(Sumber : Dokumentasi Penulis )

Dari Temu IKA UINSA: Kepemimpinan UINSA Masa Depan

Opini

Saya tentu harus mengapresiasi pada Ibu Dr. Hj. Ida Fauziyah, Anggota DPR dari Fraksi PKB pada DPR RI yang telah menginisiasi atas terselenggaranya pertemuan Ikatan Keluarga UIN Sunan Ampel  (IKA UINSA), yang diselenggarakan di Aula Kantor Wilayah Kemenag Jawa Timur, 05/03/2026. Acara tentu dikemas dengan Berbuka Bersama (Bukber) sebagai tradisi Kelas Menengah Islam akhir-akhir ini. Juga pada Dr. M. Sruji Bachtiar, Kakanwil Kemenag Jawa Timur yang memfasilitasi terselenggaranya sarasehan ini. 

  

Acara ini juga merupakan kerja sama antara IKA UINSA dengan MPR dalam paket Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan, yang menjadi tugas dan garapan MPR RI pada masing-masing Daerah Pemilihan (Dapil) anggota DPR/MPR. Oleh karena itu acaranya adalah Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan, dengan nara sumber utama  Ibu Dr. Ida Fauzia, yang pada Kabinet Pemerintahan yang lalu didapuk oleh Pak Jokowi dan KH. Ma’ruf Amin, untuk menjadi Menteri Ketenagakerjaan  pada Kabinet Indonesia Hebat.

  

Hal yang menarik acara ini juga dikaitkan dengan suksesi kepemimpinan pada UINSA, yang jabatan Rektornya akan berakhir pada bulan Juni 2026. Makanya, selain acara Sosialisasi Empat Pilar Kebangsan, juga menjadi ajang untuk perkenalan dengan para Calon Rector (Carek)  UINSA pada periode 2026-2030. Sebagai senior, saya diminta untuk menjadi pemantik diskusi atau lebih tepatnya promosi program unggulan ke depan, dan kemudian dilanjutkan dengan pemaparan para Carek. Dimulai dari Carek Incumben, Prof. A. Muzakki, PhD, Prof. Dr. Evi Fatimatur Rusdiyah, Prof. Dr. Muhibbin, Prof. Dr. Rubaidi, Prof. Dr. Husniyatus Salamah Zainiyati, Prof. Dr. Zumratul Mukaffa, Prof. Madar Hilmy, PhD., Prof. Dr. Titik Triwulan Tutik dengan dipandu oleh Dr. Romadlon Sukardi, dan Dr. Dwi Astutik. Saya menyampaikan beberapa hal. Akan tetapi karena keterbatasan waktu, maka di dalam tulisan ini ada catatan tambahan atas presentasi saya dimaksud.

  

Pertama, sebagai intitusi di bawah Kementerian Agama, maka visi PTKIN tentu harus bersambung dengan visi Kemenag, yang dikenal sebagai Asta Protas atau Delapan Program Prioritas. Dan salah satu yang mendasar adalah Kementerian Agama Berdampak. Jika diturunkan pada PTKIN adalah UIN Sunan Ampel Berdampak. Jadi, UINSA harus berdampak, dan menurut saya ada dua dampak yang diemban yaitu dampak internal dan dampak eksternal. Dampak internal meliputi dampak kepada mahasiswa, lulusan, dosen dan tenaga kependidikan. Dampak kepada mahasiswa tentu terkait dengan apa yang bisa dikontribusikan oleh UINSA untuk meningkatkan mutu lulusan, yang ditandai dengan  keterserapan lulusan dalam bidang yang baik. Jadi harus ada perubahan kurikulum, bahkan saya nyatakan “Revolusi Kurikulum” terutama di dalam menghadapi era Masyarakat Digital yang sudah eksis di dalam kehidupan kita semua. Masyarakat digital ditandai dengan penggunaan AI untuk banyak kebutuhan masyarakat. Maka harus dirumuskan bagaimana lulusan UINSA dapat beradaptasi dengan dunia digital di dalam kehidupannya. 

