Almarhum Mbah Sahal Mahfudh Yang Mengejutkan
Oleh: Ahmad Atqo Asyhari,
Mustasyar PCNU Kota Cilegon, Banten
K.H. Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh (biasa dipanggil Mbah Sahal) adalah ulama besar kelahiran 17 Desember 1937 di Desa Kajen Kecamatan Margoyoso Kabupaten Pati. Lokasi Kajen kurang lebih 18 Km ke arah utara pusat Kota Pati. Tidak kurang dari 30 Pondok Pesatren berdiri di desa ini. Oleh sebab itu, desa ini relatif tidak memiliki lahan persawahan karena penuh bangunan pesantren dan lembaga pendidikan madrasah, mulai dari tingkat ibtidaiyah, tsanawiyah, aliyah hingga perguruan tinggi keagamaan Islam swasta.
Mbah Sahal lahir dari keluarga Pesantren yang secara turun temurun mengembangkan ‘genre’ kepesantrenan dengan langgam perlawanan terhadap kemapanan. Dari tubuhnya yang relatif sedang cenderung kecil dan agak kurus serta berpenampilan sederhana, tetapi tersirat kecerdasan dan kewibawaan. Beliau mantan Rais Aam PBNU dari tahun 1999 sampai tahun 2013 juga Mantan Ketua MUI Pusat. Setelah beliau wafat pada tahun 2013, maka jabatan sementara Rais Aam digantikan oleh KH Musthofa Bisri, sementara jabatannya sebagai Ketua MUI Pusat dilanjutkan oleh Pak Din Syamsudin.
Kepengurusan dalam Jamiyah Nahdlatul Ulama sudah beliau geluti sejak masih muda dari tingkat Kecamatan (MWC) hingga cabang (PCNU) Kabupaten Pati sebagai Katib Syuriah di tahun 1970-an. Bahkan perjalanan pengabdiannya berpuncak saat Mbah Sahal menjabat sebagai Rais Aam PBNU.
Sewaktu beliau duduk di kepengurusan PCNU Kabupaten Pati, kebetulan bapak saya (Asyhari Husain) yang menjadi Ketua Tanfidziyahnya. Karena sering ada pertemuan seperti rapat atau silahturahmi ke rumah, maka disaat remaja, saya relatif sering ketemu beliau. Seringkali beliau datang ke rumah untuk berdiskusi (grenengan) dengan bapak saya secara perorangan. Kepada Mbah Sahal, bapak biasa memanggil Gus Sahal.
Bapak saya mengenal Mbah Sahal muda sebagai pemuda cerdas. Bahkan almarhum bapak pernah bercerita kepada saya bahwa beliau memprediksi bahwa kelak Mbah Sahal akan menjadi ulama besar di tingkat nasional. Sekalipun bapak wafat pada tahun 1977, tetapi keakraban keluarga saya dengan Mbah Sahal sekeluarga terjaga baik. Saling kunjung untuk bertukar informasi, berdiskusi mencari solusi jika sedang ada masalah di keluarga beliau maupun keluarga kami, selalu berjalan dengan baik.
Sewaktu masih semester 3 kuliah di Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Malang (1979), saya merasakan ada masalah terkait kegiatan belajar. Saya merasakan begitu sulit belajar dan sering galau. Terkait masalah yang saya rasakan, akhirnya saya adukan ke ibu saat saya pulang ke Pati. Kebetulan pada saat saya pulang, di rumah sedang berlangsung pertemuan pengurus PCNU. Kesempatan itu digunakan oleh ibu menceritakan keluhan saya pada Mbah Sahal. Seketika Mbah Sahal memanggil saya dalam bahasa Jawa, \”Mrene Qo cedhak aku! (kesini Qo, mendekat saya).\” Saya ditanya apa benar yg dikatakan Ibu mu? Sesuai keluhan saya pada ibu, tentu saya membenarkan pertanyaan mBah Sahal itu. Beliau bertanya lagi apakah saya terganggu dengan teman kost? Saya jawab bahwa memang ada teman dari Kediri tiap malam main gitar dan nyanyi-nyanyi tapi saya tidak merasa bahwa itu menjadi gangguan.
Tak puas sampai di situ Mbah Sahal bertanya lagi, \”Rumangsamu apa wis bener caramu sinau? (Memangnya menurut perasaanmu, apakah sudah benar metode belajarmu?)\” Saya jawab bahwa saya rasa metode belajar saya sudah benar, tetapi tetap saja saya merasa sulit fokus pada materi yang sedang saya pelajari. Akhirnya beliau berkata, \”Ooo yen ngono kowe kudu ngadhep psikolog Qo, minta arahan. Nanti setelah di Malang lagi, usahakan berkonsultasi dengan psikolog!.\”
Saya sebenarnya agak terkejut mendengar jawaban Mbah Sahal. Berbeda dengan para kyai yang ditemui oleh ibu saya dengan keluhan yang sama. Hampir semua kyai yang dimintai petunjuk terkait keluhan saya, menganjurkan saya giat berdoa atau diminta mengamalkan sejumlah amalan disertai deretan doa. Bahkan ada yang menyuruh saya meminum air putih yang sudah didoakan.
Keterkejutan saya terutama akibat pemahaman saya terhadap pribadi Kyai Sahal. Saya memahami beliau adalah ulama yang kaya pengetahuan bersumber pada Qur’an dan Hadits. Karenanya, saya sempat menduga bahwa apa yang akan dinasehatkan oleh Mbah Sahal tak berbeda jauh dari kyai lainnya. Ternyata meleset jauh dari yang saya duga, justru beliau mengarahkan saya menghadap psikolog.
Ternyata, Kyai Sahal yang terkesan sangat tradisional dengan banyak menggeluti ilmu keagamaan yang cenderung bersifat metafisika, malah menyarankan saya ke psikolog, yang ilmunya berbasis rasional logis dan cenderung bersifat sekuler, atau bahkan ada yang menghakimi atheis. Kenapa kok tidak menyarankan dengan berbagai doa yang biasa dilakukan kaum tradisional?
Alhamdulillah, setelah melaksanakan petunjuk Mbah Sahal saya merasa bahwa pikiran saya kembali normal. Saya sudah bisa konsentrasi belajar lagi bahkan lebih efektif sekalipun Suko (teman kost) nyanyi teriak-teriak sembari genjrang-genjreng gitar hingga malam menjangkau pagi.
Dari peristiwa tersebut saya bisa menyimpulkan bila Mbah Sahal adalah ulama progresif yang pemikirannya terbuka untuk hal di luar tradisi kepesantrenannya. Beliau tidak ketat terpaku mengatasi masalah dengan basis pemahaman metafisik, tetapi juga menerima metode ilmiah di luar tradisi keagamaannya. Wallahualam
You may also like
Sang Matematikawan
July 26, 2022
Mbah Ri, Sosok Dukun dari Pati
September 28, 2021
“Golek Slamete Dewe”
August 31, 2021

