(Sumber : Dokumentasi Penulis)

Prof. Nasaruddin Umar: Antara Ahlu Tha'ah dan Ahlu Ibadah

Opini

Subhanallah. Hanya itu yang patut diutarakan oleh pendengar ceramah Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA, Menteri Agama,  dalam Taushiyah Shubuh Ramadlan di Masjid Al Akbar Surabaya, 07/03/2026. Konten ceramah yang sangat mendasar dan mendalam tentang makna beragama bagi umat Islam sebagai umat Nabi Muhammad SAW. Siapapun yang mendengarkan taushiyah itu “rasanya” diajak kita untuk meniti kehidupan beragama yang penuh dengan rasa cinta di dalam beribadah.

  

Prof. Nasaruddin Umar memberikan gambaran bagaimana beribadahnya Ahlu tha’ah dan Ahlu ibadah dan bahkan Ahlullah. Kebanyakan di antara kita itu beribadah karena patuh atau taat kepada Allah. Ibadah yang dilakukan dalam konteks formalitas ibadah. Asal syarat dan rukun beribadah terpenuhi. Jika kita wudlu juga yang penting sudah memenuhi syarat dan rukun wudlu, jika kita shalat juga yang penting memenuhi syarat dan rukun shalat. Setelah itu terpenuhi maka sahlah shalat itu. 

  

Di dalam wudlu itu ada konsep thaharah. Konsep bersuci itu ada tiga macam, yaitu an nadhofah atau membersihkan secara fisik. Kotoran fisik kita bersihkan. Jika ada najis di badan dibersihkan, jika ada bagian tubuh yang kotor  kita bersihkan. Secara fisikal bersih. Kemudian meningkat menjadi mensucikan hati atau nafsu sering disebut sebagai tazkiyatun nafs atau membersihkan hati atau nafsu dari  segala perlakuan yang kurang atau tidak bersih. Kita introspeksi apakah ada sikap dan tindakan yang kurang atau tidak terpuji, ada sikap dan tindakan yang bertentangan dengan kebaikan. Lalu meningkat ke thaharah. Artinya tidak hanya membersihkan atau menyucikan fisik saja tetapi juga membersihkan hati dan pikiran dan tindakan kita, dan kedua-duanya harus suci. Jadi berwudlu itu tidak hanya membersihkan fisik dan juga tidak hanya membersihkan hati,  akan tetapi membersihkan kedua-duanya. Inilah makna thaharah sebagaimana dimaksudkan oleh Imam Ghazali dalam Ihya ‘ulumiddin. 

  

Mengapa harus mewudlukan muka, tangan  dan kaki. Tiga anggota tubuh itu yang harus dibersihkan atau disucikan. Tiga anggota badan ini yang menjadi pusat saraf yang peka , yaitu di dahi, tangan dan kaki yang dibasuh pada saat wudlu. Baron Omar Rolf von Ehrenfels, antropolog Austria yang masuk Islam karena meneliti wudlu. Di dalam penelitiannya dinyatakan bahwa wudlu memiliki relevansi dengan kesehatan. Tiga area saraf tersebut menjadi simpul untuk menurunkan level Beta ke Alfa. Dari kadar 24 menjadi 12. 

  

Wudlu merupakan syarat penting di dalam beribadah. Jika wudlunya orang yang Ahli tha’at, maka yang penting memenuhi syarat dan rukun wudlu. Selesai sudah. Tetapi bagi Ahli ibadah, apalagi Ahlullah, maka wudlu menjadi medan dialog dengan Tuhan sambil mengungkapkan dan memohon kesucian atas mulut yang sering dipakai bicara kurang tepat, mata yang masih sering melihat kemaksiatan dan telinga yang digunakan untuk mendengar hal-hal yang kurang baik. Semuanya disucikan dengan mewudlukan semua yang berada dan menempal di wajah. Lalu tangan yang sering digunakan untuk melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, misalnya tanda tangan kuitansi yang tidak benar. Tangan itu  juga dibersihkan. Kemudian kaki yang digunakan untuk berjalan bukan pada menjalani kehidupan berbasis ajaran Islam. Jangan berharap orang yang wudlunya tidak sesuai dengan ahli ibadah akan dapat mencapai shalat yang khusyu’. Shalat tidak bisa menjadi medan untuk membersihkan diri dari perbuatan yang jelek karena wudlu kita tidak sesuai dengan standart optimal dalam berwudlu. Jadi wudlunya ahli ibadah akan menghasilkan shalatnya ahli ibadah.

