Sayyid Abdullah, Penyebar Islam di Wilayah Merakurak dan Sekitarnya
Pendahuluan
Meskipun saya bertetangga desa dengan Desa Pongpongan, tetapi saya belum pernah datang ke makam Desa Pongpongan Kecamatan Merakurak, Tuban. Saya sering lewat desa ini. Jarak rumah saya dengan Desa Pongpongan itu dekat sekali, kira-kira hanya 300 meter saja. Dusun Semampir, Desa Sembungrejo, Merakurak, Tuban itu berbatasan langsung dengan Desa Pongpongan, antara Desa Pongpongan dengan Dusun Semampir hanya dibatasi oleh sungai, yang membujur dari selatan ke utara.
Ketika beberapa hari yang lalu saya berziarah ke makam di desa ini, saya terkejut sebab makam Syekh Abdullah ternyata sudah dibangun permanen dengan bangunan yang sangat memadai. Makam Syekh Abdullah ini dibangun pada tanggal 28 Februari 2012 atau 21 Rabi’ul awal 1433 H, bertepatan dengan Hari Selasa Kliwon. Meskipun tidak sebagus makam-makam auliya seperti Sunan Bonang atau Syekh Asmaraqandi, namun bangunan makam tersebut cukup baik. Terbuat dari kayu jati untuk kusenan, reng atau usuknya, maka kelihatan kokoh. Apalagi dindingnya sudah permanen dan lantai yang cukup baik. Sungguh saya terkejut melihat bangunan makam yang baik ini. Bahkan pada tahun 2016 sempat mendapatkan juara harapan untuk pengelolaan makam di Tuban, yang diprakarsai oleh Pemerintah Daerah Tuban. Pembangunan makam ini diprakarasi oleh Pak Handoyo, warga Desa Pongpongan. Di dalam kijing makam terdapat tiga pusara, dan yang tengah adalah Makam Syekh Abdullah, sedangkan di sebelah kiri makam Syekh Kusen dan di sebelah kanan makam Syekh Abdul Qadir. Ketiga pusara ini ditutup dengan kain putih, sehingga tidak terlihat batu nisan makam-makam tersebut.
Saya sempat mewawancarai Mbah Lamijan, mantan Modin Desa Pongpongan dan juga Pak Wiryono yang keduanya dianggap sebagai sesepuh masyarakat di desa Pongpongan. Sayangnya, informasi yang dimiliki oleh keduanya sangat terbatas. Memang sama sekali tidak didapatkan berita apapun tentang Syekh Abdullah ini. Hanya sepotong-sepotong cerita yang sangat sedikit, sehingga sangat sulit untuk merekonstruksinya sebagai sejarah lisan.
Penelusuran Syekh Sayyid Abdullah
Berdasarkan cerita lokal bahwa Mbah Abdullah adalah murid Kanjeng Sunan Bonang. Beliaulah yang diminta oleh Kanjeng Sunan Bonang untuk mencari kayu jati yang dapat dipakai untuk tiang di Masjid Demak. Makanya, Beliau kemudian menebang kayu jati di sebelah selatan desa Pongpongan, yang kemudian dikenal sebagai Desa Koro yang merupakan keratabasa dari “Soko loroâ€. Desa Koro itu berada di selatan Desa Pongpongan, yang secara administratif menjadi bagian dari Desa Pongpongan. Desa Pongpongan terdiri dari dua dusun, yaitu Dusun Koro dan Dusun Pongpongan.
Dinamakan Dusun Pongpongan sebab di dusun ini ditumbuhi dengan Pohon Jati yang sangat lebat dan menjadi wilayah makam Dusun Pongpongan. Kata Pongpongan itu diyakini dari kata “pangpangan†atau ranting-rating kayu jati yang ditanam oleh Sayyid Abdullah, kemudian tumbuh subur menjadi Pohon Jati yang lebat. Jadi antara Koro dan Pongpongan merupakan satu rangkaian istilah. Koro atau Soko Loro adalah tempat Syekh Sayyid Abdullah menebang Pohon Jati, dan kemudian rantingnya ditanam di dusun Pongpongan atau di masa lalu dikenal sebagai pangpangan.
Nama-nama desa di sekitar ini menandai bagaimana Soko Loro tersebut dibawa dari Koro ke Demak. Di sebelah barat ke utara, maka dikenal Desa Glondong, atau wilayah yang menjadi tempat menggelundungkan atau menggelindingkan kayu Soko Loro dan kemudian melewati desa Mliwang, lalu ke laut. Kata Mliwang bisa saja dimaknai pintu menuju laut. Bisa juga dimaknai melewati atau meliwang. Bisa juga di masa lalu, meliwang merupakan bandar laut kecil tempat labuh perahu atau kapal-kapal perdagangan, selain Pelabuhan Tuban. Ketepatan laut di sebelah utara Desa Meliwang adalah laut dalam, sehingga bisa menjadi tempat pelabuhan di masa lalu. Sekarang pantai di sebelah desa Meliwang dijadikan sebagai tempat untuk sandar kapal-kapal besar yang akan mengangkut Semen Gresik di Tuban. Bisa saja kayu-kayu tersebut diangkut ke Demak dengan menggunakan jalur laut.
