(Sumber : Generate AI)

Menavigasi Ketegangan Antara Mitigasi Risiko Praktis dan Norma Agama

Riset Sosial

Artikel berjudul “AI, Ethics, and Islamic Higher Education: Navigating the Tensions Between Practical Risk Mitigation and Religious Normativity” merupakan karya St Aflahah, Khaerun Nisa, AM Saifullah Aldeia, Baso Marannu, Munasprianto Ramli, Vina Septiana Windyasari, Tegar Shalahuddin Ruhutama. Tulisan ini terbit di Jurnal Ilmiah Islam Futura tahun 2026. Tujuannya, membahas dampak perkembangan pesat kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam pendidikan tinggi Islam di Indonesia, khususnya di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN). Penelitian menekankan persepsi dosen terhadap AI, kesadaran mereka terhadap risiko, serta strategi mitigasi yang diterapkan. 

  

Selain itu, artikel tersebut menyoroti sejauh mana prinsip etika Islam diintegrasikan dalam praktik akademik, yang hingga saat ini masih bersifat deklaratif dan belum terlembagakan. Studi tersebut menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode wawancara dan analisis dokumen, melibatkan dosen dari berbagai disiplin ilmu di dua PTKIN, sehingga hasilnya memberikan wawasan empiris tentang praktik pengelolaan risiko AI yang diwarnai perspektif Islam. Terdapat tujuh sub bab dalam review ini. Pertama, interpretasi AI dalam kehidupan akademik. Kedua, integrasi AI dalam praktik pengajaran. Ketiga, menavigasi risiko etis dan pedagogis AI. Keempat, strategi mitigasi risiko AI di pendidikan tinggi. Kelima, penafsiran COSO ERM dalam konteks PTKIN. Keenam, ketegangan antara praktik teknis dan normativitas agama. Ketujuh, menjembatani risiko teknis dengan normativitas Islam. 

  

Interpretasi AI dalam Kehidupan Akademik

  

Dosen PTKIN memandang AI sebagai perkembangan yang tak terelakkan dan memengaruhi praktik pengajaran dan pembelajaran. Mereka melihat AI sebagai inovasi yang bernilai, namun juga berpotensi menimbulkan gangguan jika digunakan tanpa pengawasan. Beberapa dosen menggunakan AI untuk membuat contoh soal, ringkasan materi, atau mendukung kreativitas pengajaran, namun tetap melakukan verifikasi dan penyesuaian konteks mahasiswa. Kesadaran akan risiko ini menunjukkan bahwa AI tidak hanya dianggap alat teknis, tetapi juga medium untuk refleksi pedagogis dan tanggung jawab etis. Dosen menekankan perlunya adaptasi, bukan resistensi, terhadap AI. Mereka juga menekankan bahwa intuisi dan kreativitas manusia tetap tidak tergantikan oleh algoritma. Secara keseluruhan, AI dipahami sebagai peluang sekaligus tantangan yang memerlukan keseimbangan antara efisiensi dan pertimbangan moral.

  

Integrasi AI dalam Praktik Pengajaran

  

Integrasi AI dalam praktik pengajaran dilakukan dengan tujuan meningkatkan efisiensi, kreativitas, dan akses informasi. AI digunakan untuk merancang modul pembelajaran, menyederhanakan teks panjang, dan menyediakan contoh praktik, namun konten tetap disunting agar sesuai konteks dan kemampuan mahasiswa. Beberapa dosen menekankan penggunaan AI untuk latihan, tetapi melarang mahasiswa mengandalkannya pada tugas akhir guna menjaga keterampilan analisis manual. Pendekatan ini menunjukkan kombinasi inovasi teknologi dan pertimbangan pedagogis yang hati-hati. Dosen menekankan pentingnya refleksi kritis mahasiswa terhadap materi yang dihasilkan AI. Mereka juga memperkuat literasi digital dan etika penggunaan AI. Integrasi ini menegaskan bahwa AI mendukung, bukan menggantikan, pengembangan intelektual mahasiswa.

  

Menavigasi Risiko Etis dan Pedagogis AI

  

Dosen menyadari berbagai risiko AI, seperti informasi tidak akurat, ketergantungan berlebihan, berkurangnya kemampuan berpikir kritis, dan potensi pelanggaran integritas akademik. Mereka menekankan pentingnya verifikasi, refleksi kritis, dan pengembangan kesadaran etis mahasiswa. Penggunaan AI secara tidak terkendali berpotensi melemahkan kemampuan penalaran dan tanggung jawab moral, sehingga pengawasan manusia dan panduan etis menjadi kunci. Selain itu, aspek perilaku dan disiplin belajar juga menjadi perhatian, karena kemudahan akses informasi dari AI bisa menimbulkan perilaku malas atau kurang konsisten dalam belajar.


