Ketika Kesalehan Bernegosiasi Dengan Fashion Gen Z
Silfaizatil Aslihah
Mahasiswa Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam UINSA
Perkembangan fashion muslim di kalangan generasi Z sangat menarik untuk diperhatikan. Jika sebelumnya gaya hijab yang banyak terlihat hanya fokus pada bentuk,warna dan kesesuaian wajah, kini muncul kecenderungan pengguna khimar dengan berbagai model, warna, bahan dan gaya. khimar yang dulu banyak dikenal dengan busana keagamaan yang sederhana, kini tidak lagi selalu identik dengan pakaian yang dianggap kuno atau hanya digunakan dalam lingkungan atau kegiatan tertentu akan tetapi hadir dan mengikuti perkembangan model dan selera generasi Z. perubahan tersebut dapat dilihat di berbagai konten fashion muslim di media sosial.
Fenomena tersebut dapat dengan mudah ditemukan dalam berbagai konten fashion muslimah di media social, seperti Tiktok, Instagram, dan youtube tidak hanya menjadi ruang untuk melihat perkembangan mode, akan tetapi menjadi tempat bagi perempuan muda untuk memperlihatkan cara berpakaian, berbagi inspirasi outfit, mendokumentasikan perjalanan hijrah, hingga mempromosikan produk fashion muslim.
Di titik inilah menghadirkan pertanyaan menarik: ketika khimar menjadi bagian dari fashion, apakah maknanya sebagai simbol keagamaan menjadi kurang? Ataukah justru fashion dapat menjadi ruang baru bagi perempuan muslimah untuk mengekspresikan identitas keislamannya?
Menurut saya, kedua hal tersebut tidak harus diperdebatkan.
Khimar: Identitas dan Gaya
Keduanya tidak perlu dipermasalahkan. Khimar dapat menjadi identitas keagamaan sekaligus bagian dari perkembangan fashion. Perubahan tersebut dapat dilihat dari berbagai konten fashion di media social. Gaya turban yang sempat menjadi tren hijab anak muda perlahan bergeser pada model hijab yang lebih Panjang. Khimar pun tidak lagi selalu identik dengan pakaian yang dianggap kuno atau hanya digunakan dalam lingkungan tertentu. Ditangan generasi muda, khimar hadir dengan warna, bahan dan model yang mengikuti perkembangan fashion.
Bagi sebagian perempuan muda, Identitas keagamaan tidak selalu dibentuk melalui ruang-ruang keagamaan konvensional, perubahan dari gaya hijab yang lebih terbuka menuju khimar dapat dimaknai sebagai bahan dari sebuah proses memperbaiki cara berpakaian sesuai dengan pemahaman keagamaanya. Namun, bagi sebagian lainnya datangnya tren khimar menjadi pilihan fashion hijab yang nyaman, anggun, praktis dan sesuai dengan pakaian yang sedang berkembang.
Artinya, pengalaman perempuan dalam mengenakan khimar tidak selalu sama. dibalik sehelai kain yang terlihat sederhana, terdapat pengalaman, pertimbangan, pemahamn agama, lingkungan social dan selera fashion yang berbeda-beda.
Ketika Agama Bertemu dengan Budaya Populer
Tren khimar gen z tidak hanya dipahami hanya sebagai perubahan model pakaian akan tetapi melalui proses negosiasi antara nilai agama dengan perkembangan budaya populer. Gen z berada pada posisi yang menarik yaitu ingin tetap menampilkan identitas sebagai muslimah akan tetapi tidak ingin lepas dari perkembangan fashion dan budaya digital.
Media social menjadi peran penting dalam proses tersebut seperti dalam tiktok, Instagram dan youtube tidak hanya menjadi tempat untuk melihat tren hijab akan tetapi menjadi ruang bagi perempuan muda gen z untuk menunjukkan bagaimana memakai khimar, rekomendasi outfit, konten hijrah hingga promosi produk fashion muslim yang bercampur dalam satu ruang digital.
Perubahan tersebut semakin mudah dan banyak ditemukan di media social terkhusus pada platform tiktok. Planform ini tidak hanya menjadi bagian tempat untuk mengikuti tren akan tetapi menjadi ruang bagi generasi z untuk bereksperimen dengan gaya berpakaian. Khimar yang dulunya diasosiasikan dengan gamis atau abaya kini tampil dengan berbagai kombinasi yang lebih casual. Tidak sedikit konten fashion muslimah yang memperlihatkan khimar dipadukan dengan celana jeans, rok, kemeja, tunik maupun outer.
Platform tiktok berperan penting dalam perkembangan tren tersebut. Melalui video pendek, slide foto pengguna dapat melihat berbagai inspirasi mix and match, tutorial mengenakan khimar, rekomendasi warna, hingga ide outfit of the day. Algoritma media sosial kemudian membuat gaya yang mudah terlihat, ditiru dan dikembangkan oleh pengguna lain. Akibatnya, tren khimar tidak hanya pada produsen fashion dan konsumen akan tetapi hnigga melalui kreativitas konten creator.
Disinilah label “syar’I” dan “fashionable” tidak selalu ditempatkan sebagai dua hal yang berlawanan. Bagi setiap gen z berpakaian tertutup tidak berarti harus selalu menggunakan abaya atau gamis. Mereka dapat menggunakan pakaian yang lebih casual selama tetap berusaha untuk menyesuaikan dengan pemahaman berpakaian yang diyakini.
