Pengukir
pepelingOleh: Jambedaweh
Mari kita mulai ulasan ini dengan menghadiahkan manfaat dan berkah dari bacaan surat al-Fatihah untuk tokoh kita yang luar biasa, Pak Hasan. Kita juga berharap Allah melimpahkan keberkahan dari bacaan surat tersebut dan keberkahan Pak Hasan kepada kita semua. Untuk beliau dengan niat tersebut, al-Fatihah.
Hamba Allah yang kita pelajari pada kesempatan ini biasa disapa Pak Hasan. Sehari-hari mengajar di beberapa madrasah dalam mata pelajaran tafsir, pelajaran yang kerap menjadi momok bagi murid-muridnya. Berwajah tampan berwibawa, berkulit kuning langsat, bertutur kata fasih dan mudah dimengerti, berpenampilan rapi, dan keberadaannya menimbulkan keseganan bagi lingkungan sekitarnya.
Pak Hasan bukanlah termasuk orang kaya di kampung kami, namun bukan juga termasuk sebagai orang miskin. Tanda bahwa beliau bukan orang kaya paling tidak dapat dilihat dari motor bebek butut yang digunakannya bermobilisasi tiap hari. Sedangkan, tanda bahwa Pak Hasan bukan orang miskin dapat ditengarai dari anak-anaknya yang mampu sekolah sampai pada jenjang perguruan tinggi.
Tulisan tangannya sangat indah, baik aksara latin maupun arab. Biasanya Pak Hasan menulis dengan cepat. Ketika lisannya menguraikan tema-tema pelajaran, bisa dipastikan murid-muridnya terdiam dan khusyuk menyimak penjelasan tersebut. Penjelasannya mempesona, detail, berurutan, dan pasti merupakan nutrisi pengetahuan baru bagi murid-muridnya, sehingga sulit menemukan muridnya Pak Hasan beranjak untuk sekedar ijin ke kamar kecil saat pelajaran berlangsung. Bahkan, mungkin karena saking khusyuknya, di antara mereka kerap tertidur mendengkur.
Anehnya, tidak pernah ditemui Pak Hasan membangunkan muridnya yang tertidur selama pelajarannya berlangsung. Bahkan, bila ada murid lain yang menggoda atau mencoba membangunkan temannya yang tertidur selama pelajaran tafsir berlangsung, Pak Hasan melarangnya dengan halus. Tampak kesan kekhawatiran dan ketidaksetujuan pada diri Pak Hasan bila muridnya yang tertidur di kelasnya bangun. Sehingga muncul kesimpulan dalam benak murid-muridnya, bahwa tidur pada jam pelajaran tafsir lebih baik daripada terjaga dan bersusah payah menahan kantuk.
Bisa jadi sosok Pak Hasan sangat kuat melekat pada diri murid-muridnya bukan disebabkan oleh materi pelajaran yang disampaikannya. Walaupun jelas bahwa tafsir merupakan ilmu yang mulia karena bersandar pada sesuatu yang mulia, yaitu Alquran. Bukan juga disebabkan oleh penampilannya yang rapi dan mengesankan. Tapi lebih disebabkan oleh cara beliau memperlakukan murid-muridnya.
Kami yang pernah belajar pada Pak Hasan, tidak pernah menjumpai beliau menghardik, menyalahkan, menyudutkan, berkata kasar, dan bahkan bersuara dengan intonasi lebih tinggi dari suara muridnya. Itu dari sisi ucapan. Pada aspek perilaku, tidak pernah kami menemui tingkah laku Pak Hasan yang tidak patut dicontoh, baik di madrasah maupun tengah lingkungan warga kampung. Wajah, sorot mata, dan dawuh-dawuhnya bagai energi yang mampu memasuki kesadaran kejiwaan murid-muridnya. Mereka yang bersalah tergerak menjadi benar di hadapan Pak Hasan, dan mereka yang benar tergerak untuk tak menepuk dada dan menengadahkan kepala di depan Pak Hasan. Si nakal dan si patuh, si pintar dan si bodoh, serta si rajin dan si malas, semuanya tunduk menyerah di tangan Pak Hasan tanpa merasakan kekerasan walau hanya seujung rambut.
