Dukungan Politik Islam dan Perilaku Memilih di Indonesia
Riset SosialArtikel berjudul “The Islamic Political Supports and Voting Behaviors in Majority and Minority Muslim Provinces in Indonesia" merupakan karya Delmus Puneri Salim. Tulisan ini terbit di Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies tahun 2022. Penelitian ini berfokus pada relasi Islam dan politik di Indonesia dalam dua kali pemilihan presiden terakhir. Lebih jauh dengan membahas dukungan politik bernuansa Islam kepada Prabowo Subianto dan pengaruhnya terhadap pemilihan Presiden tahun 2014 dan 2019 di provinsi dengan mayoritas dan minoritas muslim. Data diperoleh dari studi dokumentasi terhadap teks media internet, khususnya dukungan politik bernuansa Islam kepada Prabowo Subianto dan hasil pemilihan presiden di dua tahun tersebut. Terdapat tiga sub bab dalam review ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, Islam dan politik Indonesia. Ketiga, dukungan politik Islam di Indonesia. Keempat, pentingnya agama dalam politik Indonesia.
Pendahuluan
Belakangan ini, dinamika politik menunjukkan pengaruh Islam dalam perilaku memilih di Indonesia. Pada tahun 2018, Lembaga Survei Indonesia menunjukkan lebih dari 50% masyarakat Indonesia memilih seorang muslim sebagai pimpinan. Menurut Nathanel Gratias Sumakyoto et al dalam tulisannya berjudul “The Paradoxical Religiosity Effect: Religion and Politics in Indonesia and the United Statets” menyatakan bahwa sentiment agama adalah preferensi bagi orang-orang beragama dalam politik. Penelitian milik Delmus Puneri Salim berjudul “The Transformational and The Local in the Politics of Islam” menunjukkan bahwa Islam telah memainkan peran penting dalam politik Indonesia sejak kemerdekaan. Sayangnya, sebagian besar penelitian milik akademisi menyajikan analisis politik nasional dan lokal secara independen dan menunjukkan kegagalan dukungan politik Islam pada pemilihan nasional serta keberhasilannya di berbagai pemilihan. Beum ada penelitian yang mengkaji dukungan politik Islam dan perilaku memilih di berbagai wilayah di Indonesia.
Islam dan Politik di Indonesia
Islam selalu memainkan peran utama dalam pemilu di Indonesia. Organisasi keagamaan telah memainkan peran penting dalam politik Indonesia sejak kemerdekaan. Bahkan, pemilih muslim konservatif menjadi lebih berpengaruh dalam politik Indonesia. Semakin religius seseorang, semakin besar kemungkinan memilih kandidat politik berdasarkan sentimen agamanya. Label Islam dianggap mempengaruhi dukungan suara untuk sebuah partai di bawah stabilitas politik yang tidak pasti. Selain itu, ideologi agama membentuk prefensi muslim Indonesia dalam pemungutan suara dan pengambilan kebijakan. Jelas, bahwa Islam memainkan peran penting dalam politik Indonesia. Apa yang tapak menjadi cara Islam dalam politik nasional, sebenarnya adalah perlawanan Islam dalam politik lokal. Pada prinsipnya, hal ini berlaku bagi umat Islam Indonesia yang berusaha menjadi pemimpin di provinsi minoritas muslim sejak demokratisasi di era reformasi.
Dukungan Politik Islam di Indonesia
Selama pemilihan presiden Indonesia tahun 2019, Islam digunakan untuk mendongkrak perolehan suara. Dukungan politik Islam telah diakui sebagai masalah sosial politik yang dapat memecah kesatuan Indonesia yang terdiri dari agama-agama pluralistik. Dukungan politik Islam tidak hanya diberikan oleh partai politik dan politisi, melainkan juga lembaga dan pemimpin Islam.
Sebagai populasi muslim terbesar di dunia dengan demokrasi elektoral langsung, dukungan politik agama sangat terasa di Indonesia. Hal ini bisa dikategorikan sebagai populisme agama. Dukungan politik Islam cenderung dilakukan oleh semua pihak. Misalnya, isu penistaan agama dari Surah Al-Maidah ayat 51 yang digunakan untuk mendukung Anies Baswedan pada Pilgub Jakarta tahun 2017. Partai Demokrasi Indonesia -Perjuangan (PDI-P) lebih memilih Ma’ruf Amin sebagai Wakil Presiden Joko Widodo, daripada Mahfud MD selaku politisi, akademisi, dan hakim. Prabowo didukung oleh konsensus beberapa ulama di Indonesia, termasuk Habib Rizieq Shihab, pemimpin Islam popular pada pemilu 2019.
