Kiai Shaleh Kelapa Telu Penerus Dakwah Para Wali
Nama “Kelapa Telu” memang tidak lagi terdengar di tengah kehidupan masyarakat pada umumnya, sebab nama ini dianggap hanya nama kenangan masa lalu, dan tidak lagi menarik untuk diperbincangkan. Padahal nama Kelapa Telu adalah nama bersejarah bagi proses islamisasi di wilayah Kabupaten Tuban, khususnya di desa-desa di Kecamatan Merakurak. Bahkan pesantrennya juga masih ada, hanya saja tidak disebut sebagai Pesantren Kelapa Telu. Semenjak Kiai Masyhudi, dan dilanjutkan Kiai Abdus Salam, nama Pesantren Kelapa Telu tidak lagi diperdengarkan. Apalagi pesantren ini juga telah berubah menjadi lembaga pendidikan formal, Pendidikan RA Salafiyah, MI Salafiyah, MTs Salafiyah dan MA Salafiyah. Kiai Abdus Salam dikenal dengan sebutan Mbah Ji Dus. Penerus Kiai Abdus Salam tidak lagi melanjutkan pendidikan sistem pesantren sebagaimana yang lalu, dan lebih memilih sistem pendidikan formal.
Kiai Shaleh merupakan keturunan Nabi Muhammad SAW dari jalur Fathiman binti Rasulullah Muhammad SAW. Tidak diketahui generasi ke berapa sebab catatan tentang beliau memang tidak didapatkan secara pasti. Meskipun terdapat silsilah yang telah dibuat oleh para dzurriyahnya, namun demikian kepastian urutannya memang perlu diuji dengan genealogi keturunan dan tahun-tahun yang relevan dengan tokoh-tokoh yang dibuat silsilahnya.
Melacak Kiai Shaleh Kelapa Telu
Menurut sejarah lisan, bahwa Kiai Shaleh merupakan salah seorang santri yang pernah belajar di Magelang. Baru beberapa bulan di pondok, oleh Kiainya diminta untuk pulang karena sudah diharapkan oleh masyarakatnya. Ketika Kiai Shaleh pulang dibekali dengan kapak, linggis dan kelapa. Sesampainya di tlatah Merakurak, tepatnya di Desa Kapu, beliau berhenti dan menanam kelapa tersebut. Suatu keanehan terjadi, kelapa tersebut akhirnya tumbuh dengan tiga cabang. Berdasarkan atas kejadian tersebut, maka ketika beliau mendirikan sebuah pesantren atau tempat pembelajaran agama Islam, maka nama yang diabadikan adalah Kelapa Telu. Dikenallah oleh masyarakat Pesantren Kelapa Telu, yang berasal dari sebuah pohon kelapa yang bercabang tiga.
Di masa lalu, Desa Kapu, Tahulu dan Mandirejo itu satu kesatuan. Bisa jadi pemisahan itu dilakukan di kala sistem pemerintahan desa sudah dibakukan, sehingga ada pemekaran menjadi tiga desa. Semula adalah satu desa. Hal ini diperkuat dengan keberadaan Pesantren Kelapa Telu yang berada di Dusun Pesantren, yang sekarang menjadi wilayah Desa Mandirejo, sedangkan makam beliau di Desa Kapu. Jadi pembagian wilayah menjadi tiga tersebut kira-kira merupakan hasil pemekaran nama-nama desa secara administratif.
