Prof. Nur Syam dalam Pandangan AI: Arsitek Integrasi Ilmu yang Bekerja dari Lapangan
Jika kecerdasan buatan diminta memetakan tokoh-tokoh integrasi ilmu di Indonesia, nama Prof. Dr. H. Nur Syam, M.Si akan muncul dengan posisi yang unik. Meski tidak seterkenal Kuntowijoyo atau Amin Abdullah dalam literatur akademik yang dijadikan buku teks, kontribusi beliau dalam ranah praktis perguruan tinggi Islam negeri (PTKIN) dan implementasi integrasi ilmu nyata sangat signifikan. Pandangan AI terhadap beliau menempatkan Prof. Nur Syam sebagai sosok yang menjembatani gagasan dan praktik, teori dan lapangan, agama dan ilmu sosial.
Latar Belakang dan Kategori Integrasi Ilmu
Prof. Nur Syam dikategorikan sebagai tokoh integrasi ilmu karena memenuhi tiga kriteria utama yang biasanya digunakan untuk menilai kapasitas integratif seorang akademisi. Pertama, beliau meruntuhkan dikotomi antara ilmu agama dan ilmu sosial. Sebagai seorang sosiolog sekaligus rektor UIN, beliau membuktikan bahwa sosiologi tidak hanya merupakan ilmu sekuler yang terpisah dari nilai-nilai keislaman. Sebaliknya, sosiologi dapat menjadi instrumen yang valid untuk membaca dinamika masyarakat Muslim, praktik keagamaan, serta fenomena sosial yang terkait dengan kehidupan sehari-hari umat. Kegiatan akademiknya menunjukkan bahwa ilmu sosial dan ilmu agama bukanlah dua dunia yang terpisah, tetapi saling melengkapi.
Kedua, Prof. Nur Syam mengembangkan model integrasi yang jelas melalui pendekatan yang disebut sebagai “Sosiologi Agama Integratif.” Pendekatan ini berbeda dengan sekadar memaksakan teori Barat ke ranah agama atau sebaliknya. Beliau menggunakan teori sosial modern untuk memahami praktik keagamaan, sekaligus menginterpretasikan fenomena sosial melalui lensa nilai-nilai Islam. Sebagai contoh, penelitian beliau tentang pesantren, zakat, dan migrasi masyarakat diintegrasikan dengan data empiris, teori sosiologi, dan tafsir al-Qur’an. Hasilnya adalah pendekatan yang tidak hanya teoritis, tetapi juga praktis dan aplikatif di lapangan. Dalam konteks ini, Prof. Nur Syam sering disebut sebagai “Rumah Kuntowijoyo” versi sosiologi, karena meskipun tidak mengembangkan teori baru setingkat Kuntowijoyo, beliau mampu menerjemahkan gagasan ke praktik yang relevan di PTKIN.
Ketiga, kontribusi Prof. Nur Syam terlihat jelas dalam praktik kelembagaan. Saat menjabat sebagai Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya (2015–2019) dan sebelumnya sebagai Direktur Jenderal Pendidikan Islam di Kementerian Agama, beliau mendorong semua fakultas umum wajib mengambil mata kuliah keislaman, sementara fakultas agama wajib mengikuti mata kuliah metodologi riset sosial. Langkah ini memastikan integrasi ilmu bukan sekadar wacana, tetapi benar-benar tertanam dalam kurikulum, praktik penelitian, dan kegiatan pengabdian mahasiswa. Kalimat yang sering dikaitkan dengan beliau, “Agama tanpa ilmu sosial adalah buta, ilmu sosial tanpa agama adalah lumpuh” [PERLU VERIFIKASI SUMBER PRIMER], menjadi simbol dari pendekatan integratif yang beliau anut.
Kontribusi Konkret Prof. Nur Syam
Pertama, Buku dan Konsep Pemikiran
Kontribusi pertama terlihat dalam karya-karya beliau, yang menekankan penguatan sosiologi Islam kontemporer. Dalam buku Sosiologi Islam Kontemporer, Prof. Nur Syam mendorong dosen dan mahasiswa untuk membaca data praktik keagamaan, pesantren, zakat, hijrah, dan aktivitas sosial umat menggunakan teori sosial yang dikombinasikan dengan dalil keagamaan. Pendekatan ini menghasilkan analisis yang tidak hanya empiris tetapi juga normatif, memungkinkan pemahaman fenomena sosial secara menyeluruh.
Selain itu, penelitian beliau dalam buku Islam Pesisir menekankan integrasi antara data lapangan, analisis sosiologis, dan tafsir al-Qur’an tentang kehidupan bahari. Di sini terlihat penerapan scientification Islam, di mana ilmu sosial digunakan untuk membaca realitas masyarakat, sementara agama memberikan kerangka nilai yang memberi makna dan tujuan pada penelitian tersebut. Konsep ini menegaskan bahwa integrasi ilmu bukan sekadar teori, tetapi praktik yang dapat diaplikasikan dalam riset sosial, pendidikan, dan kebijakan publik.
