Kepemimpinan Pendidikan di Era Digital
Riset SosialArtikel berjudul “Educational Leadership In The Digital Era: Bridging Global Disparities With Inclusive Management Strategies” merupakan karya Dwi Mariyono, Muhammad Yunus, Junaidi, Nur Syam, dan Zobi Mazhabi. Tulisan ini terbit di EMAL (Educational Management Administration & Leadership) tahun 2026. Transformasi digital dalam dunia pendidikan semakin dipercepat oleh Revolusi Industri Keempat dan pandemi COVID-19. Perubahan ini tidak hanya mengubah lingkungan belajar, tetapi juga cara-cara pengajaran dan kepemimpinan dalam pendidikan. Tulisan tersebut membahas tentang bagaimana kepemimpinan pendidikan di era digital dapat dimanfaatkan untuk mengurangi ketimpangan global dan mempromosikan inklusivitas dalam pembelajaran. Penulis menekankan bahwa pendidikan tidak lagi hanya berfokus pada keterampilan teknis dan kognitif, tetapi juga pada kompetensi sosial-emosional yang memungkinkan siswa untuk berfungsi dalam masyarakat yang semakin terdigitalisasi. Pada hal ini, kecerdasan buatan (AI) menjadi salah satu alat yang sangat penting, namun tetap memerlukan pengawasan manusia untuk memastikan etika dan relevansinya dalam konteks sosial dan budaya yang beragam.
Penulis melakukan tinjauan pustaka sistematis terhadap 75 studi peer-reviewed yang relevan dengan topik ini, mengidentifikasi bagaimana AI dan manajemen strategis dapat digunakan untuk mengurangi ketimpangan teknologi dan sosial di pendidikan. Melalui pendekatan yang menggabungkan analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) dan konten tematik, artikel tersebut menawarkan wawasan baru tentang peran kepemimpinan dalam mengatasi kesenjangan yang ada, baik dari segi akses digital maupun dalam pengelolaan pembelajaran yang inklusif. Terdapat lima sub bab dalam review ini. Pertama, transformasi digital dan kepemimpinan pendidikan. Kedua, analisis tematik dan SWOT. Ketiga, kepemimpinan inklusif dan transformasi digital. Keempat, kepemimpinan berbasis AI v.s kepemimpinan tradisional. Kelima, kompetensi kepemimpinan untuk digitalisasi pendidikan.
Transformasi Digital dan Kepemimpinan Pendidikan
Perubahan besar dalam dunia pendidikan di era digital memerlukan strategi kepemimpinan yang adaptif dan inklusif. Pada masa lalu, kepemimpinan pendidikan lebih bersifat relasional dan intuitif, namun di era digital, banyak sistem yang berbasis algoritma yang membutuhkan pengawasan manusia untuk memastikan bahwa mereka tidak hanya efisien tetapi juga etis dan responsif terhadap kebutuhan siswa. AI telah mulai digunakan dalam berbagai sistem pendidikan, termasuk alat analitik pembelajaran, sistem pengajaran pintar, dan pemodelan prediktif. Alat-alat ini tidak hanya mengubah desain instruksional tetapi juga pengambilan keputusan dan distribusi sumber daya dalam pengaturan pendidikan.
Namun, penerapan AI dalam pendidikan tidak bebas dari tantangan. Isu-isu etis, seperti bias algoritma, serta masalah privasi data menjadi perhatian utama. Selain itu, ketimpangan infrastruktur dan kesenjangan dalam literasi digital menghalangi akses yang merata terhadap teknologi di kalangan siswa yang kurang beruntung. Artikel tersebut menegaskan bahwa meskipun teknologi memainkan peran penting dalam transformasi pendidikan, kepemimpinan yang inklusif tetap menjadi faktor penentu apakah perubahan ini akan memperburuk ketidaksetaraan atau malah menyelesaikannya.
Analisis Tematik dan SWOT
Berdasarkan penelitian tersebut, penulis mengidentifikasi empat tema utama yang terkait dengan kepemimpinan pendidikan di era digital: Digital Inclusion & Accessibility, Leadership & Equity, Pedagogical Innovation, dan Cross-Sector Collaboration. Tema-tema ini mencakup tantangan utama dalam pendidikan digital, termasuk kesenjangan dalam infrastruktur digital, keterbatasan akses bagi kelompok terpinggirkan, dan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk menciptakan solusi yang lebih inklusif.
Pada analisis SWOT, ditemukan beberapa kekuatan utama, seperti peningkatan kesadaran global terhadap pentingnya kesetaraan digital dan kemampuan AI untuk memperbaiki efisiensi administrasi dan personalisasi pembelajaran. Namun, juga ditemukan kelemahan, seperti kesenjangan infrastruktur yang masih ada, serta masalah dalam hal privasi data dan bias algoritma. Peluang besar terletak pada pengembangan model kepemimpinan yang menggabungkan teknologi dengan nilai-nilai kemanusiaan, serta dalam kolaborasi dengan sektor swasta untuk menciptakan solusi teknologi yang lebih inklusif. Di sisi lain, ancaman yang dihadapi termasuk resistensi terhadap perubahan, serta potensi penyalahgunaan teknologi yang dapat memperburuk ketimpangan yang ada.
