RUSUH GUNCANG AS
Oleh: Dr. Lukmono Hadi\r
Dosen UPN Yogyakarta\r
God Bless America, adalah lagu yang amat populer di Amerika Serikat (AS). Ada beberapa penggal liriknya yang saya ingat … \r
\r
God bless America, My home sweet home / Let us all gratteful for a land so fair / From the mountain, to the prairies / To the oceans, white with foam / God bless America …. (Tuhan rahmatilah Amerika, Rumahku istanaku / Marilah kita bersyukur akan tanah yang begitu kaya / Dari pegunungan, sampai ke padang rumput / Sampai ke samudera, putih dengan busa / Tuhan rahmatilah Amerika …. ).\r
\r
Saya tak sekedar bermain-main dengan paradoks. Tuhan memberi negeri ini bagian bumi yang maha luas, begitu beragam, malah hampir komplit: ada musim gugur yang cantik, alam yang nyaman di California, kehangatan pantai tropis dengan nyiur melambai di Hawai, suasana kutub yang dingin di Alaska. Bahkan ada padang pasir yang luas, sejumlah gunung berapi, dan hutan dengan beragam pohon ….. Dalam arti tertentu Amerika adalah sebuah dunia tersendiri.\r
Namun ketika di sana orang menyanyi God Bless America, justru karena rahmat itu Amerika tak cukup piawai untuk menghadapi kenyataan: bahwa kesenjangan rasial adalah api dalam sekam.\r
Maka ketika George Floyd, pria kulit hitam ditangkap dan dianiaya polisi kulit putih pada Senin (25/5) dan tewas setelah lehernya ditekan dengan dengkul oleh …. meledaklah kerusuhan rasial maha dahsyat di 140 kota besar di AS. Di beberapa kota, pembakaran properti dan penjarahan pun terjadi. (The Washington Post, dalam KOMPAS, 2/6/2020, hal.1). Menurut Lawrence Jacob, ilmuwan politik di Universitas Minnesota: \”Rasisme telah ada untuk waktu yang lama, warisan kebijakan perbudakan\”. (KOMPAS, idem)\r
Dan tiba-tiba saya coba mengingat lagi. Di tahun 1992, pagi, saya duduk di sebuah kursi di taman kecil di Museum Sejarah Afrika-Amerika, di kota Charleston, di Carolina Selatan, minum kopi dari gelas kertas, dengan teman. Teman saya menyebut museum ini sebagai museum sejarah perbudakan di Amerika. Di sini ada beragam alat penyiksaan orang hitam di Amerika: pasung besi, cambuk, rantai besi, cap besi …. juga ada rumah pertemuan para budak, yang di dindingnya tertulis tulisan wanita pemimpin budak Baby Suggs, \”Di tempat ini, di sini, kita daging, daging yang nangis, ketawa; daging yang menari dengan kaki telanjang di rumput … \”.\r
\”Daging\” yang pernah dirantai perbudakan, dicap seperti ternak, dan dihina dalam apartheid. Daging \”negro\”. Sejarah mencatat, Baby Suggs pun akhirnya harus menanggungkan keberaniannya. Ia digantung sampai mati oleh Ku Klux Klan. Ia wakil 16 juta budak negro yang mati di sebuah \”holocaust\”, yang tak pernah disebut \”holocaust\”. \r
Ternyata, kini, sejarah kelam perbudakan itu, tak menjadikan panggilan adanya sintesis antara si \”hitam\” dan si \”putih\”, seperti yang ditunjukkan oleh sikap rasialisme oleh polisi kulit putih yang berbuntut kematian George Floyd di Minneapolis itu. \r
Di AS kita juga tahu ada orang seperti Jerry Falwell (meninggal tahun 2009 dalam usia 78). Falwell, orang yang bertubuh gemuk dengan bentuk pipi mirip bakpao, banyak ketawa, hangat. Tapi, ia politisi yang membawa berita yang muram. \”Amerika\”, bagi Falwell, adalah negeri orang-orang putih yang diancam negro hitam — sebab itulah ia memusuhi gerakan Martin Luther King yang menuntut hak-hak yang sama bagi si \”negro\”.\r
Saya kira memang itulah yang terjadi di AS. Isu rasialisme menjadi bara dalam sekam yang terus menyala di tengah kesenjangan dan praktik diskriminatif yang dialami warga kulit hitam. Dan paranoia, kecemasan, kebencian melahirkan fundamentalisme. Bukan sebaliknya. Ku Klux Klan dan orang seperti Jerry Falwell tidak lahir dari teks suci apa pun. Ia lahir dengan jiwa yang dirundung rasa tak aman terus menerus pada \”liyan\”, pada yang bukan aku yang berkulit putih.\r
Jerry Falwell. Kini tak ada lagi. Ia telah mati karena usia tua. Saya tak tahu apakah dengan kebencian terhadap kulit hitam, ia bisa masuk surga. Namun Ku Klux Klan masih ada. Setidaknya, di awal tahun1990-an saya beberapa kali menyaksikan mereka setiap tahun berpawai keliling kota merayakan hari ulang tahunnya, di kota kecil Blacksburg tempat saya dulu pernah tinggal …. \r
You may also like

Epistemologi dan Aksiologi Moderasi Beragama

Gelar Karya Professor: Manusia, Agama dan Teknologi


