Klaim Agama yang Dikhawatirkan
InformasiGaungan kalimat 'Ukhuwah Islamiyah' atau persaudaraan sesama umat muslim di media sosial belakangan ini terus berkembang. Sayangnya kenyataan yang terjadi di media sosial justru sebaliknya. Bukan lagi menjadi media sosial, melainkan media konflik massal. Terlihat kerap membanjir di media sosial khususnya twitter, seperti ujaran kebencian, mencaci-maki, memfitnah, mendiskriminasi, dan semacamnya yang dilemparkan, baik antar sesama umat beragama maupun berbeda agama.
Menguatkan tali persaudaraan baik antar sesama umat beragama ataupun berbeda agama dapat dimulai dengan perilaku senang menerbar sikap toleransi beragama. Demikian yang disampaikan oleh Dr. Sa'dullah Affandy, toleransi adalah tentang menciptakan tali persaudaraan baik dalam perbedaan agama dan suku. Sudah semestinya antar beda agama dan suku dapat saling memahami.
"Berarti mencoba untuk menemukan titik temu bukan justru titik perbedaannya. Dengan saling memahami perbedaan yang ada bukan hanya sekedar saling mengetahui," ujar penulis buku 'Menyoal Status Agama-Agama Pra-Islam' dalam acara Seminar dan Bedah Buku, (25/04).
Sa'dullah kembali menyampaikan bahwa sesungguhnya semua agama memiliki kesempurnaan karena dalam setiap agama menyimpan serta membawa visi dan misi Ilahiah yang berkenaan dengan pencapain kesempurnaan manusia, baik secara individu maupun sosial. Ia jua mengatakan bahwa setiap agama sama-sama mengajak pemeluknya menuju tingkatan kualitas yang lebih tinggi dan bebas dari keterperosokan.
"Jadi semua agama mempunyai kekuatan transformatif sebagai bentuk pengejawantahan dari misi profetis yang memang tersimpan lekat dalam eksistensi agama," ucapnya
Ekstra Komunitas
Menyoal agama-agama, Prof. Dr. Nur Syam pun menjelaskan bahwa sesungguhnya setiap agama mempunyai doktrin keselamatan. Sebab menurutnya, jika agama tak memiliki doktrin keselamatan maka tentu tak dapat dikatakan agama. Kata Nur Syam, yang berbeda hanya tentang cara bagaimana setiap agama mendapatkan keselamatan tersebut.
"Doktrin syurga dan neraka dimiliki semua agama. Setiap agama juga diyakini oleh setiap pemeluk agamanya. Demikian ada klaim dari pemeluk agama bahwa agama yang dianutnya paling benar. Harus begitu. Maka itu yang disebut agama. Jika tidak begitu ya bukan agama," jelasnya.
Berbicara tentang klaim agama yang paling benar, Nur Syam menegaskan bahwa masing-masing pemeluk agama wajar jika menyatakan agamanya paling benar. Hanya saja keyakinan terhadap agamanya yang paling benar hanya berlaku secara personal dan komunitas saja. Misalnya, masyarakat Islam meyakini bahwa agama Islam benar. Sedangkan, yang secara tegas tak diperbolehkan bagi masing-masing pemeluk agama, yaitu merasa agamanya paling benar dan sekaligus mengajak orang banyak untuk masuk dan mengikuti ajaran agama yang dianutnya.
"Tidak berlaku ekstra komunitas, dalam artian memperluas dengan mengajak banyak orang menjadi Islamis atau Katolik. Sebab ini yang menjadi awal mula munculnya konflik," tegasnya.
Konflik Sosial
Lebih lanjut Nur Syam menyampaikan bahwa sesungguhnya agama mempunyai dimensi keteraturan sosial dan perubahan sosial. Sedang, yang ia khawatirkan olehnya, yaitu terjadinya konflik disebabkan oleh adanya penyebarluasan doktrin keyakinan tertentu sekaligus mengajak orang lain untuk mengikuti ajaran agama tertentu tersebut.
"Agama itu benar bagi pemeluknya. Jangan memaksakan yang lain untuk benar. Sebagaimana yang sering saya kutip penjelasan dari Hasim Muzadi di berbagai kesempatan, yaitu yang sama jangan dibedakan, yang beda jangan disamakan. Ini prinsip etika agama," pungkasnya.
Acara ini diselenggarakan oleh Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF) UIN Sunan Ampel Surabaya Via Meeting Online Zoom. Turut hadir kalangan civitas akademika, yaitu Prof. Masdar Hilmy Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya sebagai Keynote Speaker, Dr. H. Kunawi Basyir Dekan Fakultas USuluddin dan Filsafat sebagai pemberi sambutan. Demikian turut mengundang beberapa narasumber, yaitu Dr. KH Sa'dullah Affandy Penulis Buku 'Menyoal Status Agama-Agama Pra Islam', Dr KH. Abdul Ghofur Maimoen, MA Ketua STAI Al-Anwar Sarang dan Pengasuh PP Al-Anwar 3, Prof. Dr. Nur Syam Guru Besar Sosiologi UIN Sunan Ampel Surabaya, dan juga Dr. Suhermanto Ja'far Wakil Dekan I FUF UIN Sunan Ampel Surabaya sebagai moderator. (Nin)

