabatan presiden.

  

Pak Jokowi sejak awal memang tidak menghendaki tambahan masa jabatan presiden. Jika kemudian beliau secara tegas  menyatakannya, tentu bukan karena tindakan unjuk rasa para mahasiswa (21/4/2022) atau tekanan dari yang pro ataupun kontra atas perpanjangan masa jabatan presiden.  Pak Jokowi semenjak awalnya memang menyatakan agar semua masyarakat menjadikan Undang-Undang sebagai pedoman dalam menjalankan tugas kenegaraan. Kalau diperhatikan ungkapan-ungkapannya sebenarnya tampak jelas melakukan  penolakan tersebut, meskipun oleh media sosial dianggap sebagai ungkapan yang inkonsisten dan bertolak belakang dengan  apa yang sebenarnya menjadi pikiran Pak Jokowi.

  

Melalui penjelasan yang disampaikannya secara tegas sekaligus memupus atas pro dan kontra perpanjangan masa jabatan presiden. Semenjak itu, perbincangan hangat tentang Pak Jokowi dua periode atau toga periode lantas berhenti. Semua konten media sosial sudah tidak lagi membahas tentang peluang untuk memperpanjang jabatan. Hal yang masih tersisa di media sosial adalah penilaian  prestasi Pak Jokowi dalam memimpin bangsa Indonesia. Masih terdapat dua pemilahan tentang prestasi presiden, ada yang kontra dan ada yang pro atas kinerja Presiden Jokowi. Misalnya tentang hutang luar negeri, kerja sama dengan China, penanganan Covid-19, pemerintah yang semakin otoriter, dan korupsi yang semakin meluas, baik jangkauannya maupun kuantitas dan kualitasnya.

  

Semakin menguatnya pro-kontra tentang kinerja presiden, sebenarnya dipicu oleh berbagai kepentingan politik. Hal yang paling dominan sebenarnya adalah kepentingan politik untuk mengusung calon presiden yang akan datang. Kelompok Islamis, tetapi tidak selalu identik dengan partai politik, adalah kelompok yang selama ini paling kritis terhadap kinerja presiden. Mereka  adalah kelompok yang menginginkan agar calon presiden yang  akan datang merupakan orang yang bersesuaian dengan visi dan misinya untuk masa depan Indonesia. Isu-isu yang dijadikan sebagai konten media sosialnya merupakan konten yang “menghujat” atau “kegagalan” Pak Jokowi dan kabinetnya. Nyaris tidak didapati kebaikan dalam pemerintahan sekarang.  Mereka sungguh-sungguh menginginkan agar calon presiden yang akan datang bukan datang dari kelompok Pak Jokowi. 

  

Jika kita mengamati atas hasil survei tentang calon presiden (capres)  yang akan datang (2024), maka hanya ada dua nama yang berada di luar ring Jokowi, yaitu Anis Baswedan dan Agus Harimurti. Mereka yang lain, seperti Puan Maharani, Ganjar Pranowo merupakan orang dalam meskipun sering dibenturkan, sementara Prabowo Subianto, Ridlwan Kamil, Sandiaga Uno, Erick Thohir dan lainnya berada di dalam posisi wait and see. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Populi Center, maka didapati nama-nama yang potensial untuk menjadi presiden dan wakil presiden. Di antaranya adalah Prabowo Subianto  dan Ganjar Pranowo masing-masing 24%, Anies Baswedan 12,1%, Sandiaga Uno 6,3%, Ridwan Kamil 5%, Agus Harimurti 4%, Andika Perkasa, Erick Thohir dan Airlangga Hartarto berkisar pada 0,9% sampai 2,4%. Puan Maharani 2,4%. (Populi Center 24 April 2022). Berdasarkan survei ini juga diprediksi pertarungan dalam pilpres akan menjadi ramai jika Prabowo-Puan bertemu dengan Ganjar-Anis atau Ganjar-AHY atau Airlangga Hartarto. 

  

Jika memperhatikan surevi ini, maka posisi Ganjar yang selama ini menjadi tokoh penting di dalam PDIP akan bertarung dengan Puan Maharani. Jika kursi capres sudah diberikan kepada Puan oleh PDIP, maka Ganjar pasti akan diambil oleh Partai lain, maka peluang terbesar adalah AHY dengan kendaraan Partai Demokrat. Maka bisa diprediksi, nanti akan ada tiga capres, yaitu yaitu Partai Gerindra dan PDIP, Demokrat dan koalisi partai lain, dan yang peting juga Anies yang dipastikan akan diusung oleh PKS dan koalisinya.  PKB, PAN, NASDEM dan lain-lain akan wait and see. Mereka akan melihat capres mana yang diperkirakan leading dalam pemilu.

  

Meskipun pembicaraan tentang capres sudah sedemikian menggema akhir-akhir ini, akan tetapi popularitas Pak Jokowi di mata masyarakat masih terjaga. Makanya, jika kemudian terdapat keinginan di kalangan loyalis Pak Jokowi untuk menambah satu periode, maka sesungguhnya diindikatori oleh potensi Pak Jokowi yang masih besar untuk "nyapres." Terlepas pro-kontra atas data yang dijadikan sebagai pijakan tetapi pilihan rasional sebagaimana pemikiran James Coleman harus dilakukan. Di dalam konsepsi Coleman  bahwa manusia memiliki kemampuan untuk memilih perilaku yang paling rasional, dan di dalam kasus Pak Jokowi, maka pilihan dua periode adalah pilihan yang paling baik. Pilihan rasional tersebut tentu bisa berlandaskan motive penyebab, yaitu pilihan normative berbasis regulasi dan juga lingkungan sosial yang dirasakan secara eksternal berpengaruh atas pilihan rasional dimaksud.

  

Pak Jokowi saya kira sudah on the track dengan pilihannya. Sebagaimana seorang pemimpin tentu ada plus dan minusnya. Tetapi yang penting jangan sampai kita merasa bahwa gajah di pelupuk mata tidak kelihatan sementara itu semut di seberang lautan kelihatan dengan jelas. Kritik tentu penting, tetapi jangan sampai kita membunuh karakternya.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.