Ketika Kesalehan Masuk ke Dalam Algoritma
Namun, ada sisi lain yang perlu diperhatikan. ketika khimar semakin popular di media social, ia juga masuk kedalam mekanisme industri fashion dan ekonomi digital. Khimar kemudian tidak hanya berfungsi sebagai pakaian, akan tetapi menjadi simbol tentang bagaimana seseorang dikenali. Ada yang menggunakan dalam bentuk ketaatan dan ada juga menggunakan sebagai identitas sebuah komunitas dan ada pula yang menggabungkannya dengan selera fashion. Berbagai alasan tersebut mnejelaskan bahwa pengalaman perempuan dalam mengenakan khimar tidak selalu sama.
Fenomena tersebut jika dilihat secara kritis. Ketika khimar semakin popular di media social, ia juga masuk kedalam mekanisme digital dan industri fashion. Penampilan yang dianggap menarik, estetis dan lebih mudah mendapatkan perhatian. Khimar kemudian tidak hanya dipasarkan sebagai pakaian keagamaan akan tetapi dipasarkan sebagai bagian dari gaya hidup muslimah modern.
Hal ini tidak selalu menjadi persoalan fashion. Ruang kreativitas dan ekspresi bagi seorang perempuan muslimah. Persoalannya muncul ketika tampilan tertentu mulai dianggap sebagai standar kesalehan. Seolah-olah seseorang yang menggunakan khimar dengan outfit tertentu lebih religious dibandingkan dengan perempuan yang menggunkan model hijab lainnya.
Namun, persoalan muncul ketika tampilan tertentu dianggap sebagai standar kesalehan. Ketika seorang perempuan menggunakan khimar dengan gaya tertentu, misalnya ia dipersepsikan religus dibandingkan perempuan lain yang menggunakan model hijab lainnya. Padahal, penampilan luar tidak secara otomatis dapat digunakan untuk mengukur tingkat kesalehan seseorang.
Disinilah fahion perlu menempatkan secara proposional. Pakaian ataupun hijab memang dapat menjadi bagian dari ekspresi keagamaan. Akan tetapi, bukan satu-satunya ukuran dalam keberagamaan seseorang.
Jangan Menjadikan Fashion Sebagai Alat Menghakimi
Perbedaan gaya berpakaian muslimah gen z justru memperlihatkan keberagaman pengalaman dalam menjadlan identitas agama. Khimar tidak hanya dipadukan dengan abaya, gamis atau rok Panjang. Ada pula yang merasa lebih sesuai dengan memadukannya dengan jeans dan pakaian casual. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa praktik berpakaian muslimah gen z memiliki beragam bentuk.
Perbedaan tersebut tidak semestinya menjadi alas an untuk saling menghakimi
Poin pentingnya adalah tidak menjadikan fashion sebagai alat untuk menghakimi. Khimar bukan ukuran tunggal kesalehan seseorang dan juga jeans tidak otomatis juga menjadi tanda ketidak religiusan. Pakaian perlu dilihat dalam konteks sebuah pilihan, pemahaman dan juga praktik dari keberagaman masing-masing seseorang.
Persoalannya bukan bukan apakah khimar boleh menjadi fashion atau apakah fashion dapat menjadi bagian dari ekspresi keagamaan. Yang paling penting bagaimana seorang muslim memahami nilai yang berada dibalik pihannya tersebut.
Jika khimar digunakan sebagai seseorang muslimah dalam memperbaiki diri, maka dapat menjadi symbol yang memiliki makna religious. Sedangkan jika khimar digunakan hanya untuk ekspresi fashion, maka identitas agama bias hadir dalam bentuj yang dinamis dan beragam.
Dari Tren Menuju Identitas
Khimar tidak hanya hadir bersama abaya saja akan tetapi hadir dengan pakaian casual. Ia dapat menjadi simbol identitas keislaman sekaligus bagian dari kreativitas fashion. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa generasi muda tidak hanya mnejadi konsumen fashion. Mereeka juga menjadi actor yang menciptakan, memodifikasi dan mneyebarkan gaya berpakaian melalui media social.
Oleh karena itu, menarik jika melihat perkembangan ini bukan hanya sekadar sebagai pergantian tren dari yang dulunya turban menuju khimar, akan tetapi sebagai proses negoisasi generasi muda dalam menemukan bentuk keberagaman yang mereka anggap sesuai dengan identitas dan kehidupan sehari-hari.
Khimar tidak hanya menjadi fashion, khimar juga menjadi identitas, khimar juga menjadi jalan menuju perjalanan kesalehan. Akan tetapi pada akhirnya, kesalehan tidak dapat diukur hanya dari panjang pendeknya kain atau seberapa menarik sebuah outfit ditampilkan di media social. Karena kesalehan juga berbicara tentang bagaimana nilai agama hadir dalam sikap, perkataan dan perilaku sehari hari.
Barangkali, inilah wajah baru kesalehan gen z: bukan sekedar tentang apa yang dikenakan, akan tetapi bagaimana nilai yang diyakini diwujudkan dalam kehidupan.
You may also like