Kayu jati yang tumbuh di makam Syekh Sayyid Abdullah tersebut pernah ditebang untuk kepentingan membangun masjid di Desa Pongpongan dan juga Balai Desa Pongpongan. Pembangunan masjid tersebut pada tahun 1975, sewaktu Pak Warmuji menjadi kepala desa Pongpongan. Meskipun sudah ditebang tetapi pohon jati ini bisa tumbuh kembali dengan subur, dan sekarang kembali menjadi hutan jati yang lebat.
Konon katanya, ada beberapa kejadian aneh yang dijumpai masyarakat pada saat penebangan jati tersebut. Jika kayu jati itu dibawa ke arah utara membutuhkan sebanyak delapan orang, tetapi jika dibawa ke arah selatan cukup dengan empat orang saja. Lalu, juga pada saat terjadi banjir di sungai sebelah barat makam, maka banjir tersebut bisa membawa kayu dari makam ke wilayah utara. Di dalam benak warga masyarakat bahwa tidak mungkin banjir sekecil itu bisa membawa potongan kayu besar dimaksud.
Saya beruntung karena memperoleh silsilah dari jalur Kiai Gajah Bergola atau Kiai Thahir Gemuntur. Di dalam silsilah tersebut terdapat nama Syekh Abdullah Pongan. Jika silsilah ini bisa diyakini kebenarannya, maka dipastikan bahwa Makam Syekh Abdullah lebih tua dari Makam Syekh Thahir Gemuntur. Jadi ada ikatan kekerabatan antara Syekh Abdullah dengan Syekh Thahir dan beberapa wali di Merakurak, yang dulu dikenal sebagai wilayah Meroki.
Silsilah tersebut adalah sebagai berikut: “silsilah ingkang nurunaken Haji Shaleh bin Abdullah Ilyas Sembung Banaran keluarga saking Kiyahi Pak Inggot Ilyas Abdullah Demang Tengger. Njeng Gusti Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, Dewi Fathimah, Sayyid Husein, Ali Zainal Abidin, Zainal Alim Muhammad Baqir, Zainal Husain Ja’far Shadiq, Zainal Qubra Musa Kazhim, Syekh Jumadil Qubra Ali Ridha, Maulana Ishaq Maghribi Muhammad Jawad, Maulana Agung Ali Al Hadi Sinari, Sunan Langgar Hasan Askari Rembang, Syekh Seluki Muhammad al Hadi, Pangeran Dalem Pasatan, Kiai Pak Nggut Ilyas Abdullah Pongan, Kiai Gajah Berguto Muhammad Thohir Senori, Kiai Toang kang jejuluk kiyahi Pulit Senori, Kiai Demang Sritruna Kang Jejuluk Demang Nafi’, Kiai Jemana Banaran, Nyahi Darminah Banaran, Muhammad Shalihâ€.
Ada dua silsilah yang agak berbeda, sebab berdasarkan catatan silsilah Kiai Shaleh terdapat nama Kiai Pangeran Dalem Pasatan ke Kiai Pak Nggut Ilyas Abdullah Pongan ke Kiai Gajah Bergota, sedangkan satu silsilah lain dari Kiai Abdul Shamad Kepala Telu menyebutkan setelah Kiai Pangeran Dalem Pasatan langsung ke Kiai Gajah Berguto. Naskah silsilah ini tentu bisa diuji kesahihannya. Tetapi jika benar bahwa Kiai Ilyas Abdullah adalah yang menurunkan Kiai Gajah Bergota, maka makam Sayyid Abdullah Pongan ini tentu lebih tua.
Lalu, jika keyakinan masyarakat bahwa Kiai Abdullah adalah murid Kanjeng Sunan Bonang, maka berarti Syekh Abdullah hidup di akhir abad ke 18. Namun kelihatannya, berdasarkan silsilah yang ditemui agak sulit keyakini bahwa Syekh Abdullah tersebut adalah murid Kanjeng Sunan Bonang, sebab jarak antara Kiai Shaleh hanya beberapa keturunan, artinya terjadi ketidakmungkinan Kiai Abdullah adalah murid Sunan Bonang. Sunan Bonang hidup di abad ke 15, sedangkan Syekh Sayyid Abdullah hidup di akhir abad 18.
Dengan demikian, dapat dipahami bahwa kehadiran para waliyullah selalu membawa pesan-pesan simbolik, dan Sayyid Abdullah membawa pesan simbolik kayu jati. Kayu yang di masa lalu menjadi bahan rumah, sebelum digunakan batu bata atau lainnya untuk membuat rumah. Kayu jati diyakini kekuatannya dan kekokohannya.