  

Kita harus mengubah pikiran tentang keduniawian menjadi keilahian. Jika kita melihat sesuatu maka hakikatnya adalah Allah. Kita melihat apapun maka yang sesungguhnya tampak adalah Allah. Hakikat Allah itu ada dimana-mana. Kita melihat masjid Al Akbar, maka kelihatan indah. Maka hakikat Masjid itu terdiri dari tanah, besi, dan unsur-unsur lain untuk membentuk masjid ini. Apa hakikatnya, yang paling hebat adalah besi, tetapi besi bisa dikalahkan oleh api, api dikalahkan oleh air dan air dikalahkan oleh uap, uap dan seterusnya dan akhirnya sampai siapa dibalik semuanya itu. Ternyata Allah. Semua adalah satu, satu adalah semua. Di dalam konsepsi tasawuf, maka beribadah jangan hanya di bumi tetapi beribadah itu di langit. Kita yang tertarik ke atas, ke langit. Di atas langit ada langit. Al Hallaj di dalam beribadah sampai pada satu kesatuan wujud. Yang bisa dianggap salah oleh ahli fiqih. Ahli fiqih menghukuminya dianggap sebagai musyrik, maka dibunuh. Tetapi ada kejadian aneh. Orang yang sampai maqam seperti ini tidak takut mati. Baginya  mati adalah cara tercepat untuk kembali kepada Allah SWT. Tetapi bukan mati sia-sia. Mati karena keyakinannya kepada Allah. Kala ditebas lehernya, maka darah yang mengalir di tanah membentuk huruf “la ilaha illallah.” Maka menjadi takutlah para algojo dan orang-orang yang menyaksikan, jangan-jangan Al Hallaj yang benar. 

  

Mati itu kepastian. Dari tanah maka menjadi tumbuh-tumbuhan, dari tumbuh-tumbuhan menjadi hewan, dari hewan menjadi manusia. Ini satu kesatuan rangkaian hidup. Pada masa janin semua terpenuhi atas peran seorang ibu, lalu menjadi bayi di sini terdapat tangisan, kemudian menjadi manusia dewasa, dan kemudian dipastikan akan mati. Orang yang takut mati adalah orang formalis atau Ahlu tha’at dan bukan Ahli ibadah. Bagi Ahlu ibadah dan Ahlullah tidak ada ketakutan akan kematian. Tentu mati yang dipenuhi dengan keyakinan dan ibadah kepada Allah SWT. Allah menyebutkan di dalam Surat Al Hijr: 99, “wa’bud hatta ya’tiyakal yaqin.” Yang maknanya: “beribadahlah kepada Rabbmu hingga engkau wafat.”

  

Di sinilah kita diajari untuk beriman kepada Allah. Kita ini sudah menjadi orang yang beriman, tetapi diminta oleh Allah untuk beriman, sebagaimana dijelaskan di dalam Surat An Nisa’: 136,  yang menyatakan: “Ya ayyuhal ladzina amanu  aminu billahi wa rasulihi. Artinya: “wahai orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan rasulnya”. Inti iman adalah billah dan ma’allah. Kita beriman karena Allah dan bersama Allah. Kita berdoa meminta surga, meminta lailatul qadar. Boleh berdoa seperti itu, tetapi yang justru penting adalah berdoa untuk membersamai Allah. Surga dan lailatul qadar adalah benda, ciptaan Allah, maka berdoa itu untuk yang memiliki keduanya. Jika bulan Ramadlan kita berdoa: “Allahumma inna nas’aluka ridlaka wal Jannah.” Ridlanya Allah dulu dan baru memperoleh surga. Bagi orang yang sudah melampaui Ahlu ibadah dan memasuki Ahlullah, maka yang diminta adalah kebersamaan dengan Allah. 

  

Bulan puasa ini mari kita jadikan sebagai ruang dan waktu untuk naik kelas, thabaqan an thabaq. Naik setahap demi setahap, setapak demi setapak untuk menemukan dan menjadi Ahlu ibadah, sehingga kelak jika kita menghadap Allah, maka kita akan mendapatkan kebaikan dan kerahmatan karena bisa bersama dengan Allah. Menjadi manusia yang billah dan ma’allah.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.