(Sumber : Generate AI)

Paradigma Integrasi Ilmu di Universitas-Universitas Islam Negeri Sumatera

Riset Agama

Artikel berjudul “Paradigms of Scientific Integration in Sumatra’s State Islamic Universities” merupakan karya Anhar Anhar, Zainal Efendi Hasibuan, Muhammad Darwis Dasopang, Erawadi, Magdalena, Fakhruddin, dan Suwardi. Tulisan tersebut terbit dalam Jurnal Ilmiah Peuradeun, tahun 2026. Artikel tersebut mengangkat tema penting mengenai paradigma integrasi keilmuan pada Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri, khususnya pada tiga UIN di Sumatra, yaitu UIN Sumatera Utara, UIN Ar-Raniry Banda Aceh, dan UIN Raden Fatah Palembang. Fokus utama artikel tersebut bukan sekadar menjelaskan bahwa ilmu agama dan ilmu umum perlu disatukan, melainkan menelaah bagaimana gagasan integrasi tersebut dibangun, ditafsirkan, dan dijalankan dalam konteks kelembagaan yang berbeda. Penulis menegaskan bahwa integrasi keilmuan tidak dapat dipahami sebagai model tunggal, melainkan sebagai proses epistemologis berlapis yang melibatkan orientasi filosofis, keselarasan metodologis, dan praktik akademik. 

  

Permasalahan utama yang dibahas dalam artikel tersebut berangkat dari masih kuatnya dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum dalam tradisi pendidikan tinggi Islam. Penulis melihat bahwa banyak kajian sebelumnya telah membahas integrasi ilmu, tetapi sebagian besar masih berhenti pada tingkat konseptual, normatif, atau deskriptif. Akibatnya, belum banyak penelitian yang benar-benar membaca perbedaan paradigma integrasi ilmu berdasarkan sejarah kelembagaan, arah akademik, dan konteks sosial budaya masing-masing universitas. Artikel tersebut menjadi menarik karena berusaha menunjukkan bahwa setiap UIN memiliki titik berangkat epistemologis yang tidak selalu sama, meskipun semuanya bergerak dalam payung besar pendidikan tinggi Islam. Pada konteks tersebut, integrasi ilmu tidak hanya diposisikan sebagai persoalan kurikulum, tetapi juga sebagai persoalan cara berpikir, budaya akademik, riset, dan pengabdian masyarakat. 

  

Terdapat tiga sub bab dalam review ini. Pertama, bentuk paradigma integrasi ilmiah di UIN Sumatera Utara, Ar-Rainy, dan Raden Fatah. Kedua, perbedaan karakteristik integrasi ilmu di UIN Sumatera Utara, Ar-Raniry, dan Raden Fatah. Ketiga, implementasi integrasi ilmu di UIN Sumatera Utara, Ar-Raniry, dan Raden Fatah. 

  

Bentuk paradigma integrasi ilmiah di UIN Sumatera Utara, Ar-Raniry dan Raden Fatah

  

UIN Sumatera Utara membangun paradigma integrasi ilmu melalui konsep Wahdatul Ulum. Konsep ini memandang ilmu sebagai satu kesatuan yang harus diarahkan pada pemahaman terhadap alam semesta dan pemecahan masalah kemanusiaan. Pada model tersebut, Al-Qur’an dan Hadis diposisikan sebagai sumber pengetahuan utama yang menjadi dasar normatif dan epistemologis. Integrasi ilmu di UIN Sumatera Utara dijelaskan melalui beberapa dimensi, seperti dimensi partikular, horizontal, aktualitas, etika, dan interpersonal. Melihat struktur tersebut, Wahdatul Ulum tampak sebagai model integrasi yang cukup sistematis karena bergerak dari dasar filosofis menuju penerapan akademik.

  

Berbeda dengan UIN Sumatera Utara, UIN Ar-Raniry mengembangkan paradigma integrasi ilmu melalui gagasan fricativization. Istilah ini berasal dari metafora fonetik, yaitu proses keluarnya udara yang memungkinkan bunyi terbentuk, lalu ditafsirkan sebagai “napas” yang menghidupkan ilmu. Pada kerangka ini, ilmu tidak hanya dipahami sebagai kumpulan informasi, tetapi sebagai sesuatu yang harus diberi ruh agar mampu menggerakkan kehidupan manusia. Paradigma ini menempatkan nilai tauhid sebagai kekuatan yang menjiwai seluruh proses keilmuan, mulai dari tahap deskriptif, eksplanatif, diskursif, interpretatif, hingga implisit. Kekuatan model UIN Ar-Raniry terletak pada upayanya membangun kesadaran bahwa ilmu harus memiliki dimensi spiritual, etis, dan sosial, bukan hanya dimensi teknis-akademik.