Makna Dakwah Kiai Abdullah
Syekh Sayyid Abdullah merupakan salah seorang waliyullah generasi ke tiga atau empat pasca Walisongo. Untuk menelisik jejak sejarahnya dipastikan mengalami kesulitan karena terbatasnya sumber informasi. Orang yang paling otoritatif di desa Pongpongan ternyata juga tidak memiliki rekam jejak yang memadai. Sepengetahuan mereka tentang Syekh Sayyid Abdullah sangat minimum jika tidak dinyatakan nyaris tidak ada. Hal ini tentu bisa dipahami sebab jarak yang teramat jauh dan ketiadaan sumber sejarah lisan yang bisa bercerita dengan runtut tentu menjadi penyebabnya.
Untunglah bahwa para waliyullah tersebut memiliki ikatan genealogis dengan lainnya. Mereka kebanyakan berkerabat, sehingga dengan dugaan kekerabatan tersebut, maka dapat dilacak bagaimana relasi antar kerabat tersebut mewujud di dalam silsilah yang ditulis oleh para dzurriyah atau keturunannya.
Berdasarkan sumber silsilah tersebut akhirnya dapat diketahui tentang keberadaan wali di suatu tempat. Dengan mempelajari silsilah yang terkait dengan Syekh Thahir, maka dapat diketahui bahwa Sayyid Abdullah ini adalah salah seorang wali yang menurunkan para wali lain di telatah Merakurak. Syekh Abdullah merupakan generasi yang lebih tua dibandingkan dengan Syekh Thahir atau Mbah Gajah.
Salah satu artefak yang diyakini merupakan peninggalan Syekh Sayyid Abdullah adalah Pohon Jati. Secara sekilas memang jarang terdapat makam yang kemudian ditanami Pohon Jati. Kebanyakan ditanami dengan Pohon Kamboja, terutama yang warna bunganya putih. Pohon Jati ini sangat lebat, padahal pernah ditebang di masa lalu. Pohon Jati yang tumbuh sekarang adalah persemaian dari Pohon Jati yang pernah ditebang tersebut.
Pohon Jati memberikan makna tanaman yang kuat. Kayu Jati tersebut tahan ratusan tahun jika digunakan untuk bangunan rumah. Pohon Jati Jawa tersebut menjadi kebanggaan bagi orang yang membangun rumah di masa lalu. Jika dikaitkan secara semantik, “Tanaman pohon jati kuat untuk membangun rumah.†Secara simbolik ungkapan ini memberikan gambaran bahwa penanaman ajaran Islam kepada umat manusia itu harus kokoh atau kuat sebab dia adalah tempat berteduh dalam panas kehidupan tidak hanya di dunia tetapi juga di akhirat. Bukankah ajaran para wali menyatakan “wenehono omah wong kang kepanasan, wenehono mangan wong kang keluwen, wenehono klambi wong kang kawudanâ€. Inilah yang mendasari prinsip hidup orang Jawa, “Sandang, pangan lan papanâ€
Pengajaran Islam terkait dengan akidah, ibadah dan akhlak itu harus kuat dan akarnya menghunjam ke dalam bumi atau ke dalam hati nurani. Jika digambarkan bahwa tanah adalah asal usul manusia, maka asal usul manusia itu harus menjadi tempat untuk membangun kekuatan di dalam mengamalkan ajaran Islam. Sebenarnya prinsip ini yang diajarkan oleh Syekh Sayyid Abdullah dalam berdakwah.
Beliau menanamkan akidah, ibadah dan akhlak Islam yang tidak bertentangan dengan tempat tumbuhnya tradisi tersebut dan mengisinya dengan substansi ajaran Islam, sebagaimana Syekh Sayyid Abdullah menanam Pohon Jati yang tumbuh subur dan kuat di tanah yang sebelumnya kering kerontang. Hal ini secara simbolik menggambarkan tentang bagaimana menanamkan ajaran Islam yang kemudian bersemi dengan akarnya yang menhunjam di tanah dan batang yang kuat serta daun-daunnya yang lebat. Begitulah cara yang ditempuh dalam menyebarkan ajaran Islam.
Dengan memahami secara simbolik terhadap artefak dan cerita-cerita masyarakat ini, maka bisa digambarkan bahwa Syekh Sayyid Abdullah merupakan seorang wali yang menyebarkan Islam dengan konsep Islam wasathiyah atau Islam rahmatan lil alamin. Islam yang bisa tumbuh di wilayah yang sebelumnya mengamalkan agama yang bercorak paganistic ke ajaran Islam yang secara substansial relevan dengan masyarakat lingkungannya.
Wallahu a’lam bi al shawab.
You may also like



