(Sumber : Islami.co)

Menjelajah Perbedaan Pemikiran Filsuf Barat dan Muslim

Riset Sosial

Artikel berjudul “Theory Deconstruction: A Comparative Study of the Views of Western and Muslim Theorists and Philosophers” merupakan karya Ghulam Sarwar Butt dan Ihsan ur Rahman Ghauri. Tulisan ini terbit di Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies tahun 2022. Artikel ini berusaha menganila pandangan para filsuf/pemikir barat dan muslim mengenai teori dekontruksi. Fokusnya pada teori dekonstruksi yang dicetuskan oleh filsuf Plancis bernama Jacques Derrida. Teori ini popular dalam sastra dan filsafat dengan menantang apa yang sudah diyakini mengenai teks dan makna serta fakta bahwa bahasa bukan hanya sebagai pertanda. Artinya, makna sebuah teks, imanen atau transenden tidaklah tetap, mereka labil dan sementara. Terdapat tiga sub bab dalam resume ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, pandangan filsuf barat. Ketiga, sudut pandang teoritis muslim. 

  

Pendahuluan

  

Jacques Derrida merupakan pendukung utama teori sastra dan filsafat revolusioner dan tokoh terkemuka ‘Filsafat Kontinental’. Ia mencetuskan teori dekonstruksi dan mendapat banyak kritik tidak hanya dari para filsuf barat, melainkan filsuf muslim di seluruh dunia. Hal yang perlu dicatat adalah filsafat barat dibagi menjadi dua cabang. Pertama, filsafat analitik yang fokus pada analisis masalah yang lebih kecil secara filosofis dan mengarah untuk menjawab masalah yang lebih besar. Filsafat ini ditandai dengan penekanan akan argumentasi yang jelas menggunakan logika dan matematika. Selain itu, filsafat analitik mengandung kejelasan, ketepatan, dan akurasi. Kedua, filsafat kontinental yang mencakup fenomenologi, hermeneutika, eksistensialisme, pasca strukturlisme, dekonstruksi dan lain sebagainya. Menurut Michaerl Eric Rosen dalam tulisannya berjudul “Continental Phylosophy from Hegel” menjelaskan ciri khas filsafat continental yang membedakan dengan filsafat analitik: (1) menyangkal gagasan bahwa ilmu alam adalah satu-satunya cara untuk menemukan kebenaran/memahami fenomena alam; (2) menghargai ‘historisisme’ yang mempertimbangkan gagasan mengenai waktu, ruang, konteks, sejarah dan budaya; (3) menekankan pada ‘metafilsafat’ yakni studi mengenai hakikat filsafat. 

  

Pandangan Filsuf Barat

  

Terdapat 12 pemikiran filsuf barat yang dijadikan sebagai sampel, sebab mereka melakukan kritik terhadap teori dekonstuksi milik Jacques Derrida. Enam di antaranya adalah sebagai berikut; Pertama, John Searle yakni salah satu filsuf yang sering mengungkapkan keraguan sekaligus kebingungan sehubungan dengan filsafat bahasa Derrida. Secara tegas, John Searle menganggap bahwa teori dekonstruksi sebagai filsafat yang tidak sah dan sia-sia. Bahkan, ia pernah mengatakan bahwa teori dekonstruksi adalah garis pemikiran filsufis yang ‘kecil’. Tidak hanya itu, Searle juga mengkritik gaaya penulisan Derrida yang sulit diterjemahkan.

   

Kedua, Jurgen Habermas yakni seorang filsuf dan sosiolog Jerman yang terkenal karena kritiknya yang berani terhadap posmodernisme. Misalnya, ia pernah berpandangan bahwa para postmodernis termasuk Derrida bersifat ambigu dan tidak pasti mengenai keseriusan teori mereka sendiri. Ia juga mengatakan bahwa kaum postmodernis hidup dengan keyakinan normatif tetapi hakikat ide tetap tersembunyi. Anggapan lainnya adalah sikap totalisasi gagal membuat perbedaan antara fenomena dan praktik yang terjadi dalam masyarakat modern. 

  

Ketiga, Fredric Jameson adalah seorang filsuf dan kritikus sastra Amerika. Ia mengkritik Derrida dengan anggapan bahwa penggunaan bahasa dalam jalan intelektualnya tidak menempati posisi yang semestinya dalam ranah bahasa itu sendiri. Jameson menganggap Derrida menggambarkan gambar bahasa milik kaum utopis untuk membangkitkan sebuah negara dengan definisi yang kurang dalam bahasa itu sendiri. 

  

Keempat, Richard Tarnas adalah filsuf yang terkenal dengan kritik tajamnya pada konsep postmodern utama, seperti gagasan metanarasi, teori dekonstruksi, dan relativisme. Ia menganggap bahwa sikap skeptis postmodernis terhadap semua ideologi dan realitas metafisik telah mempertanyakan mengenai pendirian mereka sendiri. Baginya, tidak ada pandangan dunia postmodern, pardigma postmodern secara inheren subversive dari semua paradigma. 


