(Sumber : beritagar.id)

Relasi Perbedaan Gender dan Motivasi Diri

Riset Sosial

Tulisan berjudul “Gender Differences in the Motivational Profile of Undergraduate in Light of Self-Determination Theory: The Case of Online Learning Setting” merupakan karya Aseel Aljouni, Saleh Rawadieh, Abdallah Almahaireh dan Ferial Abu Awwad. Artikel ini terbit di Journal of Social Studies Education Research tahun 2022. Penelitian tersebut berusaha menganalisis terkait peran penting motivasi terhadap pembelajaran, terutama ketika Covid-19 melanda yang menyebabkan perubahan pembelajaran. Studi tersebut mencoba mengklasifikasikan jenis motivasi menurut teori determinasi diri (self-determination theory) di kalangan mahasiswa Yordania dalam lingkungan pembelajaran online selama pandemi Covid-19. Metode penelitian yang dipakai adalah kuantitatif dengan kuesioner berbasis web. Sampel penelitian berasal dari 433 mahasiswa dengan 271 perempuan dan 162 laki-laki dari sekitar 35.000 mahasiswa yang terdaftar dalam pembelajaran online yang ditawarkan oleh University of Jordan. Pengumpulan data dilakukan pada bulan September tahun ajaran 2021-2022 dengan menggunakan skala motivasi akademik. Uji Mann-Whitney U dipilih untuk menguji perbedaan gender dalam tipe motivasi. Terdapat enam sub bab dalam review ini. Pertama, motivasi dan determinasi diri. Kedua, perbedaan gender dalam motivasi pembelajaran online. Ketiga, tingkat motivasi mahasiswa selama pandemi Covid-19. Keempat, perbedaan tingkat determinasi diri menurut gender. Kelima, perbedaan jenis motivasi menurut gender. 

  

Motivasi dan Determinasi Diri  

  

Langkah pertama yang dilakukan oleh peneliti dalam menuliskan hasil penelitiannya adalah menjelaskan beberapa teori yang digunakan terkait dengan motivasi, serta teori determinasi diri dalam kaitannya dengan konteks pembelajaran online. Motivasi merupakan salah satu elemen penting dalam sejarah panjang bidang pendidikan. Hal ini disebabkan motivasi mempengaruhi keberhasilan belajar dan dianggap sebagai prasyarat untuk mengatur pembelajaran. Kurangnya motivasi adalah salah satu tantangan bagi pembelajaran online yang sempat menjadi pilihan, karena situasi pandemi. Imbasnya, prestasi akademik yang semakin menurun. Motivasi pada pembelajaran online dipengaruhi oleh beberapa faktor, yakni lingkungan belajar; kemampuan pelajar; dan keterampilan yang dibutuhkan untuk pembelajaran online. Kemudian, dalam kaitannya dengan gender, Pasion et al dalam tulisannya berjudul “Impact of Covid-19 on Undergraduate Business Students: A Longitudinal Study on Academic Motivation, Engagement, and Attachment to University” menunjukkan bahwa pandemi Covid-19 memiliki dampak yang berbeda pada perempuan dan laki-laki, terutama perannya dalam motivasi akademik.

    

Motivasi dikonseptualisasikan sebagai konstruksi batin yang memimpin, mengubah, atau mempertahankan tujuan, tindakan dan preferensi, sehingga memungkinkan seseorang mencapai tujuannya. Pada kaitannya dengan pendidikan, teori determinasi diri adalah salah satu teori yang memandang bahwa motivasi merupakan konstruksi multidimensi yang sepenuhnya ditentukan sendiri, dan di luar diri. Tindakan yang ditentukan sendiri merupakan tindakan secara suka rela, di mana proses pilihan berada pada dalam diri. Di sisi lain, tindakan di luar diri adalah tindakan yang dikendalikan atau dipaksa oleh sesuatu di luar diri, misalnya aturan atau regulasi. 

  

Perbedaan Gender dalam Motivasi Pembelajaran Online

  

Perempuan dan laki-laki memiliki “pengaturan” pembelajaran online dengan cara berbeda. Hal ini disebabkan oleh pengaruh beberapa faktor yakni prestasi, motivasi, kebiasaan, perilaku komunikasi, pengaturan diri, kepuasan diri dan lain sebagainya. Berdasarkan beberapa penelitian terdahulu yang dituliskan oleh peneliti, perempuan lebih “terkoneksi” dengan pembelajaran online dibandingkan laki-laki. Selain itu, penelitian milik Orsini dkk dengan tulisannya berjudul “Psychometric Validation of the academic Motivation Scale in a Dental Student Sample” menunjukkan bahwa perempuan memiliki lebih banyak tipe motivasi dibandingkan laki-laki. 

   

Tingkat Motivasi Mahasiswa Selama Pandemi Covid-19

  

Berdasarkan perhitungan kuantitatif yang dilakukan oleh peneliti, menunjukkan bahwa para mahasiswa kurang motivasi. Hasil ini dikaitkan dengan pengaruh pandemi Covid-19 dan model pembelajaran yang mempengaruhi psikologis mereka. Mereka harus berhadapan dengan “jarak sosial”, sehingga mereka menjalani pembelajaran kuliah secara online. Alhasil, relasi dengan dosen maupun teman satu kelas hanya terjadi dalam dunia virtual. Keadaan ini sebenarnya menuntut para dosen untuk dapat memfasilitasi mahasiswa  untuk meningkatkan motivasi belajarnya dengan mendukung tiga kebutuhan psikologis dasar melalui praktik yang tepat, yakni mendukung dan memberikan banyak pilihan pembelajaran bagi mahasiswa; memberikan feedback positif; serta mampu mengakomodasi kepentingan mereka. Selain itu, mereka membutuhkan kecakapan digital demi efisiensi pembelajaran online. 