  

Lalu juga berdampak kepada para dosennya. Kita bersyukur sekarang ini sudah semakin banyak professor. Tetapi yang penting adalah menjadi professor berdampak, baik bagi mahasiswa, institusi dan masyarakat. Jangan menjadi professor gedebok, istilah orang ITS, untuk menandai professor yang tidak berkontribusi pada dunia pendidikan. Hendaknya menjadi professor yang dapat mengembangkan kehidupan berbangsa dan bernegara.

  

UINSA juga harus berkontribusi secara eksternal yaitu berdampak pada institusi social keagamaan, institusi pendidikan keagamaan, pesantren, Madrasah atau PTKI, dan masyarakat Islam. Kita bersyukur bahwa alumni UINSA ini semuanya orang yang menjadi Islam  ahlu Sunnah wal jamaah. Hanya sedikit yang menjadi Islam Ahlu Sunnah. Kebanyakan alumni kita orang yang beragamanya moderat. Mencintai tanah airnya, toleran, anti kekerasan dan menghargai budaya local. Saya kira tidak ada yang berkeinginan mendirikan khilafah. Semua berada di dalam koridor NKRI, sebagaimana diungkapkan oleh Ibu Dr. Ida Fauziyah. 

  

Kedua,  saya menggaris bawahi atas sambutan Direktur Pendidikan Tinggi Islam (Dirdiktis), Prof. Sahiron Syamsudin, yang menyatakan bahwa ke depan harus mengembangkan upaya internasionalisasi gagasan Islam Nusantara melalui pendidikan tinggi dan mengembangkan distingsi PTKI, khususnya PTKIN. Kita sudah menjadi universitas, maka kita dapat  mengembangkan variasi ilmu pengetahuan yang berkembang di Indonesia. Kita memiliki Fakultas Kedokteran, Fakultas Kesehatan, Fakultas Ilmu Sosial dan sebagainya. Oleh karena itu harus ada distingsinya. Antara prodi ilmu kedokteran UIN dengan Prodi ilmu kedokteran UI atau UA harus berbeda. Perbedaannya pada muatan isi kurikulum  di antara keduanya. Harus kita cari distingsinya,  misalnya di UIN harus dikembangkan pemikiran-pemikiran berbasis ilmu di masa kejayaan Islam, misalnya Thibun Nabawi (Ibn Qayyim Al Jauzi), Qanun fit thib (Ibn Sina), dan untuk sosiologi dipelajari Kitab Muqaddimah (ibn Khaldun) dan untuk Sains, misalnya Al Kitab Al Mukhtasar fi hisab al Jabar wal Muqabala (Al Khawarizmi) atau Kitab Al Qanun Al Mas’udi (Al Biruni) dan sebagainya.. Harus terdapat distingsi ini agar ada bedanya dengan PTU. Kajian kitab-kitab ini dapat menjadi pembeda di antara lulusan UIN dan PTU. Selain itu juga program internasional misalnya dual degree dan pengiriman dosen ke  luar negeri untuk mengajar atau riset.

  

Ketiga, kepemimpinan masa depan adalah kepemimpinan transformative-spiritual. yaitu kepemimpinan yang diindikatori dengan technical skilled, management and leadership skilled, integrity and spirituality. Pemimpin PTKIN harus memiliki empat skilled ini. Rector harus menguasai teknik agar tahu arah jalan yang akan ditempuh. Harus memahami penganggaran, perencanaan, monitoring dan sebagainya. Juga harus memiliki kemampuan untuk memenej dan memimpin, yaitu kemampuan dalam manajemen kinerja dan kepemimpinan yang berbasis friendly leadership, dan kemampuan spiritual untuk memahami ilmu agama dan pelaku keagamaan yang rahmatan lil alamin.

  

Tiga pemikiran ini  menurut saya sangat penting untuk dikembangkan di tengah pertarungan PT yang semakin kompetitif pada era disruptif, masyarakat digital dan perkembangan TI yang luar biasa cepat.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.