Baca Juga : Guru Mumu: Pejuang yang Menyemai Iman dan Kemerdekaan di Kalimantan Barat

  

Kelima, Umberto Ecco yakni kritikus sastra, novelis, dan filsuf terkemuka Italia. Ia mengungkapkan keraguannya pada teori dekonstruksi Derrida. Baginya, teori sekonstruksi mengeksploitasi konsep ‘semiosis tak terbatas /unlimites semiosis’. 

  

Keenam, Richard Rorty yang terkenal karena minatnya yang mendalam pada sejarah filsafat dan filsafat analitis masa kini. Ia menunjukkan keraguan dan kebingungan yang mendalam tentang posisi Jacques Derrida dalam filsafat bahasa. Ia menyatakan bahwa Derrida tidak pernah menganggap filsafat seserius Paul De Man, dan tidak membagi bahasa menjadi jenis yang disebut sastra, ata jenis lain layaknya yang dilakukan Paul De Man. 

  

Sudut Pandang Teoritis Muslim

  

Terdapat 12 tokoh filsuf muslim yang mengkritik Derrida, enam di antaranya adalah sebagai berikut; Pertama, Akbar Salahuddin Ahmad yakni seorang penulis drama muslim terkemuka, penyair dan mantan diplomat Pakistan. Saat ini, ia menjabat sebagai Ketua Studi Islam Ibn-e-Khaldun di Universitas Amerika. Ia mengomentari metode posmodernis yang dianggap kacau. Termasuk, metode Derrida yang dianggap terlalu kompleks dan ambigu.

  

Kedua, Ziauddin Sardar yakni seorang tokoh muslim terkenal kelahiran Pakistan. Ia memiliki reputasi sebagai kritikus postmodern yang kuat. Kritiknya yang terkenal adalah anggapannya bahwa postmodernisme adalah perpanjangan dari modernisme bentuk baru kolonialisme barat. 

  

Ketiga, Isa Nuruddin Ahmad yakni mantan Frithjof Shuon asal Swiss. Ia mengkritik pandangan postmodern dan teori dekonstruksi yang menyangkal adanya hubungan antara Tuhan dan manusia. Nuruddin menekankan bahwa Islam adalah pertemuan antara Tuhan dan manusia. Artinya, sebuah definisi hubungan timbal balik antara Tuhan dan makhluk fana. 

  

Keempat, Muhammad Ibrahim Abu Rabi adalah seorang professor Studi Islam di Universitas Alberta, Kanada. Ia menjadi kritikus yang gigih tentang ide landasan makna sebuah teks, masalah inti dengan teori dekonstruksi Jacques Derrida. Ia berpendapat bahwa postmodernisme adalah penolakan terhadap semua jenis konsep teks dasar atau penolakan terhadap sesuatu yang konstruktif atau substantif dan mengklaim adanya realitas ganda yang tak terhidarkan independent satu sama lain. 

  

Kelima, Absul Wahab Elmissiri yakni cendekiawan muslim Mesir dibidang Yudaisme, Zionisme, Modernisme, teori sastra, dan postmodernisme. Ia beranggapan bahwa postmodernisme dan teori dekonstruksi Derrida bermaksud meruntuhkan  dasar makna sebuah teks dan tidak mampu memerikan sistem alternatif bagi modernitas. Rintangannya terletak pada skeptisisme dan nihilism yang melekat pada pemikiran postmodern. 

  

Keenam, Ahmad Nadeem adalah seorang penulis terkenal dengan bukunya yang berjudul “Postmodernism and Islamic Teaching”. Pada buku tersebut, ia mengkritik teori dekonstruksi melalui berbagai sudut pandang. Baginya, teori dekonstruksi melibatkan ambiguitas, kontradiksi dan ketidakjelasan sejauh menyangkut teks dan makna. Teori dekonstruksi seakan berusaha ‘membatalkan’ makna apa pun. Artinya, teori dekonstruksi bukan filsafat kritik, melainkan filsufi nihilism dan sanggahan. 

  

Kesimpulan

  

Artikel ini akan lebih sempurna apabila ada penjelasan sub bab tersendiri mengenai penjelasan detail post-modernisme dan teori dekonstruksi. Alhasil, pembaca akan memahami terlebih dahulu mengenai teori dekonstruksi milik Jacques Derrida. Tentu, dengan begitu pembaca akan lebih kritis dalam mencari hipotesa dan alasan mengapa teori ini banyak menuai kritik dari pada filsuf. Namun, jika ditinjau dari penjelasan artikel secara keseluruhan dapat diketahui bahwa Jacques Derrida melalui teori dekonstruksinya seakan ingin ‘menghancurkan’ semua fondasi intelektual agama dan metafisik yang notabene sudah mapan di masa lalu. Bahkan, seakan ingin menghilangkan keberadaan pencapaian akademis dan kognitif para akademisi dan filsuf sebelumnya.