  

Sementara itu, UIN Raden Fatah Palembang menawarkan model Construction of Holistic-Integrative Science yang disimbolkan melalui ikon House of Knowledge. Model ini lebih menonjolkan integrasi pada tataran epistemologi dan metodologi keilmuan. Pengetahuan dikembangkan melalui perpaduan empat pendekatan, yaitu bayani atau penafsiran tekstual, tajribi atau observasi empiris-ilmiah, burhani atau logika rasional-filosofis, dan ‘irfani atau intuisi. Melalui pendekatan ini, ilmu tidak harus diberi label “Islam” secara formal, tetapi substansi teori dan kerangka analisisnya diharapkan tidak bertentangan dengan nilai dasar Islam dan fitrah manusia. Di titik ini, UIN Raden Fatah tampak menawarkan model yang paling eksplisit secara metodologis dibandingkan dua UIN lainnya.

  

Perbedaan Karakteristik Integrasi Ilmu di UIN Sumatera Utara, Ar-Raniry, dan Raden Fatah

  

Perbedaan karakteristik tiga paradigma tersebut menunjukkan bahwa integrasi ilmu bukan konsep yang tunggal dan kaku. UIN Sumatera Utara berangkat dari model deduksi anatomis, yaitu dari paradigma filosofis menuju aspek teknis-metodologis. UIN Ar-Raniry berangkat dari metafora ruh, sehingga integrasi ilmu lebih ditekankan sebagai proses meniupkan nilai tauhid ke dalam seluruh tahapan keilmuan. UIN Raden Fatah berangkat dari prinsip tauhid sebagai dasar bahwa seluruh pengetahuan berasal dari Allah dan pada hakikatnya merupakan satu kesatuan. Perbandingan ini penting karena memperlihatkan bahwa perbedaan paradigma bukan sekadar perbedaan istilah, melainkan mencerminkan perbedaan cara institusi memahami hubungan antara wahyu, akal, pengalaman empiris, dan praktik akademik.

  

Implementasi Integrasi Ilmu di UIN Sumatera Utara, Ar-Raniry, dan Raden Fatah

  

Implementasi integrasi ilmu dalam artikel ini dijelaskan melalui kurikulum, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Di UIN Sumatera Utara, integrasi diperkuat melalui pembentukan Wahdatul Ulum Center berdasarkan keputusan rektor, yang kemudian berperan dalam pengembangan konsep, kurikulum, pembelajaran, sosialisasi, dan publikasi. Pada bidang penelitian, paradigma Wahdatul Ulum diarahkan pada pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui pendekatan transdisipliner dan kolaboratif. Pada UIN Ar-Raniry, integrasi tampak melalui keseimbangan mata kuliah agama dan umum serta penguatan karakter melalui program Ma’had Jami’ah. Adapun UIN Raden Fatah menanamkan integrasi ilmu secara lebih langsung ke dalam materi pembelajaran dan skema riset melalui pendekatan bayani, burhani, tajribi, dan ‘irfani.

  

Penulis menegaskan bahwa Wahdatul Ulum, Fricativization of Knowledge, dan House of Knowledge bukan sekadar nama institusional, tetapi mewakili strategi integrasi yang berbeda. Wahdatul Ulum cenderung bersifat struktural-institusional karena dikembangkan melalui pusat kajian, dokumen kurikulum, dan arah riset transdisipliner. Fricativization of Knowledge lebih bersifat kultural-spiritual karena menekankan internalisasi nilai tauhid dalam pengalaman akademik mahasiswa. House of Knowledge lebih bersifat epistemologis-operasional karena menempatkan integrasi sebagai cara kerja ilmu melalui perpaduan teks, akal, intuisi, dan data empiris.

  

Nilai penting artikel tersebut terletak pada keberhasilannya menggeser pembahasan integrasi ilmu dari wilayah slogan menuju wilayah praktik kelembagaan. Banyak tulisan tentang integrasi keilmuan berhenti pada tokoh, konsep besar, atau narasi ideal tentang penyatuan ilmu agama dan ilmu umum. Artikel tersebut justru memperlihatkan bahwa integrasi ilmu selalu dinegosiasikan dalam konteks tertentu, baik melalui kebijakan kampus, budaya akademik, kurikulum, maupun pengalaman mahasiswa. 

   

Kesimpulan

  

Paradigma integrasi keilmuan pada UIN di Sumatra berkembang secara dinamis, kontekstual, dan tidak seragam. Integrasi ilmu tidak hadir sebagai satu model standar yang dapat diterapkan secara sama di semua kampus, tetapi sebagai proses epistemologis yang dipengaruhi oleh sejarah institusi, visi akademik, dan kebutuhan sosial masing-masing universitas. UIN Sumatera Utara menampilkan model yang sistematis melalui Wahdatul Ulum, UIN Ar-Raniry menonjolkan internalisasi nilai melalui Fricativization of Knowledge, sedangkan UIN Raden Fatah menekankan penguatan metodologi melalui House of Knowledge. Artikel tersebut memberikan sumbangan penting bagi pengembangan pendidikan tinggi Islam karena menunjukkan bahwa keberhasilan integrasi ilmu tidak terletak pada keseragaman, melainkan pada kemampuan institusi menerjemahkan nilai Islam ke dalam praktik akademik yang relevan. Artikel tersebut layak dipandang sebagai kajian yang memperluas diskusi integrasi keilmuan, terutama dalam konteks perguruan tinggi Islam di Indonesia dan kontribusinya terhadap wacana keilmuan global.