Faktor Terjadinya Integrasi Umat Islam dan Umat Kristen
Riset SosialTulisan berjudul “Contribution pf Level of Education, Employment, and Ethnicity on the Integration of Muslim and Christians in Central Lampung” merupakan tulisan Sudarman. Artikel ini terbit di Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies tahun 2021. Penelitian ini bertujuan untuk menggali data terkait kontribusi tingkat pendidikan, pekerjaan, dan etnis terhadap integrasi pemeluk agama Islam dan Kristen di Kabupaten Lampung Tengah, dengan melihat dinamika sosiologis integrasi antar pemeluk agama Islam dan Kristen. Integrasi kelompok berdasarkan kepemelukan agama dibagi menjadi dua yakni mayoritas-minoritas, serta kelompok berimbang. Analisis dalam penelitian ini menggunakan mixed method. Analisis kuantitatif dengan teknik analisis variasi satu jalur, sedangkan analisis kualitatif dilakukan dengan batasan logistik, meliputi induksi, deduksi, analogi dan perbandingan. Terdapat tujuh sub bab dalam resume ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, kualitas mayoritas-minoritas dan integrasi seimbang. Ketiga, kualitas integrasi umat Islam-Kriten. Keempat, kontribusi tingkat pendidikan terhadap kualitas integrasi. Kelima, kontribusi profesi terhadap kualitas integrasi. Keenam, kontribusi etnis terhadap kualitas integrasi. Ketujuh, kualitas integrasi antar variabel.
Pendahuluan
Saat ini, tidak ada kelompok masyarakat di dunia yang bebas dari konflik. Di dalam interaksi antar kelompok masyarakat, pluralisme dapat menimbulkan integrasi dan konflik. Menurut Steenbrink dalam bukunya berjudul “Kawan dalam Pertikaian: Kaum Kolonial Belanda dan Islam di Indonesia (1596-1942)”optimis bahwa Indonesia memiliki kemampuan mewujudkan kerukunan umat beragama yang terbebas dari konflik. Sunyoto Usman dalam bukunya berjudul “Integrasi Masyarakat Indonesia dan Masalah Ketahanan Nasional” menyatakan bahwa apa yang membuat bangsa Indonesia terintegrasi antara lain adanya kesatuan dengan nilai sosial yang fundamental yakni Pancasila. Asas-asas dalam Pancasila berfungsi sebagai faktor yang diyakini dapat menumbuhkan dan memelihara rasa kebersamaan dan keragaman.
Berdasarkan Collins Dictionary of Sociology, konsep integrasi mengandung tiga arti. Pertama, integrasi berarti sejauh mana individu merasa menjadi bagian dari kelompok sosial dengan menerima norma, nilai dan kepercayaan dari kelompok sosial tersebut. Kedua, kegiatan atau fungsi lembaga atau sub-sistem yang berbeda dalam suatu masyarakat dalam suatu negara dengan saling melengkapi dan tidak bertentangan. Ketiga, adanya lembaga khusus yang mendorong dan mengkoordinir kegiatan masing-masing sub-sistem masyarakat. Integrasi tidak terjadi secara spontan, melainkan melalui tahapan-tahapan yakni akomodasi, kerja sama, koordinasi dan asimilasi. Syarat terciptanya integrasi adalah tersedianya sarana komunikasi yang memadai.
Kualitas Mayoritas-Minoritas dan Integrasi yang Seimbang
Kualitas integrasi masyarakat Muslim dan Kristen di Lampung Tengah terbagi menjadi dua kelompok, yakni kelompok masyarakat dengan mayoritas-minoritas dan kelompok masyarakat seimbang. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan di antara keduanya. Pertama, adanya perbedaan kualitas integrasi antara daeran komposisi agama mayoritas-minoritas dibandingkan dengan daerah dengan komposisi pemeluk agama yang relatif seimbang. Kualitas integrasi lebih tinggi di daerah mayoritas-minoritas daripada di daerah dengan pemeluk agama yang seimbang. Kedua, penelitian ini menemukan adanya perbedaan kualitas keterpaduan antar jenjang pendidikan, berbagai profesi dan etnis. Tingkat pendidikan memiliki hubungan positif dengan tingkat integrasi, semakin tinggi pendidikan maka semakin tinggi kualitas integrasinya. Etnis dengan interasi tertinggi adalah Etnis Batak dan Jawa, integrasi sedang adalah Etnis Palembang, dan integrasi rendah adalah Etnis Lampung.