Baca Juga : Isu Penting dalam Pemerintahan Demokratis
Anehnya, walau tidak sedang mengajar, tiap pagi sekitar sejam sebelum jam pertama dimulai, Pak Hasan sudah datang di madrasah. Terkadang guru kita ini memeriksa kelas-kelas, mengecek beberapa kamar mandi, atau menyisir tiap sudut komplek madrasah. Bila ditemukan hal yang menurutnya kurang tepat, tanpa menunggu petugas kebersihan, beliau langsung mengeksekusi sesuatu yang dirasakannya janggal itu. Maka melihat Pak Hasan membersihkan kaca dengan kemucing, menyapu lantai dari satu sudut halaman atau kelas, menghapus papan tulis, dan merapikan meja-kursi kelas, merupakan pemandangan yang sudah biasa. Terutama bagi petugas kebersihan, guru, dan murid-murid di madrasah kami. Walau fragmen itu sebenarnya menjadi tamparan bagi kami, tapi ya memang itulah kebiasaan Pak Hasan saat pagi di madrasah. Kebiasaan yang kemudian kami biarkan terus terjadi dengan kepandiran kami yang hanya sebagai pemirsa, bukan sebagai pelaku.
Pernah sekali waktu salah seorang di antara kami menanyakan mengapa beliau tetap ke madrasah walau tidak ada jam mengajar. “Saya ingin menunaikan zakat”, begitulah jawaban singkatnya. Jawaban yang sampai beberapa tahun kemudian bahkan hingga kini tak kunjung kami mengerti apa makna, maksudnya, apalagi tujuannya. Belakangan ini kami tahu bahwa zakatnya ilmu itu mengajar dan mengamalkannya. Maka kami menyimpulkan bahwa kebiasaan Pak Hasan datang ke madrasah walau tidak ada jam mengajar itu untuk menunaikan zakatnya sebagai orang berilmu. Tapi itu kesimpulan kami sendiri, bukan sejatinya motif Pak Hasan.
Mengapa Pak Hasan sangat disegani oleh orang-orang sekitarnya, terutama bagi yang berusia sebaya dengannya? Di samping memang performennya yang mengagumkan dan penuh keteladanan, ternyata ada hal lain yang menyebabkannya. Pak Rois yang menjadi guru seangkatan dengan Pak Hasan pernah menyampaikan pada kami bahwa Pak Hasan itu murid generasi pertama dari Kyai Hasyim, pendiri madrasah tempat kami belajar. Maka ibarat air, Pak Hasan merupakan telaga pertama yang langsung terisi dari mata air sebagai sumbernya.
Pak Rois membandingkan bahwa murid-murid angkatan pertama dari madrasah ini belajarnya berbeda dengan umumnya murid di zaman ini. “Dulu murid-murid Kyai Hasyim itu datang ke sekolah bukan hanya membawa kitab. Mereka membawa batu bata, genting, dan bahkan ada yang membawa kerikil kali (sungai). Lalu mereka ikut membantu pembangunan madrasah ini sebelum pulang ke rumah masing-masing. Jadi Pak Hasan itu murid pertama Kyai Hasyim yang ikut membangun madrasah ini dengan harta dan tenaganya.” Begitulah Pak Rois mengisahkan sepenggal cerita dari murid-murid periode pertama dari Kyai Hasyim. Mungkin penuturan Pak Rois itu menegaskan posisi genuinitas keilmuan Pak Hasan.
Selain itu, Pak Hasan hafal betul nama, tempat tinggal, dan nama orang tua atau wali murid dari seluruh siswanya. Bila dihitung dari awal beliau mengajar pada awal tahun 70-an, mungkin sudah ribuan file nama orang yang ada di memori ingatannya. Tidak jelas apa yang menyebabkan beliau memiliki ingatan secemerlang itu. Apakah karena memang beliau kerap kali berkunjung ke wali murid dan terutama ini beliau lakukan pada murid-murid yang dikenal nakal sekedar hanya bersilaturrahim tanpa menyinggung kenakalan anak-anak mereka. Ataukah ada faktor lain, sampai kini kami juga tidak tahu.
Kabar duka kami terima beberapa hari lalu yang mengabarkan bahwa Pak Hasan tertimpa kecelakaan saat bersepeda motor seperti biasa dalam perjalanan menuju madrasah. Kami para murid yang dulu belajar pada beliau membuat janji untuk sowan membesuk Pak Hasan di ndalemnya. Saat sowan, kami melihat ada seorang pemuda duduk di pembaringan kamar pribadi Pak Hasan dan menangis tersedu-sedu di hadapan beliau. Tidak ada orang lain di kamar itu, selain Pak Hasan dan pemuda tersebut. Kami juga tidak merasa mengenalnya. Tapi melihat betapa nestapanya tangisan penyesalan si pemuda, ditambah dengan betapa hangatnya perlakuan Pak Hasan padanya, kami dapat menyimpulkan bahwa si pemuda itu memiliki hubungan yang sangat erat dengan Pak Hasan. Paling tidak ia merupakan murid yang istimewa. Bagi kami itu wajar mengingat betapa istimewanya perlakuan Pak Hasan pada semua orang, terutama murid-muridnya.