Baca Juga : Islamophobia : Anti Islam atau Anti Muslim?

  

Jenis Motivasi Mahasiswa Selama Pandemi Covid-19

  

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat dua hal yang memotivasi mahasiswa selama pembelajaran online di masa pandemi. Pertama, motivasi utama mahasiswa adalah peraturan universitas, di mana terkait dengan “nilai” yang menjadi tujuan. Mereka meyakini bahwa pendidikan yang ditempuh saat ini memungkinkan untuk mendapatkan pekerjaan seperti keinginan mereka. Fakta ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang diungkapkan oleh Cadete et al dalam tulisannya berjudul “Medical Students’ Academic Motivation: an Analysis From the Perspective of the Theory of Self-Determination”; Omari dkk dalam tulisannya berjudul “Assessing Moroccan University Students’ English Learning Motivation: A Comparative Study”; Ardeyska et al dalam tulisannya berjudul “Validity and Reliability of the Polish Version of the Academic Motivation Scale: A Measure of Intrinsic and Extrinsic Motivation and Amotivation”; Liu dkk dalam tulisannya berjudul “Development and Evaluation of a Chemistry-Specific Version of the Academic Motivation Scale (AMS-Chemistry)”; serta Caleon et al dalam tulisannya berjudul “Cross-Cultural Validation of the Academic Motivation Scale: A Singapore Investigation” bahwa proses pembelajaran atau akademik diatur oleh tuntutan eksternal. Mereka mencoba mendapatkan dan mempertahankan IPK yang tinggi agar memiliki kesempatan mendapatkan pekerjaan dengan gaji tinggi dan bergengsi seperti yang diinginkan. 

  

Kedua, motivasi untuk pembuktian diri. Mereka termotivasi untuk menunjukkan bahwa mereka mampu menyelesaikan pendidikan di tingkat universitas. Alhasil, mereka akan mendapatkan “gelar” sebagai orang yang cerdas. Hal ini sejalan dengan temuan Cadete et al dalam tulisannya berjudul “Medical Students’ Academic Motivation: an Analysis From the Perspective of the Theory of Self-Determination”; serta Liu dkk dalam tulisannya berjudul “Development and Evaluation of a Chemistry-Specific Version of the Academic Motivation Scale (AMS-Chemistry)” bahwa tugas-tugas dalam proses pembelajaran ketika mampu diselesaikan, mereka akan mendapatkan kepuasan dan kesenangan tersendiri. 

  

Perbedaan Tingkat Determinasi Diri Menurut Gender

  

Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan terhadap determinasi diri berdasarkan gender. Perempuan cenderung lebih mandiri dibandingkan dengan laki-laki. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor sosialiasasi, misalnya dalam lingkungan sekolah, keluarga maupun masyarakat. Faktor sosialisasi ini mempengaruhi kepuasan kebutuhan psikologis yang berkaitan dengan kemampuan sekaligus tujuan berbeda dalam membentuk kualitas motivasi mahasiswa. 

  

Perbedaan Jenis Motivasi Menurut Gender

  

Hasil penelitian Aseel Aljouni, Saleh Rawadieh, Abdallah Almahaireh dan Ferial Abu Awwad tersebut menunjukkan terdapat beberapa hal yang berkaitan antara gender dan perbedaan jenis motivasi. Pertama, adanya perbedaan yang signifikan antara mahasiswa perempuan dan laki-laki dalam stimulasi pembelajaran. Mahasiswa perempuan lebih senang ketika belajar dan mengerjakan berbagai tugas. Kedua, adanya perbedaan signifikan tentang keterlibatan dalam pembelajaran. Mahasiswa perempuan lebih aktif terlibat dalam kegiatan pembelajaran, sebab kebanyakan sejak kecil perempuan akan condong diberikan dorongan terkait pentingnya nilai sejak kecil. Ketiga, mahasiswa laki-laki memiliki tingkat motivasi yang lebih rendah daripada perempuan. Hal ini disebabkan mereka juga bekerja karena keadaan ekonomi yang kurang. Alhasil, berimplikasi bagaimana mereka mengerjakan tugas dalam pembelajaran kuliah. 

  

Kesimpulan 

  

Hasil penelitian Aseel Aljouni, Saleh Rawadieh, Abdallah Almahaireh dan Ferial Abu Awwad dituliskan secara runtut dan detail. Sayangnya, penelitian ini tidak menjelaskan pentingnya penelitian ini sejak awal atau dalam latar belakang. Peneliti langsung menjelaskan teori dan konsep yang digunakan dalam penelitian. Selain itu, desain penelitian juga dijelaskan secara runtut termasuk pada uji hepotisa.  Secara garis besar, penelitian tersebut menunjukkan bahwa perbedaan gender menjadi memiliki relasi dengan jenis motivasi. Perempuan lebih banyak memiliki determinasi diri dan motivasi dalam diri yang lebih. Selain itu, penelitian ini menjadi catatan bagi para dosen agar mempu memilih strategi paling tepat untuk meningkatkan determinasi diri dan kualitas motivasi dari dalam diri mahasiswa.