Baca Juga : Tiga Negara, Satu Tren Global: Bagaimana Cina, Australia, dan Malaysia Serentak Menata Ulang Aturan

  

Strategi Mitigasi Risiko AI di Pendidikan Tinggi

  

Strategi mitigasi yang diterapkan mencakup bimbingan penggunaan AI, transparansi, dan praktik reflektif. Dosen mendorong mahasiswa untuk menjelaskan bagian karya yang dihasilkan AI, memeriksa akurasi informasi, membandingkan teks AI dengan pemikiran sendiri, dan mempertahankan kegiatan manual pada penilaian. Strategi ini tidak bersifat larangan, melainkan membangun tanggung jawab, kejujuran akademik, dan kesadaran kritis. Dosen juga menekankan literasi digital dan pengelolaan disiplin belajar untuk mengimbangi kemudahan penggunaan AI, sehingga teknologi mendukung, bukan menggantikan, pengembangan intelektual mahasiswa.

  

Penafsiran COSO ERM dalam Konteks PTKIN

  

Artikel ini mereinterpretasikan kerangka COSO Enterprise Risk Management (ERM) untuk pengelolaan risiko AI di PTKIN. Kerangka ini memungkinkan identifikasi, penilaian, dan respons risiko secara sistematis, termasuk risiko teknis, operasional, legal, dan reputasi. Penerapan COSO ERM sejalan dengan prinsip Islam tentang amanah dan tanggung jawab moral, terutama dalam melindungi akal, agama, jiwa, keturunan, dan harta (maqāṣid al-sharīʿah). Misalnya, identifikasi risiko AI dapat dikaitkan dengan ḥifẓ al-ʿaql (perlindungan akal), penilaian risiko terkait integritas akademik dengan ḥifẓ al-dīn (perlindungan agama), serta pengendalian hak cipta dengan ḥifẓ al-māl.

  

Ketegangan antara Praktik Teknis dan Normativitas Agama

  

Penelitian tersebut menemukan ketegangan antara praktik mitigasi AI yang bersifat teknis dan penggunaan nilai Islam yang masih deklaratif. Strategi dosen lebih pragmatis, seperti pencegahan plagiarisme atau validasi sumber, sementara prinsip Islam seperti kejujuran (ṣidq) dan tanggung jawab (amānah) belum terlembagakan dalam kebijakan formal. Hal ini mencerminkan bahwa identitas keagamaan PTKIN belum sepenuhnya tercermin dalam tata kelola AI, dan pendekatan teknis dominan dibandingkan pendekatan normatif-religius.

  

Menjembatani Risiko Teknis dengan Normativitas Islam

  

Artikel tersebut menekankan peluang PTKIN untuk mengembangkan kerangka etika AI berbasis Islam yang menyatukan mitigasi risiko teknis dengan prinsip maqāṣid al-sharīʿah. Contohnya, AI dapat digunakan untuk meningkatkan empati (ḥifẓ al-nafs) dan interaksi sosial, atau mendukung hak cipta (ḥifẓ al-māl). Integrasi ini menuntut kebijakan dan praktik institusional yang operasional, sehingga prinsip etika Islam tidak hanya bersifat retoris tetapi menjadi panduan nyata dalam pengambilan keputusan terkait AI. Tabel di halaman 20 mengilustrasikan hubungan antara komponen COSO ERM dan prinsip maqāṣid al-sharīʿah untuk membentuk model integratif pengelolaan AI di PTKIN.

  

Kesimpulan

  

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa persepsi dosen PTKIN terhadap AI beragam, namun tidak bergantung pada disiplin ilmu. Beberapa fokus pada aspek teknis seperti akurasi, plagiarisme, dan verifikasi, sementara yang lain menekankan integritas akademik dan berpikir kritis. Praktik mitigasi AI masih bersifat individual dan pragmatis, belum didukung oleh kebijakan institusional yang komprehensif. Integrasi nilai Islam belum sepenuhnya operasional, meski prinsip maqāṣid al-sharīʿah dapat menjadi dasar konseptual untuk menyeimbangkan kontrol teknis dan nilai moral. PTKIN memiliki potensi besar untuk menjadi pionir pengembangan etika AI berbasis Islam, asalkan nilai-nilai keagamaan diinstitusikan secara nyata dalam kebijakan dan praktik pengelolaan risiko AI