(Sumber : Antara NEWS)

Ramadhan di Tengah Reruntuhan: Keteguhan Gaza Menjaga Cahaya Iman

Informasi

Eva Putriya Hasanah 

  

Ramadhan 1447 Hijriah pada Februari–Maret 2026, warga Jalur Gaza tidak menatap bulan sabit dengan gegap gempita seperti tahun-tahun silam. Tak ada gemerlap lampu menghiasi jalan, tak ada pasar malam yang riuh oleh tawa anak-anak. Yang tersisa adalah hamparan puing, bangunan-bangunan yang runtuh, serta luka panjang akibat genosida berkepanjangan oleh Israel.

  

Ramadhan kali ini hadir bukan sebagai perayaan yang mudah, melainkan sebagai ujian kesabaran yang begitu nyata.

  

Kehidupan di Antara Puing dan Doa

  

Sebagian besar infrastruktur di Gaza porak-poranda. Rumah, sekolah, fasilitas kesehatan, hingga masjid tak luput dari kehancuran. Banyak masjid kini hanya menyisakan dinding retak dan kubah yang roboh. Di tempat-tempat itulah warga tetap datang—bukan untuk meratakan kehancuran, tetapi untuk bersujud.

  

Ruang-ruang salat darurat didirikan dari kayu seadanya dan lembaran plastik tipis. Di kamp-kamp pengungsian, hamparan karpet sederhana menjadi saksi barisan jamaah tarawih yang berdiri rapat, seolah ingin saling menguatkan. Di antara dinginnya malam dan suara angin yang menyusup dari celah tenda, ayat-ayat suci tetap dilantunkan dengan suara bergetar namun teguh.

  

Beberapa keluarga bahkan berbuka puasa di atas puing masjid yang dahulu menjadi pusat kehidupan spiritual mereka. Di atas reruntuhan itu, kurma dibagikan, air dituangkan ke dalam gelas sederhana, dan doa dipanjatkan. Tradisi tetap terjaga—meski dalam bentuk yang jauh lebih sederhana.


Baca Juga : Penegak Hukum, Masyarakat dan Gerakan Terorisme

  

Kelangkaan yang Menguji Ketabahan

  

Bulan suci yang biasanya identik dengan kelimpahan hidangan kini menjadi momen penuh keterbatasan. Perekonomian Gaza lumpuh. Pasar tradisional yang dahulu ramai kini sepi, banyak pedagang kehilangan modal, dan pekerjaan menjadi langka.

  

Harga bahan pokok melambung tinggi. Bagi banyak keluarga, sahur mungkin hanya terdiri dari roti kering dan air, sementara buka puasa tak selalu lebih baik. Namun dalam keterbatasan itu, semangat berbagi tidak padam. Mereka yang mempunyai sedikit, tetap berusaha menyisihkan sebagian untuk tetangga.

  

Musim dingin memperberat keadaan. Hujan deras kerap mengguyur kamp-kamp pengungsian yang beratapkan terpal tipis. Lantai tanah berubah becek, udara dingin menembus selimut seadanya. Anak-anak tidur berdesakan untuk menghangatkan diri. Ramadhan di Gaza bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga bertahan dari dingin dan ketidakpastian.

  

Simbol-Simbol Harapan yang Tak Padam

  

Di tengah duka, warga tetap menyalakan cahaya kecil. Lampion sederhana digantung di antara bangunan yang rusak. Tulisan “Ahlan wa Sahlan ya Ramadhan” terpampang di dinding yang penuh retakan. Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya hiasan. Namun bagi warga Gaza, itu adalah pernyataan: mereka masih ada, mereka masih berharap.

  

Ramadhan menjadi ruang untuk menegaskan kembali jati diri dan keyakinan. Iman menjadi sandaran saat dunia terasa runtuh. Doa menjadi bahasa yang paling jujur ​​untuk menyampaikan kerinduan pada kedamaian.

  


Baca Juga : Bahaya Jerat Pinjaman Online

Ramadhan sebagai Pengingat dan Pengharapan

   

Bagi keluarga yang kehilangan orang tercinta, Ramadhan membawa kesedihan yang mendalam. Kursi kosong di meja buka puasa menjadi simbol kehilangan yang tak tergantikan. Namun justru dalam keheningan itu, doa-doa yang dipanjatkan lebih khusyuk.

  

Ramadhan di Gaza tahun ini bukan tentang kemewahan hidangan atau perayaan kemeriahan. Ia adalah tentang bertahan. Tentang menjaga cahaya iman di tengah situasi gelapnya. Tentang solidaritas yang lahir dari penderitaan bersama.

  

Di tanah yang penuh cerita dan luka ini, warga Gaza mengajarkan makna Ramadhan yang paling hakiki: kesabaran, keteguhan, dan harapan bahwa setelah kesulitan, akan datang kemudahan.

  

Dan di antara  itu, lampu kecil tetap menyala.