Di Pesantren Kelapa Telu terdapat tiga orang kiai, yaitu Kiai Shaleh, Kiai Shamadi, dan Kiai Arifin. Namun yang sangat terkenal adalah Kiai Shaleh. Hingga sekarang makam yang sering diziarahi oleh masyarakat, baik dari Kecamatan Merakurak, masyarakat Tuban maupun masyarakat Lamongan adalah Kiai Shaleh. Bisa jadi yang menurunkan generasi kiai berikutnya di Merakurak adalah Kiai Shaleh, misalnya yang menjadi Kiai di Kelapa Telu, Dusun Pesantren, sehingga yang lebih banyak dikenal adalah Kiai Shaleh. Namun sesungguhnya, Kiai Arifin juga menurunkan Kiai di Merakurak, misalnya Mbah Kiai Kafrawi, yang pernah menjadi penghulu di Tuban dan Kiai Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama Republik Indonesia ke 2 (1946-1947). Serta, sejumlah kiai dari daerah Sarang Lasem. Di masa lalu, banyak santri dari Lasem yang belajar di Pesantren Kelapa Telu. Namun kebalikannya, di masa akhir-akhir ini, sumber genealogi keilmuaan keislaman justru datang dari Pesantren di Sarang. Banyak tokoh agama yang mengembangkan pendidikan Islam di Merakurak memiliki jalur genealogis keilmuan dengan Pesantren Al Anwar Sarang dan lainnya. Di antara kiai yang sangat terkenal di Sarang adalah Kiai Maimun Zubair. Ulama karismatik di masa Orde Baru dan Orde Reformasi. Beliau meninggal di Makkah al Mukaramah pada musim haji tahun 1440 H atau tahun 2019, yang lalu.
Secara genealogis, Pesantren Kelapa Telu merupakan sumber ilmu keagamaan di Wilayah Merakurak, Tuban, Lamongan dan Jawa Tengah bagian Timur. Bahkan diyakini pesantren yang berdiri di Sarang merupakan pesantren yang memiliki genealogi keilmuan dengan Pesantren Kelapa Telu.
Jika dirunut dari aspek silsilah, maka Pesantren Dahlaniyah di Dusun Gemuntur, Desa Senori Merakurak itu jauh lebih tua, sebab Kiai Shaleh merupakan keturunan dari Kiai Thohir Gemuntur. Berdasarkan silsilahnya, Kiai Thohir atau disebut Mbah Gajah menurunkan Kiai Imron, Bancar atau disebut juga Sunan Gading, lalu menurunkan Kiai Abdul Qadira atau disebut Mbah Diro (Tuwiri Wetan) lalu Kiai Shaleh Kelapa Telu.
Berdasarkan silsilah yang dibuat tidak secara akademis, maka dapat digambarkan bahwa Kiai Shaleh Kelapa Telu merupakan keturunan Nabi Muhammad SAW, dengan silsilah sebagai berikut: dari Nabi Muhammad SAW, ke Sayyidah Fathimah, ke Sayyidina Hussein, ke Sayyid Zaenal Abidin, ke Sayyid Ja’far Shadiq, Ke Sayyid Muhammad Baqir, ke Sayyid Ja’far Shadiq, Ke Sayyid Jumadil Qubra, ke Syekh Muhammad Jawadi, ke Syekh Muhammad Al Hadi, ke Syekh Rofi’i/Syekh Maulana Ishaq al Maghribi, ke Raden Imam Mahdi, ke Syekh Hasan Asy’ari atau Hasan Asykari, ke Kyai Muhammad Al Hadi atau Syekh Seluki, ke Syekh Salam atau Pangeran Dalem Pase’an, ke Kiai Fathurrahman atau Mbah Nggot, ke Kiai Muhammad Thohir atau Mbah Gajah Gemuntur, ke Mbah Sayyid Imron atau Sunan Gading, ke Kiai Abdul Qadira atau Mbah Diro Suruhan, Tuwiri Wetan, Kiai Muhammad Shaleh, Kelapa Telu Kapu, ke Kiai Husen, Prambon Rengel.
Makna Kelapa Telu
Kelapa merupakan jenis tanaman yang banyak ditanam di wilayah pesisiran. Jika kita melihat hamparan pesisir, maka yang terlihat adalah hamparan kelapa. Bahkan kita memiliki lagu “Rayuan Pulau Kepala†yang menandai bahwa pohon kelapa menjadi lambang bagi masyarakat Indonesia, khususnya dataran pesisiran. Indonesia yang memiliki panjang pantai terbesar ke dua setelah Amerika Serikat, memang identik dengan pulau kelapa tersebut.