Kualitas Integrasi Umat Islam dan Kristen
Kualitas integrasi antara Muslim dan Kristen di Lampung Tengah paling tinggi sebesar 40,33% dan paling rendah sebesar 33,33%. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa lebih dari 14% Umat Islam masih kurang mampu beradaptasi, kurang kompromi dan kurang toleransi terhadap orang Kristen. Serta lebih dari 15% Umat Islam kurang mampu bekerja sama, kurang solidaritas, harapan, dan kemauan untuk bekerja sama. Data di atas menunjukkan bahwa integrasi dalam masyarakat dengan komposisi pemeluk agama mayoritas-minoritas umumnya tinggi yakni 26,36%, sedangkan komposisi seimbang umumnya berkualitas sedang yakni 24,03%.
Baca Juga : Perang, Kekuasaan dan Kehancuran Kemanusiaan
Kontribusi Tingkat Pendidikan Terhadap Kualitas Integrasi
Kelompok dengan lulusan pendidikan tinggi memiliki kualitas integrasi tertinggi, dan tidak satu pun dari mereka termasuk kategori rendah dan sangat rendah. Artinya, tingkat pendidikan memiliki arti yang tinggi bagi kualitas integrasi. Semakin tinggi pendidikan, maka semakin tinggi pula kualitas integrasi yang dihasilkan. Fakta ini dapat menjadi tantangan bagi masyarakat dan pemerintah setempat untuk terus meningkatkan mutu pendidikan agar kualitas integrasi terjaga dengan baik.
Kontribusi Profesi Terhadap Kualitas Integrasi
Di dalam penelitian ini terdapat dua kategori profesi, yakni kelompok yang bekerja di kantor yakni pegawai swasta dan pegawai negeri, sedangkan kelompok yang bekerja di luar kantor adalah pengusaha dan petani. Berdasarkan hasil analisis data, tidak ada perbedaan yang signifikan, hampir seluruh profesi menempati kualitas integrasi sedang, tinggi dan sangat tinggi. Kelompok dengan integrasi paling rendah adalah pedagang/pengusaha yakni 5,43%. Kualitas integrasi tertinggi berada di lingkungan Pegawai Negeri Sipil (PNS), dikkuti oleh petani, buruh dan pedagang/pengusaha.
Kontribusi Etnis Terhadap Kualitas Integrasi
Lampung Tengah memiliki beragam suku, agama dan ras yang tentu saja memiliki banyak konsekuensi. Pebedaan budaya dan agama sering kali menimbulkan ketegangan sosial, masing-masing kecenderungan kuat untuk memegang identitas dalam hubungan antar kelompoknya, budaya dan agama. Hubungan antar pemeluk agama yang berbeda biasanya dilatarbelakangi oleh prasangka etnis. Selain itu, setiap suku memiliki ikatan kuat dengan folkways yang condong berpegang pada identitas sendiri. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa etnis pendatang lebih memiliki integrasi tertinggi dibandingkan etnis asli Lampung.
Kualitas Integrasi antar Variabel
Terdapat beberapa detail atas hasil analisis penelitian tersebut. Pertama, PNS memiliki kualitas integrasi yang rata-rata lebih tinggi baik pada wilayah mayoritas-minoritas maupun kelompok seimbang, dibandingkan profesi lainnya. Kedua, karyawan di wilayah mayoritas-minoritas memiliki tingkat kualitas integrasi yang lebih tinggi, dibandingkan karyawan pada wilayah kelompok seimbang. Ketiga, pegawai swasta dan PNS yang berdomisili di wilayah mayoritas-minoritas memiliki kualitas integrasi yang lebih tinggi dibandingkan wilayah dengan kelompok seimbang. Keempat, faktor pekerjaan memiliki pengaruh yang lebih besar dibandingkan dengan faktor pemeluk agama.
Kesimpulan
Secara garis besar, hasil penelitian tersebut menemukan fakta bahwa integrasi antara kelompok Muslim dan Kristen di Lampung Tengah umumnya berkualitas sedang. Fakta integrasi yang terjadi didukung dengan adanya kesadaran kelompok, saling melengkapi dalam kegiatan sehari-hari, dan lembaga ketiga yang mengkoordinir kegiatan bersama ini. Kedua kelompok agama tidak saling berkompetisi dan secara alamiah tidak dipisahkan oleh sekat agama. Selain itu, kesadaran kolektif telah terbentuk, sehingga persahabatan begitu dekat dan dapat mengatasi ikatan lainnya. Adanya kegiatan dan fungsi lembaga dalam sub sistem yang lebih komplementer dan mengkoordinasikan kegiatan bersama juga menjadi salah satu faktor terjadinya integrasi. Jika meminjam istilah Durkheim, maka dalam kelompok Muslim dan Kristen di Lampung Tengah ini, simpul-simpul interaksinya layaknya sebuah mekanik solidaritas.