Setelah agak lama menunggu, pemuda tersebut keluar kamar dan menyempatkan bersalaman dengan kami. Tapi pemuda itu tidak langsung pulang, melainkan duduk menyendiri di teras sambil terus menampilkan wajahnya yang penuh kesedihan. Tanpa berpikir panjang, ganti kami yang menghadap Pak Hasan di kamarnya. Beliau terlihat ringkih dengan balutan perban di kepala, tangan, dan kakinya. Putra sulung beliau yang ikut mendampingi kami menyampaikan bahwa Pak Hasan ditabrak dari belakang saat berangkat mengajar. Mendengar itu, kami sangat marah dan seolah-olah saling berjanji akan mencari si penabrak untuk membuat perhitungan.
Tak berlama-lama, kami pamit undur diri. Di pojok serambi depan ndalem Pak Hasan, kami masih melihat pemuda tadi masih duduk menyendiri dengan pilu. Kami putuskan untuk menghampirinya untuk sekedar berkenalan sebagai sesama orang yang merasa dekat dengan Pak Hasan. Setelah berbasa-basi, akhirnya kami tahu bahwa pemuda itu juga murid Pak Hasan, tapi ia baru belajar di madrasah saat kami sudah lulus.
Pemuda itu mengucapkan satu kalimat yang membuat kami terkejut. “Sayalah yang menabrak Pak Hasan.” Belum surut kekagetan kami, ia menjelaskan kronologi peristiwa naas tersebut. Bahwa pagi itu ia tergesa-gesa berangkat ke kampus untuk mengajar. Oleh sebab keteledorannya, ia menabrak Pak Hasan yang bersepeda pelan di pinggir ruas jalan. Ia menyampaikan pada kami bahwa pada saat kejadian, dirinyalah yang pingsan dan dirawat oleh Pak Hasan, orang yang ditabraknya. Baru setelah ia sadar dan dapat menguasai diri, Pak Hasan terjatuh dan merasakan sakit di bagian kepalanya. Lalu ia membawa Pak Hasan ke rumah sakit terdekat untuk mendapat perawatan. Ironisnya, ia mengaku tidak mengenali bahwa yang ditabraknya adalah Pak Hasan, gurunya. Justru Pak Hasan yang mengenali dirinya sebagai murid beliau. Si penabrak yang murid tak mengenali yang ditabrak itu gurunya.
Amarah kami yang awalnya memuncak, surut perlahan-lahan melihat pemuda itu menampilkan penyesalan mendalam. Di akhir perbincangan singkat tersebut, kami menanyakan apa nasehat Pak Hasan pada pemuda tersebut. Nasehat seorang guru yang ditabrak muridnya, dan ironisnya si murid tidak lagi mengenalinya sebagai gurunya. Pemuda itu tidak menjawab, tapi malah kembali menangis dan terkesan mengalami tekanan yang lebih dahsyat.
Justru putera Pak Hasan yang kemudian berbicara, padahal dari semula ia hanya diam memperhatikan perbincangan di antara kami dan pemuda tersebut. “Bapak bersyukur Mas ini menabraknya, tidak menabrak orang lain.” Ucapnya sambil mengarahkan jempol tangan kanannya pada pemuda tersebut. Kami saling berpandangan tak mengerti. Lalu putra Pak Hasan meneruskan kalimatnya. “Kata Bapak, saat seorang murid menabrak atau mencelakai gurunya, itu bukan kecelakaan. Itu tanda kembalinya jiwa murid pada hati gurunya. Kecelakaan sesungguhnya bagi seorang guru adalah pada saat muridnya mencelakai orang lain.” Isak tangis pemuda itu makin menjadi-jadi mendengar penuturan tersebut.
Kalimat tersebut rasanya tak mungkin keluar dari mulut pengajar yang merendahkan pengajaran sebagai pekerjaan duniawi. Tak mungkin juga diucapkan oleh pengajar yang menganggap sertifikasi sebagai ganti rugi. Kalimat itu rasanya hanya mungkin keluar dari jiwa yang mampu mengukir jiwa lain dengan kejernihan dan ketajaman mata hatinya. Mata hati yang tajam bak pisau Sang Pengukir.

