Umat Masa Depan: Nilai Religius di Tengah Perubahan Budaya
OpiniTidak hanya aspek social dan teknologi yang terjadi perubahan cepat, akan tetapi budaya masyarakat juga bergerak cepat di tengah arus kehidupan yang semakin global. Melalui kehidupan global, maka dunia dapat dilipat dalam genggaman tangan. Akibatnya banyak terjadi perubahan demi perubahan yang terjadi karena perubahan cepat kebudayaan dimaksud. Inilah yang dikonsepsikan oleh Prof. Dr. Nasaruddin Umar, Menag, dengan ungkapan cultural shock yang sekarang sedang melanda dunia selain technological shock, social shock dan theological shock.
Dunia kita sekarang sedang dilanda “ketakutan global” sebagai akibat anomali musim, efek rumah kaca, perubahan iklim, perkembangan AI dan juga berkait kelindan dengan perilaku manusia yang permissive. Di dalam pengembangan teknologi, relasi social dan juga kehidupan menjadi semakin jauh dari nilai-nilai religious. Sesungguhnya manusia berada di dalam bayangan kehidupan yang suram yang diakibatkan oleh anomali dalam berbagai sektor kehidupan.
Cultural shock atau kejutan budaya menghampiri seluruh kehidupan masyarakat di dunia. Tidak ada suatu masyarakatpun yang terhindar dari kejutan budaya yang terjadi di tengah kehidupannya. Cultural shock adalah suatu keadaan yang berupa ketidakmampuan yang diderita oleh seseorang, komunitas atau masyarakat di tengah perubahan budaya yang cepat sehingga merasakan tekanan dan bahkan stress karena ketidakmampuannya untuk beradaptasi secara cepat atas perubahan budaya dimaksud. Ada beberapa konsep penting di dalam cultural shock, yaitu: ketidakmampuan adaptasi atas budaya baru yang mendegradasi budaya lama, baik yang berupa nilai atau norma yang dirasakan oleh individu, komunitas dan masyarakat. Lalu, adanya tekanan yang menyebabkan stress karena tidak mampu untuk beradaptasi karena terjadi perubahan budaya yang cepat. Kecemasan akibat ketidakmampuan yang dirasakan secara individual, komunitas atau massyarakat, di mana perubahan budaya tersebut mengancam secara bersama-sama.
Masyarakat Indonesia selama ini dikenal sebagai masyarakat yang begitu menghargai nilai, norma dan religiositasitas yang sangat tinggi. Bahkan dinobatkan sebagai masyarakat yang paling relgius dengan Tingkat kepercayaan tertinggi tentang Tuhan. Namun demikian, serbuan budaya luar ternyata sangat besar. Misalnya dikenal budaya K-Pop atau Korean Wave, budaya Barat yang permissive, budaya AI yang banyak menihilkan pekerjaan manusia atau ada banyak pekerjaan yang akan digantikan oleh AI misalnya pekerjaan-pekerjaan rutin yang tidak memerlukan dimensi perasaan dan kedalaman pikiran, dan sebagainya.
Manusia dan masyarakat berada di dalam kegalauan di dalam menghadapi perubahan cepat dalam budaya. Tekanan-tekanan budaya seperti ini, yang kemudian menghasilkan adanya stress, ketakutan dan kegalauan sehingga dapat menyebabkan terjadinya ketidakpercayaan diri di dalam menghadapi masa depan.
Masyarakat dunia terus berubah. Di Tengah modernisasi yang semakin mengedepan dengan perangkat teknologi informasi yang deras, ternyata menyisakan ruang kesepian. Ruang di mana tidak semua orang modern dapat mengakses kehidupan dengan kesetaraan. Ada kalanya, Masyarakat dunia begitu gemerlap tetapi hatinya kosong. Relasi sosialnya nihil, sehingga menghasilkan jiwa-jiwa yang tidak nyaman di dalam menghadapi kehidupan. gejala bunuh diri yang semakin tinggi tidak hanya di Jepang akan tetapi juga di negeri lain yentu menjadi pertanda kakalahan manusia atas tantangan zamannya.
Dunia pekerjaan yang semakin luas tetapi dikuasai oleh robot humanoid juga menyisakan problem budaya bagi manusia. Kenyataannya, robot-robot yang dibikin oleh manusia dapat meminggirkannya. Kehidupan manusia akhirnya berada di dalam keserbasulitan karena semakin banyaknya tantangan yang tidak mampu menyelesaikannya. Manusia memang makhluk cerdas, akan tetapi juga tidak menutup kemungkinan ada celah-celah kecerdasan yang tidak bisa menyelesaikan problem secara tuntas.
Islam sebagai institutional religion, tentu memiliki seperangkat ajaran yang dapat dipergunakan untuk menjadi pedoman dalam menghadapi cultural shock. Islam sesungguhnya memiliki nilai-nilai agung seperti nilai solidaritas, nilai harmoni social, nilai perubahan social, nilai keadilan, nilai kesamaan dan nilai keteraturan social. Nyaris tidak dijumpai nilai kekerasan dan nilai konflik social di dalam ajaran agama-agama. Nilai-nilai tersebut dapat dijadikan sebagai basis bagi adaptasi diri di dalam kehidupan social. Jika terdapat budaya baru dalam kehidupan social di sekeliling kita, maka dapatlah dipanggil nilai adaptasi social kritis alih-alih penggunaan nilai konflik social. Adaptasi dimaksudkan sebagai proses mengadaptasi nilai yang baik dan meninggalkan yang jelek.
Di tengah budaya yang terus berubah, maka Islam menawarkan konsep yang sangat relevan dengan perubahan yang cepat, yaitu konsep keajegan dan perubahan atau continuity and change. Di antara prinsip Islam adalah mempertahankan tradisi lama yang masih baik dan mengembangkan tradisi baru yang lebih bermanfaat. Kita tidak larut dengan perubahan budaya yang merugikan kemanusiaan akan tetapi mengambil unsur positif yang bermanfaat bagi kemanusiaan.
Manusia diberi kekuatan untuk melakukan pilihan, dan di antara pilihan tersebut adalah mempertahankan tradisi yang baik dan tetap adaptif atas budaya baru yang tetap bermanfaat. Masyarakat Indonesia dikenal sebagai Masyarakat yang religious yang mengedepan keseimbangan relasi social dam relasi ketuhanan, maka di sinilah masyarakat Indonesia akan bisa mengarungi perubahan-perubahan budaya yang cepat dengan sikap yang cerdas.
Wallahu a’lam bi al shawab.