Baca Juga : Moderasi Beragama Vis a Vis Kebebasan Beragama
Kepemimpinan Inklusif dan Transformasi Digital
Salah satu kesimpulan penting dari penelitian ini adalah kepemimpinan inklusif sangat penting dalam memastikan bahwa transformasi digital tidak memperburuk ketidaksetaraan yang ada. Pemimpin pendidikan perlu memiliki kemampuan untuk memahami dan mengatasi kesenjangan akses digital, serta untuk memanfaatkan teknologi untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang inklusif. Kepemimpinan berbasis teknologi, seperti e-leadership dan kepemimpinan yang didorong oleh AI, terbukti efektif dalam meningkatkan keterlibatan siswa dan mendukung integrasi teknologi di kelas. Namun, AI juga memerlukan pengawasan manusia untuk memastikan bahwa aplikasi teknologi ini tetap adil dan tidak diskriminatif.
Artikel tersebut menyoroti pentingnya pelatihan dan pengembangan pemimpin untuk memastikan bahwa mereka memiliki kompetensi yang diperlukan untuk memimpin perubahan dalam pendidikan digital. Pelatihan ini harus mencakup tidak hanya keterampilan teknis, tetapi juga keterampilan sosial-emosional dan etika untuk menghadapi tantangan yang ditimbulkan oleh penerapan AI dalam pendidikan.
Kepemimpinan Berbasis AI vs. Kepemimpinan Tradisional
Artikel tersebut juga membahas perbandingan antara kepemimpinan berbasis AI dan model kepemimpinan tradisional dalam konteks pendidikan. Model kepemimpinan berbasis AI memberikan banyak keuntungan, seperti pengambilan keputusan berbasis data dan personalisasi pembelajaran. Namun, kepemimpinan tradisional tetap memiliki peran yang sangat penting, terutama dalam hal kecerdasan emosional dan sensitivitas budaya. Pemimpin tradisional, dengan pendekatan yang lebih manusiawi dan kontekstual, tetap dapat memberikan solusi yang lebih tepat dalam menghadapi tantangan-tantangan sosial yang kompleks.
Penulis menekankan bahwa pendekatan terbaik adalah menggunakan model kepemimpinan hibrid yang menggabungkan kekuatan AI dengan kekuatan kepemimpinan manusiawi. Melalui cara ini, AI dapat digunakan untuk meningkatkan efisiensi dan personalisasi, sementara pemimpin tetap dapat mempertahankan kontrol etis dan mempertimbangkan faktor-faktor sosial dan budaya yang penting dalam pendidikan.
Kompetensi Kepemimpinan untuk Digitalisasi Pendidikan
Kepemimpinan di era digital memerlukan set keterampilan yang komprehensif, mencakup kompetensi teknis, kepemimpinan strategis, serta keterampilan sosial-emosional. Pemimpin pendidikan harus mampu mengembangkan literasi digital, kemampuan kepemimpinan adaptif, serta kemampuan pengambilan keputusan etis untuk menghadapi tantangan yang ditimbulkan oleh transformasi digital. Pemimpin juga harus mampu berkolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk memastikan bahwa kebijakan dan strategi yang diterapkan bersifat inklusif dan merata.
Penting juga untuk mengembangkan kompetensi dalam hal manajemen perubahan untuk memastikan bahwa transformasi digital berjalan dengan lancar dan dapat diterima oleh semua pihak. Kepemimpinan berbasis inklusi dapat membantu mengurangi resistensi terhadap perubahan dan memfasilitasi adopsi teknologi secara lebih luas.
Kesimpulan
Artikel tersebut menyarankan beberapa langkah kebijakan yang dapat diambil oleh pemimpin pendidikan untuk memastikan transformasi digital yang inklusif. Beberapa rekomendasi kebijakan termasuk pengembangan mekanisme pendanaan global untuk pendidikan digital, kemitraan publik-swasta untuk menciptakan solusi teknologi yang lebih terjangkau, serta pengembangan kebijakan untuk mengatur penggunaan AI secara etis dalam pendidikan. Selain itu, penting untuk melibatkan berbagai pihak dalam pengambilan keputusan dan memastikan bahwa teknologi yang diterapkan benar-benar memenuhi kebutuhan semua siswa, termasuk mereka yang terpinggirkan. Artikel tersebut menunjukkan bahwa suksesnya transformasi digital dalam pendidikan tidak hanya bergantung pada adopsi teknologi semata, tetapi juga pada kepemimpinan yang inklusif dan etis yang dapat menyeimbangkan antara inovasi teknologi dan kebutuhan untuk menciptakan pendidikan yang adil dan setara bagi semua siswa.