Baca Juga : Pertahankan Pancasila Sebagai Common Platform
Dukungan politik Islam saat ini sebagian besar didorong oleh media sosial internet yang mensosialisasikan seseorang dan menyampaikan pesan dengan lebih cepat dan luas di berbagai tempat. Terdapat banyak jenis media sosial yang tersedia dengan berbagai tujuan, seperti jejaring sosial, jejaring berbagai media, forum diskusi, dan jejaring blogging. Media sosial telah menjangkau banyak pengguna di Indonesia, melebihi 150 juta pengguna yakni 64% dari penduduk Indonesia yang berjumlah 268.283. 016 orang pada tahun 2019. Di seluruh dunia, terdapat hampir 5 miliar pengguna dari 7,7 miliar orang, tepatnya 63% dari populasi dunia.
Politik saat ini sangar dipengaruhi oleh media sosial, sebab telah menciptakan ruang bagi terwujudnya cita-cita demokrasi secara langsung. Media sosial memajukan partisipasi publik dalam politik dengan menciptakan jaringan antar kelompok dengan kepentingan bersama. Misalnya, dengan media sosial masyarakat dapat berbagi dan mendiskusikan isu politik dengan perspektif yang berbeda. Media sosial juga dianggap sebagai fasilitas atas bentuk baru partisipasi politik dengan menghubungkan masyarakat dan partai politik dengan lebih baik.
Pentingnya Agama dalam Politik Indonesia
Terdapat perbedaan pendapat mengenai relasi Islam dan politik dalam demokrasi elektoral langsung. Dukungan politik Islam dikecam dalam hal penggunaan agama untuk kepentingan politik. Ada pula yang mengatakan agama dan politik tidak bisa dipisahkan, dan agama harus menginspirasi politik sehingga religiositas menjadi sentral dalam pembangunan nasional. Beragamnya asumsi mengenai agama dan politik membuat asosiasi politik dan agama menjadi absurd.
Berdasarkan hasil pemilu, dukungan politik Islam mempengaruhi perilaku memilih di semua provinsi baik mayoritas maupun minoritas muslim di Indonesia. Pada kasus Pilpres 2019, ada dua alasan yang menjelaskan mengapa dukungan politik Islam lebih berpengaruh di provinsi dengan minoritas muslim. Pertama, alasan psikologis di mana konsekuensi dari dukungan politik Islam kepada Prabowo adalah banyak muslim di provinsi minoritas yang harus melawan gerakan politik agama guna “bersekutu” dengan kelompok non-muslim. Artinya, muslim di provinsi minoritas lebih memilih sekutu politik lokal daripada berasosiasi dengan politik Islam di provinsi mayoritas muslim. Kedua, terkait dengan gerakan kontra agama-politik dari kelompok muslim dan non-muslim. Misalnya, ketua organisasi Islam lokal yang mendesak umat Islam untuk tidak mengundang para pemimpin muslim konservatif seperti Front Pembela Islam (FPI) yang dikecam oleh kelompok muslim dan non-muslim di Sulawesi utara. Sebaliknya, mereka yang dicela oleh kelompok muslim di provinsi mayoritas muslim, seperti Ahok, justru mendapat “tepuk tangan” di provinsi dengan minoritas muslim. Bahkan, Ahok didaulat menjadi Gubernur di Bali dan NTT melalui petisi yang dibuat secara online dengan 7000 pengikut. Artinya, semakin banyak dukungan politik berdasarkan kelompok agama, maka semakin banyak resistensi politik yang muncul dari kelompok agama lain.
Kesimpulan
Studi tentang perilaku memilih di provinsi mayoritas dan minoritas muslim mengungkapkan korelasi kuat antara Islam dan politik yang ditunjukkan dalam hasil pilpres 2014 dan 2019 di Indonesia. Faktanya, penelitian tersebut menunjukkan bahwa dukungan politik Islam lebih mempengaruhi perilaku memilih di provinsi minoritas daripada mayoritas muslim. Temuan ini memunculkan interpretasi teoretis dan metodologis. Secara teoritis, kajian ini mengungkapkan pengaruh agama dalam politik di Indonesia. Selain itu, analisis di atas menegaskan jalinan dukungan politik berdasarkan afiliasi agama di Indonesia. Jika terus berlanjut, maka dukungan politik agama akan selalu menciptakan polarisasi berbasis agama dalam masyarakat Indonesia yang majemuk.

