(Sumber : NU Online )

Sang Matematikawan

pepeling

Oleh: Jambedaweh

  

Sebelum meneruskan runutan ulasan, marilah kita kirimkan hadiah bacaan surat al-Fatihah pada siapapun tokoh yang termaktub dengan misi tabarrukan, istifadah, dan intifa’ kebaikan. Lahumul Fatihah.

  

Terlahir di Madiun dalam keluarga priyayi Jawa yang memiliki tradisi sebagai penguasa desa sampai puluhan tahun, tokoh kita kali ini memulai kehidupannya dengan menempuh pendidikan yang kala itu disebut Sekolah Rakyat (SR). Orang tuanya birokrat pemerintahan desa sekaligus pedagang dengan aset terbesar di kawasan sekitarnya. Hal ini membentuknya menjadi pedagang dari remaja karena harus menerima pulung meneruskan usaha keluarga. Tapi darah pejabat dan pedagang tidak merubah orientasi dan pilihan hidup keluarga tokoh kita ini untuk mengantar generasi penerusnya menempuh pendidikan sampai jenjang maksimal.

  

Para saudara tokoh kita ini tercatat telah berhasil menamatkan pendidikan di beberapa kampus ternama, dan kini kebanyakan mereka menjadi akademisi di kampus tersebut. Sedang tokoh kita ini sempat tidak lulus tes seleksi penerimaan mahasiswa baru dalam program studi tertentu. Tapi kemudian dalam kebimbangan yang bersangkutan mendaftar pada program studi yang sama sekali tidak diminatinya. Anehnya dia lulus, menyelesaikan studinya bahkan sampai tingkat magister di Houston University, lalu menjadi pengajar pada universitas terkemuka di Surabaya. Walaupun itu dilaluinya dengan ketertundaan kelulusan karena lebih senang meneruskan hobi lamanya, berdagang.

  

Paparan ini tidak menguraikan kemahirannya berenang di antara rumus-rumus matematika dalam menguliti semesta dalam perspektif angka. Paparan ini juga tidak mengulas prestasi akademisnya dan mampu menyelesaikan studi magister dalam bisang matematika di universitas luar negeri hanya dengan 15 bulan. Tapi paparan ini mencoba mengilustrasikan sisi lain kehidupan figur ini dari sisi yang agak berbeda, dan bahkan paradok dengan statusnya sebagai matematikawan. Di kampusnya, tokoh ini biasa disapa Pak Bambang.

  

Religiusitas Pak Bambang sangat terlihat menjelang keberangkatannya ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji. Pengakuannya sebagai orang awam dalam agama, diwujudkan dengan giatnya belajar dan mengikuti ritual seperti shalat jamaah, terutama shalat jumat dan tarawih. Spiritualitasnya terbangun dengan menggunakan corak nalar deduktif khas matematika dalam menyusun ornamen pengetahuan dogmatis melalui basis validasi yang ketat. Bahkan, kerap kali Pak Bambang melalukan konfirmasi atau klarifikasi pada para penceramah yang menyisakan pertanyaan pada kesadaran nalarnya, walau itu dilakukannya pada ruang-ruang privat dan tidak di depan jamaah umum. Pemandangan sangat menyentuh ketika Pak Bambang harus mengikuti tiap gerakan imam dalam shalat berjamaah dengan kondisinya yang kini menderita stroke. Namun begitu, hampir tiap kalimatnya pada liyan adalah dukungan untuk selalu optimis.

  

Pada aspek sosial, Pak Bambang merupakan teladan sikap responsobiltas yang luar biasa bagi orang-orang di sekitarnya. Tidak sedikit kontribusinya bail moral maupun material bagi kampungnya. Bila boleh dibuatkaan label, maka tidak sedikit bangunan dan jalan desa yang dibangunnya sebagai fasilitas umum. Bahkan, ada banyak anak-anak warga sekitar yang ditolongnya dengan menyekolahkan mereka sampai lulus pendidikan tinggi dan mampu berdiri sendiri. Sebagai orang yang tumbuh-kembangnya berada dalam kemapanan, tentu loyalitas filantropiknya secara terbalik biasanya akan lebih minimalis. Bahkan, gawe pilkades pun dilaksanakan di depan ndalem Pak Bambang yang memang relatif luas.

  

Istimewanya, Pak Bambang pernah memberi semacam “ijazah” yang mirip dengan keahlian pawang hujan. Waktu bersua di serambi masjid selepas shalat Jumat, setelah beberapa waktu berbincang, Pak Bambang memberikan ijazah mengendalikan awan dan hujan lengkap dengan tata cara dan mantranya. Bahkan media doa ini adalah batu sebanyak empat biji, bukan lombok, sapu lidi, atau yang lain. Paradok dengan genre keilmuannya yang menuntut rasionalitas formal, matematika. Walau sempat meragukan, ternyata keampuhan mantra tolak hujan ini benar-benar luar bisa.

  

Pasca Salat Jumat seperti biasa, Pak Bambang bersandar pada dinding serambi masjid sambil berbincang dengan seseorang, sedang jamaah lain mulai undur diri. Pada kesempatan itu ia memberi nasihat pada lawan bicaranya untuk selalu berani menjadi kabel, dan jangan sampai menjadi talang. Kabel tetap kering walau dialiri listrik, sedang talang menjadi basah saat terlewati air. Maknanya, pada posisi apapun harus tetap bersih dari dampak fungsional apapun, dan jangan sampai jibrat akibat dari posisi tersebut. Tentu pilihan sikap ini mensyaratkan keberanian. 

  

“Saran Njenengan seperti bukan lulusan luar pendidikan Barat dan juga tidak bergaya.kapitalis Pak,” komentar yang diberi nasihat sambil tertawa. “Ya mesti. Sebab aku lahir di sini (tanah air), hidup di sini, nanti mati dan dikubur juga di sini. Ke Barat itu hanya tamasya, bukan malih rupa atau malih jiwa.” Sanggah Pak Bambang agak bersungut-sungut.

  

Seratus prosen nalar ini bukan lahir dari tradisi nalar matematiknya, juga bukan dari buah 15 bulan hidup di Amerika, tapi dari tradisi nilai-nilai moralitas yang diasahnya pada sepanjang usianya yang kini menginjak usia 75 tahun. Sehat wal ‘afiat selalu Pak Bambang. Wallahu a’lam.