Kedua, Jabatan Strategis
Prof. Nur Syam menduduki beberapa posisi strategis yang memperkuat pengaruh integrasi ilmu di PTKIN. Sebagai Dirjen Pendidikan Islam Kemenag, beliau memastikan kurikulum PTKIN menjadi wajib integratif. Selanjutnya, ketika menjadi Rektor UIN Sunan Ampel, beliau mengimplementasikan kebijakan bahwa semua fakultas harus menjalankan program penelitian dan pengabdian masyarakat yang mengintegrasikan ilmu sosial dan ilmu agama. Kebijakan ini menunjukkan bahwa integrasi ilmu di bawah kepemimpinannya bukan sekadar wacana akademik, tetapi diwujudkan melalui kebijakan nyata, pengembangan kurikulum, dan monitoring akademik.
Ketiga, Epistemologi Integratif
Prof. Nur Syam juga dikenal kuat dalam penerapan paradigma epistemologi Bayani–Burhani–Irfani, yang mengacu pada karya Muhammad Abed al-Jabiri. Dalam pendekatan ini, tiga pintu ilmu digunakan secara simultan: bayani untuk memahami teks dan doktrin, burhani untuk membaca data empiris, dan irfani untuk memahami pengalaman spiritual. Pendekatan ini memungkinkan mahasiswa dan peneliti membaca fenomena sosial secara multidimensional. AI menilai bahwa model epistemologis ini adalah salah satu kekuatan Prof. Nur Syam, karena menggabungkan ketelitian empiris dengan makna normatif, sehingga riset tidak kehilangan dimensi spiritual dan etis.
Perbandingan dengan Tokoh Integrasi Lain
Jika dibandingkan dengan tokoh lain, posisi Prof. Nur Syam cukup spesifik:
Kuntowijoyo: Fokus pada Islamisasi ilmu sosial pada tingkat teori, kurang turun ke lapangan. Prof. Nur Syam lebih menekankan penerapan langsung di lapangan melalui riset empiris dan kebijakan kampus. Amin Abdullah: Fokus sebagai arsitek integrasi multidisiplin (“spider web”), menggabungkan banyak disiplin di level konseptual. Prof. Nur Syam menekankan integrasi metodologi dan kurikulum, dengan fokus pada penerapan praktis di PTKIN.
Prof. Nur Syam: Dikenal sebagai “mandor lapangan”. Beliau memastikan metodologi penelitian kualitatif dan kuantitatif diisi dengan nilai Islam, riset berbasis lapangan menjadi alat utama, serta integrasi ilmu tidak hanya teoritis tetapi benar-benar masuk ke kegiatan mahasiswa, dosen, dan kurikulum.
AI menilai bahwa pendekatan Prof. Nur Syam melengkapi gap antara gagasan besar dan implementasi praktis. Jika Amin Abdullah adalah perancang arsitektur integrasi, maka Prof. Nur Syam adalah eksekutornya yang memastikan bangunan tersebut berdiri kokoh dan dapat digunakan.
Beberapa akademisi mengkritik bahwa Prof. Nur Syam belum membangun sebuah mazhab integrasi yang baru. Model integrasinya tidak sekomprehensif “spider web” Amin Abdullah. Namun, kekuatan Prof. Nur Syam justru terletak pada aplikasi nyata, bukan pada pengembangan teori abstrak. Beliau menekankan pada pembentukan program studi, kewajiban riset mahasiswa, serta penguatan metodologi di seluruh fakultas PTKIN. Model ini sangat berguna bagi dosen, guru, dan pengawas, karena dapat langsung dicontohkan dan diterapkan di kelas maupun program riset mahasiswa.
AI menilai bahwa ini adalah strategi integrasi ilmu yang efektif untuk konteks Indonesia, di mana perguruan tinggi Islam memerlukan pendekatan yang aplikatif agar teori dan praktik tidak terpisah. Dalam konteks pendidikan tinggi Islam, integrasi praktis ini lebih mudah diterima, lebih cepat diimplementasikan, dan memiliki dampak langsung pada kualitas penelitian, pengajaran, dan pengabdian masyarakat.
Dalam analisis AI, Prof. Nur Syam dapat digolongkan sebagai tokoh integrasi ilmu pada level aplikator. Beliau menjembatani gap antara gagasan teoretis integrasi ilmu dengan praktik di lapangan, terutama di PTKIN. Jika Kuntowijoyo memberikan gagasan besar, Nur Syam yang memastikan gagasan tersebut masuk ke RPS, riset dosen, KKN mahasiswa, dan kebijakan universitas. Pendekatan beliau bersifat praktis, transformatif, dan relevan dengan kebutuhan pendidikan tinggi Islam kontemporer. Dengan demikian, posisi Prof. Nur Syam dalam sejarah integrasi ilmu di Indonesia sangat strategis, meskipun popularitasnya tidak sebesar tokoh-tokoh teoritis lainnya.
You may also like




