(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Belajar Menyayangi

Daras Akhlak

Nasha'il 'Ibad merupakan satu dari satu dari sekian kitab populer yang dikaji oleh umat Islam di Indonesia. Terbukti, kitab ini tidak hanya dikaji di pesantren atau mereka yang sering disebut sebagai kaum sarungan. Di masjid-masjid perkotaan pun kajian kitab ini juga tidak kalah eksisnya. Intensnya para kiai, dai, mubaligh, atau ustadz mengutip dari kitab ini, membuat namanya begitu familier di telinga umat, menyandingi nama-nama kitab populer yang lain seperti Araba'in Nawawi, Riyadhus Shalihin, Tafsir Jalalain, dan lain sebagainya.

 

Jika dilihat dari sisi “asal-muasalnya”, sebenarnya kitab yang ditulis oleh al-Syekh Nawawi al-Bantani ini adalah penjelas ( syarah ) dari kitab induk karangan al-Hafidz Ibnu Hajar al-'Asqalani. Judulnya, al-Isti'dad li Yaum al-Ma'ad (Persiapan Menuju Hari Kiamat). Sesuai dengan namanya, dalam kitab itu Ibnu Hajar menuliskan petunjuk-petunjuk atau nasehat-nasehat yang penting untuk diingat, dipelajari, dipahami, diamalkan, dan dijadikan pedoman oleh setiap muslim dalam upaya meningkatkan kualitas keberagamaannya. Tujuannya jelas: agar kelak di Hari Kiamat tidak termasuk golongan orang-orang yang merugi, penyesalannya tidak lagi berarti.

 

Menariknya, sebelum menjelaskan kalimat-kalimat yang ditulis oleh al-Hafidz Ibnu Hajar itu, al-Syekh Nawawi terlebih dahulu menukilkan dua hadis yang beliau dapatkan ijazahnya dari guru-gurunya. “Ingin tabarrukan dengan dua hadis tersebut,” kata beliau. Nah, salah satu dari dua hadis itulah yang hendak kita kaji bersama pada tulisan ini. Bunyinya, “al-Rahimun yarhamuhum al-Rahman, irhamu man fi al-ardh, yarhamukum man fi al-sama'.” Bila diterjemahkan, sekurang-kurangnya begini, “Hamba-hamba yang mengasihi-menyayangi makhluk Allah itu akan disayangi oleh Yang Maha Pengasih. Kasih-sayangilah makhluk yang ada di bumi, niscaya kalian akan dikasih-sayangi oleh yang ada di langit.

  

Terlepas dari perbedaan riwayat dan makna seputar beberapa kosakata, setidaknya ada dua hal yang penting untuk kita belajar dari hadis tersebut:

 

Pertama , meluaskan cakupan objek kasih sayang. Hal ini mengingat redaksi hadis di atas menggunakan redaksi man fi al-ardh (“makhluk” yang ada di bumi), yang dengan sendirinya menghimpun aneka macam makhluk yang ada di sana. Bahwa objek kasih sayang kita seharusnya bukan hanya tertuju pada istri/suami, putra-putri, sanak famili atau kerabat dekat saja, tapi juga teman, sahabat, tetangga dan orang-orang yang tidak kita kenal lainnya (“asing”). Hematnya, tertuju pada seluruh manusia, tanpa memandang suku, ras, bangsa maupun agamanya. Bahkan, mengarahkan pula pada hewan, tumbuhan, dan lingkungan di sekitar kita.

 

Tentu saja ekspresi kasih sayang itu bisa bermacam-macam. Dalam konteks interaksi dengan manusia misalnya, ambil contoh menampilkan wajah yang ceria-menyenangkan; peduli terhadap masalah orang lain; meninggalkan prasangka buruk, lebih-lebih mengklaim buruk, padahal duduk perkaranya belum benar-benar jelas; memahami atau memaklumi “kesalahan” orang lain; menurunkan ego; dan lain sebagainya. Memang dalam situasi tertentu beberapa ekspresi kasih sayang sangat sulit dilakukan, tetapi apa ruginya bila kita belajar berkasih sayang?

