Kajian Kitab Taisirul Khollaq
Daras AkhlakAkhlak : Perilaku Batin Yang Otomatis
“Segala puji bagi Allah Yang Maha Mulia Lagi Maha Pencipta, serta rahmat dan sejahtera kepada Penghulu kita Nabi Muhammad SAW yang diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia. Selain itu, salam sejahtera juga untuk keluarga dan sahabat baginda, yang selama mengalirnya pena dalam meringkas dan menjelaskan di lembaran-lembaran kertas akan terus mengalir”
Ada yang menarik dari sholawat yang mushannif (pengarang kitab) tuliskan. Beliau mengucapkan sholawat kepada Nabi Muhammad SWA “selama mengalirnya pena dalam meringkas dan menjelaskan di lembaran-lembaran kertas”. Artinya, sholawat tersebut dituliskan beliau dengan berharap keberkahan sholawat tersebut terus mengalir kepadanya selama masih ada pena dan kertas yang digunakan menguraikan Ilmu Allah.
Kitab yang berjudul “Taisirul Al-Khallaq Fi Ilmi Al-Akhlaq” merupakan karya Hafid Hasan Al-Mas’udi. Dalam muqoddimahnya, beliau menjelaskan bahwa kitab ini merupakan ringkasan kitab Ilmu Akhlaq Diniyah yang diajarkan untuk para pelajar tahun pertama di Al-Azhar. “Taisirul Khallak Fi Ilmi Al-Akhlaq” berarti cara mudah berakhlak di dalam ilmu akhlak. Hafid Mas’udi juga berkata: “Dan dengan Allah permohonan penjagaan, dan dengan KekuasaanNya kesempurnaan nikmat”.
Artinya, mushonnif berharap bahwa “dengan Allah permohonan penjagaan” dalam lafadz “wa billahi al-‘ishmah”, maksudnya adalah bisyariatillah, bil imani ilallah, bittaufiqillah, bi ‘aunillah, (syariat Allah, iman kepada Allah, dan taufiq dari Allah, serta dengan ‘inayah Allah) segala harapan atas penjagaan disandarkan. Selain itu, dengan kekuasaan Allah Dzat yang Maha Menyempurnakan saja segala nikmat tersempurnakan kepada hamba-hambaNya. Allah itu pemberi nikmat, tapi Rasullah saw yang membagikan nikmat. Rasulullah juga punya julukan “Al-Qashim”, julukan inilah yang berarti pembagi nikmat.
Ilmu Akhlak
“Ilmu Akhlak secara terminologis berarti ilmu yang menjelaskan kaidah-kaidah tentang baik/bagusnya hati (Sholahul Qalbi) dan semua anggota badan (hissi).” Sholahul Qolbi maknanya kepatutan hati dan kepatutan perilaku. Sinergitas ilmu dengan amal. Ilmu yang amaliyah, dan amal yang ilmiah. Ilmu akhlak merujuk pada cara mengelola setiap gerak batin (rasa dan pikiran) yang ada dalam diri manusia. Ukuran kepantasan/kepatutan ini berdasarkan ilmu dan amal, baik secara lahir maupun batin. Misalnya dalam hal ibadah, ibadah itu bukan hanya perilaku lahir tapi yang utama menyangkut perilaku batin. Oleh sebab itu, ruhnya ibadah adalah ikhlas. Ikhlas inilah yang disebut akhlak.
Sholahul Qolbi juga berarti perilaku baik lahir maupun batin yang harus selaras dengan ilmu yang dimilikinya. Ada pendapat yang menyatakan, “Siapa yang mengamalkan ilmunya berarti itu orang Sholeh”. Misalnya, agama mengajarkan untuk mencintai sesama dan kita tahu itu, sehingga kita tidak boleh mencela dan menghina siapa pun. Jika kita masih sering menghina orang berarti perilaku kita tidak selaras dengan ilmu yang kita ketahui, itu artinya kita masih belum Sholahul Qolbi.
“Pokok pembahasan atau tema pembahasan dalam ilmu akhlak adalah membahas budi pekerti dari segi Tahalli (menghiasi diri dengan akhlak baik), Takhalli (mengosongkan diri dari akhlak yang buruk, berhias dengan berbagai kebaikan mengosongkan keburukan. Sedangkan, buah dari ilmu akhlak adalah baiknya hati, seluruh tingkah lahir di dunia, dan sukses mendapatkan tempat yang mulia di dunia dan akhirat.”
Ada perbedaan antara akhlak dengan adab. Akhlak merupakan tingkah laku batin yang keluar tanpa pertimbangan pemikiran, tanpa kalkulasi akal, bergerak secara otomatis. Oleh sebab itu, ada akhlak baik dan buruk. Namun, jika masih ada kalkulasi akal, berarti masih belum termasuk ke dalam akhlak. Sedangkan, adab merupakan tingkah laku lahir. Adab ditentukan oleh akhlak dan akhlak menentukan perilaku adab. Adab yang sudah mendarah daging akhirnya akan menjadi akhlak.
Misalnya, ketika kita dihina oleh orang lain, lalu secara otomatis kita merasa marah, sakit hati, dan merasa dendam, tapi kita tidak membalasnya. Hal tersebut merupakan pertanda bahwa akhlak kita masih belum baik, tapi adab sudah baik. Namun, jika kita langsung membalas dengan hinaan yang serupa bahkan lebih parah pada saat itu juga, berarti akhlak sekaligus adab kita juga belum baik. Hal ini dikarenakan menghina merupakan perbuatan tercela, dalam setiap kata penghinaan ada gerak dalam batin kita merasa mulia, merasa lebih mulia dari orang lain, perasaan ini bisa masuk kategori takabbur.
Sebelumnya juga dijelaskan tentang Tahalli dan Takhalli. Tahalli artinya menghiasi diri kita dengan akhlak yang baik. Artinya, kita harus mengisi batin kita dengan akhlak-akhlak terpuji, seperti sabar, syukur, tawaddu’, qona'ah, dan sebagainya. Sedangkan, Takhalli artinya mengosongkan batin kita dari akhlak yang buruk seperti sombong, riya’, sum’ah, hasud, dan lain sebagainya.
Baik Tahalli ataupun Takhalli mengharuskan kita untuk melatihnya secara intens tahap demi tahap. Tahalli bisa kita latih mulai dengan memperbanyak baca sholawat. Baca sholawat itu juga bermakna ittiba’ kepada Rasulullah, berharap dapat meniru akhlak Rasulullah. Sedangkan, Takhalli bisa kita latih dengan mulai memperbanyak membaca istighfar/tobat. Istighfar ini juga harus mewujud dalam kehidupan kita, bukan hanya sekedar membaca tapi juga berupaya sekuat tenaga untuk mengurangi dosa-dosa kita. Selain itu, sering meminta maaf kepada orang lain dan memberikan maaf pada siapa pun yang bersalah kepada kita juga dapat mengurangi dosa. Meminta maaf itu bisa meredakan kesombongan, dan memberi maaf itu juga bisa meredakan keangkuhan kita. Meminta dan memberi maaf itu menunjukkan bahwa kita makhluk yang selalu sadar akan kelemahan dan kekurangan diri kita serta menyadari kelebihan orang lain.
Wallau’allam.
*Daras kitab ini disampaikan oleh Dr. Chabib Musthofa, M.Si.