Pertanyaan dasarnya adalah mengapa bekal yang diberikan oleh Kiai dari Magelang adalah kelapa dan bukan pohon lainnya. Mengapa bibit kepala itu yang diberikan kepadanya dan bukan bibit kelapa yang lain. Ternyata bibit kelapa yang diberikan kepada Kiai Shaleh adalah kelapa yang kelak memiliki sejarah, sebab akhirnya kelapa tersebut bercabang tiga. Selama ini nyaris tidak dijumpai pohon kelapa yang memiliki cabang, sebab kelapa merupakan jenis tanaman yang bercabang tunggal. Adanya kelapa bercabang tiga itu yang menjadi inspirasi Kiai Shaleh untuk menamai pesantrennya dengan sebutan “Kelapa Telu†atau Kelapa Tiga dan bukan tiga kelapa. Jika tiga kelapa maka yang dimaksud adalah pohon kelapa yang berjumlah tiga batang, sedangkan Kelapa Telu, artinya satu pohon kelapa dengan tiga cabang.
Kelapa tiga sebenarnya dunia simbol. Kelapa Telu sebenarnya memberikan makna tentang ajaran Islam yang berpangkal pada tiga aspek, yaitu: akidah, syariah dan akhlak. Ketiganya merupakan satu kesatuan. Jadi batangnya menggambarkan tentang Islam, dengan tiga cabang yaitu akidah, syariah dan akhlak. Melalui pengajaran tiga aspek ini, maka Pesantren Kelapa Telu menjadi pusat pembelajaran ilmu keislaman. Bahkan pengaruhnya sampai di Wilayah Jawa Tengah bagian timur. Relasi genealogis tersebut adalah Pesantren Gemuntur, Pesantren Mbah Diro, Pesantren Kelapa Telu, Pesantren Kiai Imron di Bancar dan kemudian berlanjut di pesantren-pesantren Sarang Lasem Jawa Tengah. Di dalam pengajaran akidah, maka yang diajarkan adalah akidah Islam berdasarkan atas konsepsi Asy’ariyah, di dalam syariah yang diajarkannya adalah ajaran Islam berbasis pada konsepsi mazhab Syafi’i dan dalam akhlak adalah pengamalan ajaran agama yang berbasis pada ajaran tasawuf. Sampai sekarang, ajaran Islam dalam coraknya yang seperti ini yang dilakukan di pesantren di Sarang, maupun di Merakurak. Secara generik bisa disebut sebagai Islam menurut ahli sunnah wal jamaah.
Kiai Shaleh adalah seorang kiai yang merupakan generasi penerus para waliyullah, sehingga dapat dipastikan bahwa yang diajarkannya adalah ajaran agama Islam dalam coraknya yang wasathiyah. Bahkan juga pengajaran Islam dalam corak esoteric (tarekat) juga sangat besar kemungkinannya dilakukan. Di beberapa masjid atau langgar, terutama di saat saya masih remaja, selalu dijumpai pola dzikir sebagaimana yang dilakukan oleh para penganut tarekat, yaitu bacaan la ilaha illallah dengan gerakan kepala yang teratur.
Bahkan pesantren-pesantren di Merakurak, juga berada di dalam coraknya yang wasathiyah. Khusus di pesantren yang dahulu disebut sebagai Pesantren Kelapa Telu, dan sekarang memiliki lembaga pendidikan formal juga berada di dalam konteks pendidikan Islam wasathiyah. Lembaga Pendidikan Salafiyah yang dikembangkannya berada di dalam pengamalan ‘ala ahli sunnah wal jamaah, atau secara lebih khusus bertradisi NU.
Kiai Shaleh merupakan figur Kiai yang menjadi pelanjut ajaran Islam sebagaimana diajarkan oleh para waliyullah generasi sebelumnya. Tentu tidak salah jika dinyatakan bahwa Kiai Shaleh adalah seorang wali penerus dakwah para waliyullah sebelumnya.
Wallahu a’lam bi al shawab.
You may also like