 

Pun demikian dengan hewan dan tumbuhan, banyak ekspresi kasih sayang yang bisa kita wujudkan. Sebagai contoh yang diekspresikan oleh Imam al-Ghazali, sebagaimana yang diceritakan oleh al-Syekh Nawawi al-Bantani selesai mengutip hadis di atas. Bahwa ada orang saleh yang bermimpi perihal keadaan sang imam yang bergelar Hujjat al-Islam itu pasca beliau meninggal dunia. Apa yang Allah lakukan kepadamu?. Sang imam menjawab, “ Dia menghadapkanku di sisi-Nya, dan berfirman, 'Dengan amal apa engkau menghadapku? .' Maka aku pun menyebut amal-amal saleh yang telah kulakukan (selama di dunia). Ternyata Dia menjawab,'Aku tak menerima semua itu. Amal yang Ku terima darimu hanyalah sebuah amal yang engkau lakukan pada suatu hari, di mana ada seekor lalat yang menghinggapi tinta penamu, agar lalat itu bisa meminum. Padahal waktu itu engkau sedang menulis, tapi engkau membiarkannya minum hingga kenyang karena rasa sayangmu kepadanya .' Kemudian Dia berfirman, ' Antarkanlah hambaku ini ke surga .'”

  

Cerita di atas mengingatkan kita, betapa ekspresi kasih sayang kepada hewan yang sering kali dianggap sepele itu juga dinilai sebagai bentuk ibadah. Bahkan boleh jadi tingkat diterimanya (ke- maqbul- annya) lebih tinggi daripada ibadah mahdlah seperti salat, puasa, membaca Al-Qur'an dan lain sebagainya; karena yang disebutkan terakhir ini rentan terhadap penyakit yang merusak seperti riya', ujub, dan semisalnya. Oleh karena itu, sudah sewajarnya kita juga menebarkan rasa kasih sayang ini kepada mereka; hewan dan tumbuhan di sekitar kita. Bukan malah sebaliknya, misalnya, memasang paku di batang pohon untuk memasang spanduk dan semacamnya. Bukankah itu bentuk “kezaliman”? Bila memang diperlukan, tidakkah cukup mengikatnya dengan seutas tali?

  

Kedua , memandang dengan pandangan kasih sayang. Bila ekspresi poin pertama terlihat jelas/nyata, maka ekspresi poin ini lebih bersifat samar, hanya masing-masing dari kita yang mampu merasakannya. Poin ini berangkat dari sebuah hadis yang mengisyaratkan bahwa di antara sunnatullah yang berlaku di bumi ini adalah terjadinya penyakit yang disebabkan oleh beberapa pandangan mata. Salah satunya, hadis yang berbunyi, “ Wa al-'ain haqq(un) .” Oleh karena itu, literatur keislaman yang menjelaskan hal ini biasanya menyebutnya dengan penyakit ' ain , yakni penyakit yang diakibatkan oleh pandangan mata.

  

Secara global dapat dikatakan bahwa ada 3 macam pandangan “berbahaya” yang patut kita waspadai, jangan sampai kita layangkan kepada orang lain, siapa pun itu. Karena dampak negatifnya bukan saja bisa tersampaikan kepada yang dipandang, tetapi boleh jadi juga kembali kepada yang memandang. Ketiga macam pandangan itu adalah pandangan benci (ghill), hasud dan takjub; yang tanpa disertai dengan mengingat Allah SWT. Pandangan ketiga ini bisa berdampak negatif bagi yang dipandang dan atau yang memandang, bila tidak disertai dengan mengingat Allah.

  

Alasannya cukup sederhana. Orang yang sedang membenci sesuatu atau seseorang misalnya, bila disertai dengan mengingat Allah, maka kebenciannya akan diarahkan ke hal-hal positif atau bahkan malah terkikis habis. Ia akan membenci akhlak buruknya, bukan ke personalnya, sehingga kebenciannya tidak sampai mengantarkannya berlaku buruk, mencela, atau menggunjing. Pun demikian dengan orang yang hasud, tidak akan larut dalam kehasudannya. Orang yang takjub --terhadap apa dan siapa pun-- akan benar-benar sadar bahwa semua yang terjadi di alam raya ini berdasarkan qudrah, iradah dan tadbir-Nya; sehingga rasa itu justru menjadi instrumen dalam mengingat-Nya.

  

Sumber Rujukan

  

Muhammad Nawawib. 'Umar al-Jawi, Syarah Nasha'il al-'Ibad (Jeddah: al-Haramain, 2005), 4-5.

  

Tentang hadis-hadis 'ain ini, baca lebih lanjut 'Abd al-Ra'uf al-Munawiy, Faydh al-Qadir Syarah al-Jami' al-Shaghir (Beirut: Dar al-Ma'rifah, 1972), Vol. 4, 396-398.